
"Nak Arthur, kamu punya Tamu."
"Tamu...?"
Hah?! Tamu? Aku tidak pernah membuat jadwal bertemu dengan seseorang.
"Iya, dia mencarimu Nak Arthur. Dia sekarang sedang menunggu di sana," ucap paman sambil menunjuk ke pojok ruangan.
Aku mengikuti arah tunjukannya.
Di sana terdapat seorang yang mengunakan semacam... jubah? agak kegelapan. Aku tak dapat melihat wajahnya dengan jelas karena tudung jubahnya menutup wajahnya yang sedang menunduk.
Siapa lagi orang ini....
"Baiklah, terima kasih, Paman."
Aku mulai berjalan ke arah orang yang ditunjuk oleh paman dengan penuh rasa penasaran dengan identitasnya.
Semakin dekat aku dengan mejanya, semakin menyadari bahwa tinggi tubuhnya tidak seperti yang kubayangkan.
Karena suara langkah kakiku yang sengaja kukeraskan... Dia menyadarinya dan mulai menaikkan wajahnya.
Dan lama-kelamaan tudung jubahnya terangkat dan jatuh ke arah belakang kepalanya.
Memunculkan wajah yang sangat tidak asing dariku.
"Arthur... Aku sudah lama menunggumu," ucapnya dengan wajah sebal.
Wajah seorang gadis kecil yang manis dengan kacamata khas yang dia pakai jika sedang menyamar.
"Evelyn?!"
"Iya, ini aku."
Evelyn sedang duduk di kursi kayu di dekat meja dengan pose kaki kirinya di belakang kaki kanan. Itu mengartikan memang benar bahwa dia menunggu sudah sangat lama.
"Untuk apa kamu ke sini? Dan lagi pula aku tak ingat kita mempunyai janji," ucapku sambil masih berdiri di dekatnya.
"Ya... Ada beberapa kejadian yang membuatku ke sini. Daripada itu, apakah kamu selalu bangun sesiang ini?"
"Aku tidak bangun sesiang ini! Hari ini aku secara tak sadar bangun terlambat karena hari kemarin yang sangat melelahkan. Aku harus menetap di pos keamanan hampir seharian penuh," ucapku sambil menatap ke arah Evelyn.
"Itu bukan salahku. Kamu yang membolehkanku untuk pulang lebih dahulu saat itu," ucap Evelyn membela diri.
Benar memang aku yang mengisyaratkan Evelyn agar pulang lebih dahulu.
"Saat itu aku tidak tahu akan menjadi serumit itu. Huh... Terus, kenapa kamu di sini?" ucapku mengganti topik.
"Aku ingin agar kamu menemaniku untuk mencari kostum."
Setelah mendengar alasannya, aku mulai perlahan mundur dan memutar tubuhku ke belakang seperti sedang menolaknya dengan halus.
Tak akan kubiarkan dia ikut merusak hariku!
Menyadari hal itu, aku bisa mendengar Evelyn bangkit dari kursinya dan menahan lenganku.
"Arthur! Jangan pergi! Temani aku mencari kostum!"
"Hah!? Kenapa harus aku? Bukankah ada Ms.Ariadna?"
"Awalnya seharusnya aku pergi dengan Ariadna tapi tiba-tiba dia memiliki jadwal yang sangat penting bagi kelangsungan karirku... Jadi sekarang dia sibuk mengurusnya."
"Bagaimana dengan orang-orang di team-mu?"
__ADS_1
"Sejak terjadinya insiden penculikan dan penyekapanku, Ariadna sudah mulai tidak percaya dengan semua orang termasuk team kami sendiri."
"... Jadi aku dipercaya Ms.Ariadna?"
"Iya, agak. Setelah aku menceritakan semua yang terjadi, Ms.Ariadna masih mempercayaimu."
Ms.Ariadna percaya? Dia percaya ada seorang anak kecil yang dapat melumpuhkan delapan orang dewasa? Dengan alat ajaib di tangannya?
Jujur... jika aku yang mendengarnya, aku pasti ragu dengan kebenarannya.
Aku memutar kembali tubuhku ke arah Evelyn.
"Dan ada surat yang di berikannya khusus untukmu," ucapnya sambil meraih sepucuk surat dan menyerahkannya kepadaku.
Ini surat dari Ms.Ariadna.
...----------------...
Untuk Arthur Gunther. Setelah aku mendengarkan kisahmu yang spektakuler dari Evelyn, aku masih menaruh kepercayaanku kepadamu.
Hari ini aku tak bisa menemani nona Evelyn untuk mencari kostumnya yang akan dia pakai dalam penampilannya dekat hari karena urusan yang sangat penting. Jadi setelah memikirkannya, aku mengantarkan nona Evelyn ke penginapanmu.
Kamu tidak ahli dalam urusan fashion? Itu tak akan bisa menjadikan alasanmu untuk menolak. Nona Evelyn sudah mengerti betul tentang kostumnya yang akan dia pakai nanti. Jadi tugasmu hanya mengantarkannya serta menjaganya.
Aku tak ingin kejadian serupa menimpa Evelyn lagi. Jadi mohon jaga dia dengan sungguh-sungguh.
Dan jika terjadi kejadian yang aneh kepada Evelyn... Kamu tahu bukan apa yang akan terjadi kepadamu?
Sekian suratku ini.
Salam dengan penuh senyuman, Ms.Ariadna.
...----------------...
Setelah membaca seluruh isi surat, aku menoleh ke arah Evelyn.
"Hm?" sahutnya menyadari pandanganku.
Jadi dia tidak membaca surat ini ya...
"Tidak apa-apa," jawabku.
"Jadi? Kamu mau menemaniku?" tanya Evelyn dengan penuh harapan di matanya.
Ms.Ariadna menugasiku untuk menemani Evelyn dengan tujuan utama adalah untuk melindunginya.
Tapi alat yang aku gunakan untuk melindunginya sebelumnya sudah kuberikan kepada Mr.Meinhard.
Jadi bagaimana bila nanti terjadi sesuatu.
Saat ini aku hanyalah seorang yang memiliki tenaga seukuran anak kecil.
Tapi, jika bukan aku siapa lagi?
"Em... Evelyn..."
"Tentu saja kamu boleh berkunjung ke perpustakaan kota nanti."
"Oke setuju."
Yah... Kecil kemungkinan akan terjadi peristiwa semacam itu lagi. Jadi mungkin tak apa-apa kali ini.
Evelyn terlihat tampak menahan tawanya.
__ADS_1
"Ada apa?" tanyaku.
"Sepertinya aku sudah tahu kelemahanmu, Arthur."
"... Apa itu?"
"Tak akan kuberi tahu."
"Hee..."
......................
Setelah kejadian bertemunya aku dan Evelyn di area makan penginapan, aku mempersiapkan diriku dengan segala kemungkinan yang bisa terjadi dan mulai menemani Evelyn... Atau lebih tepatnya... sebagai penjaganya?
Aku dan Evelyn di sampingku yang mengunakan pakaian penyamarannya yang ditingkatkan, telah berada di luar penginapan.
Suasana diluar sudah sangat cerah, mungkin sudah hampir siang hari. Namun suhu seperti tidak berubah sama sekali. Mungkin hanya aku saja yang merasakan hal ini.
Kami mulai berjalan dengan Evelyn yang menunjukkan arah tujuan kami.
"Hei Arthur, untuk apa kamu mengunjungi perpustakaan hari ini?" tanya Evelyn sambil terus berjalan santai.
"Hmm... Awalnya aku hanya ingin melihat-lihat saja, tapi saat ini aku ingin mencari informasi tentang kerajaan di arah timur kota ini."
"Jadi... Kamu sudah mendapatkan kerajaan yang akan kamu tuju?"
"Ya, sudah. Aku sekarang ingin tahu lebih detail tentangnya."
"Mr.Meinhard memperbolehkanmu?"
"Mungkin."
"Mungkin?"
"Ya, Mungkin. Mr.Meinhard masih belum yakin dengan kemampuan kami, jadi tidak akan mudah untuknya untuk memperbolehkan kami pergi sekarang, dia akan melatih kami. Dan jugaー"
"Jadi?!"
"Aku harus tetap disini sedikitnya selama 3 bulan. Hah..."
"Benarkah?!"
"Ya, tentu... Kanapa kamu tampak bahagia?"
"Bukankah itu baik? Kamu dapat alasan untuk tinggal lebih lama di kota ini."
"Ya... Itu dampak positifnya, tapi dampak negatifnya... Aku dan temanku sepertinya tak akan bisa membayar biaya penginapan untuk selama itu."
"Kenapa harus repot-repot berpikir keras? Kamu dan temanmu boleh tinggal di rumahku kok. Ariadna pasti akan mengizinkan."
"Rumahmu? Kamu tinggal dengan Ms.Ariadna?"
"Ya, hanya kami berdua di rumah sebesar itu. Banyak ruangan kosong yang tersisa."
"Kamu sangat baik Evelyn, terima kasih... Akan kujadikan jawaban terakhir."
"Em! Tentu saja, kita kan teman," ucapnya sambil mengangguk.
Entah kenapa aku merasa bahwa aku berteman dengannya seperti sekedar hanya untuk memanfaaatkannya saja.
Mulai sekarang aku akan berperilakuan baik dengannya.
"Evelyn, sekarang kita akan pergi ke mana?"
__ADS_1
"Kita sekarang akan pergi ke toko baju pusat kota!"