Kembali Ke Awal

Kembali Ke Awal
Arthur dan Evelyn Berlindung


__ADS_3

Dia memang benar-benar sangat lemah dengan suhu dingin.


Aku berjalan mendekat Arthur yang sedang menggigil Kedinginan, dan duduk di sampingnya.


"Huh... seharusnya aku tak meninggalkan sarung tanganku tadi," bisik Arthur.


Arthur saat ini sedang tidak menggunakan sarung tangan yang biasanya dia pakai.


"Di mana kamu meninggalkannya? Bukankah itu sesuatu yang sangat berharga untukmu?" tanyaku penasaran.


"Di pabrik tadi sore... Saat kamu tiba-tiba pingsan. Jadi aku melepaskannya untuk mengukur suhu tubuhmu. Palingan sudah ditemukan oleh Mr.Meinhard ataupun Noland."


"Kamu sangat baik, Arthur."


"Hehe terima kasih. Tapi bukankah itu hal normal yang dilakukan orang-orang saat berada di keadaan seperti itu?"


"Tidak, selama aku hidup... Hanya kamu yang berperilaku seperti itu."


"SーSungguh?" ucap Arthur tak percaya.


"Benar... itu yang sesungguhnya."


Hujan semakin deras dan suhu semakin dingin.


"Huh... Saatnya untuk membuat perapian untuk menghangatkan tubuh kita," ucap Arthur sambil berusaha bangkit dan meraih beberapa ranting pohon di sampingnya.


Aku di sampingnya memperhatikan perbuatannya.


Dia mengambil beberapa ranting dan menaruhnya satu langkah kedepan.


Selanjutnya dia meraih sesuatu di saku mantelnya. Itu adalah benda aneh dan sehelai kain berwarna coklat. Warna yang sama seperti yang digunakan pada baju para penjahat tadi.


"Arthur, bukankah itu barang yang penting?"


"Ah tidak... ini hanya kain biasa yang aku ambil lebih dari baju para orang-orang itu," jelas Arthur sambil memperlihatkan bahwa itu hanyalah kain biasa tanpa tulisan nama pemiliknya.


Kenapa dia seperti sudah mengetahui bahwa hal ini akan terjadi?


Arthur mendekatkan kain di tangan ke arah benda aneh di tangannya yang lain.


Dan tiba-tiba api muncul di kain coklat itu.


Arthur segera meletakkan kain itu di kumpulan ranting-ranting berukuran kecil. Dan perlahan-lahan menambahkan ranting-ranting yang berukuran sedang.


Dari ukuran api yang kecil di kain tadi, sekarang telah berubah menjadi api yang berukuran besar di depanku.


Arthur tampak gembira dengan api di hadapannya.


Hawa panas dari api itu seakan-akan melindungi kami dari udara dingin yang menyerang.


Arthur kembali duduk di sampingku dan menjulurkan kedua tangannya ke arah perapian.


Aku mengikutinya.


"Untung saja pakaian kita tidak terlalu basah akibat hujan..." ucapnya sambil tersenyum syukur kepadaku.


Dia masih bisa tersenyum dalam keadaan seperti ini?


"Arthur... Apakah kita bisa pulang?"


"Tentu saja bisa! Yang harus kita lakukan sekarang adalah menunggu hujan yang merepotkan ini reda, setelah itu mencari tahu lokasi kita berada sambil mencari rumah warga untuk meminta tolong," jelas Arthur dengan ambisius.


"Apakah akan semudah itu?"


"Entahlah... Tapi yang terpenting, kita pasti akan dapat pulang dengan selamat."


Masih belum jelas ya...


Kami pun menunggu... Dan hujan masih belum memunculkan tanda ingin reda.


Arthur disampingku meraih ranting besar di sampingnya dan meletakkannya di atas perapian, mempertahankan kobaran api.


"Arthur, apa tujuanmu pergi dari desamu?"


Ini adalah poin yang membuatku penasaran.


Arthur terdiam sebentar, dan perlahan mulai berbicara.


"Karena insiden. Aku meninggalkan desaku karena insiden yang terjadi beberapa tahun yang lalu. Pada peristiwa yang menggetarkan bumi begitu kuat..."


Eh..?

__ADS_1


"Apa kamu tahu ini?" ucap Arthur sambil mengeluarkan kain tebal panjang yang melingkari lehernya dari dalam mantel yang dia gunakan.


"Kain tebal panjang berwarna abu-abu cerah?" ucapku mencoba menjawab.


"Iya... Ini adalah hadiah yang diberikan oleh salah satu temanku. Indah bukan?" ucap Arthur sambil memamerkan kain itu.


"Ya... Baru pertama kalinya aku melihat benda seperti itu."


"Dia temanku, menjadi salah satu korban dalam peristiwa itu."


"..." Aku tak bisa membalas.


"Keluarganya sekarang sedang dalam kondisi kesusahan. Jadi aku memutuskan untuk pergi dari desa untuk membantu keluarga temanku itu," jelas Arthur.


"Kamu terlalu baik, Arthur."


"Tidak juga."


Aku tidak menyangka bahwa ada orang sebaik Arthur di dunia ini.


"Sudah kuduga kita sedikit mirip."


"Hm? Maksudmu?"


Mungkin sebaiknya aku memberitahunya.


"Ini tentang parfum yang tadi kamu tanyakan. Aku belum mengatakan seluruhnya."


"Ah! tak usah jika kamu tidak menginginkannya."


"Tidak! Kamu sudah memberitahukan kisahmu padaku, sekarang giliranku."


Ini sudah sepatutnya bukan?


"Baiklah..." ucap Arthur setuju.


"Sebenarnya aku berasal dari desa juga..."


...****************...


Saat itu pagi pada musim semi. Sang surya masih belum tampak di atas langit.


Aku terbangun karena suara gaduh dari ruangan sebelah.


Ketika kuperhatikan, ternyata sumber suara gaduh itu berasal dari kamar Ibuku.


Aku pun langsung menuju ke arah kamar ibu dengan penuh rasa penasaran.


Aku melalui pintu yang setengah terbuka.


Cahaya dari lentera menyelimuti ruangan.


"Mama?"


"Ah?! Evelyn?" tanya Ibuku terkejut saat menyadari keberadaanku di belakangnya secara tiba-tiba.


"Mama sedang apa?" tanyaku sambil menggosok-gosok mataku yang masih mengantuk.


"Apa kamu lupa? Hari ini adalah hari audisi bakat penyanyi di balai kota. Saking semangatnya Mama... Mama terbangun terlalu awal, dan sekarang sedang memilih pakaian yang akan Mama pakai nantinya."


"Ah ya... Aku mengingatnya," ucapku sambil berjalan ke arah kursi kosong di sudut ruangan.


"Mama sepertinya sangat menantikannya," lanjutku.


"Tentu saja! Ini adalah impian Mama untuk menjadi seorang penyanyi!" ucapnya sambil mengacak-acak lemari di depannya.


Pekerjaan Ibuku sehari-harinya berdagang dan kadang bernyanyi di gereja. Ambisi serta motivasinya muncul saat ada salah satu artis terkenal datang ke desa kecil kami.


Tentu saja saat itu ibuku menonton dengan sangat terpana.


"Bukannya tahun-tahun lalu selalu gagal? Kenapa masih berusaha?"


"Kata-katamu menyakitkan, Evelyn. Walaupun gagal tahun lalu, itu tidak berarti bahwa mimpi Mama untuk menjadi seorang penyanyi profesional pupus!" ucapnya dengan penuh ambisi.


"Evelyn mendukung Mama bukan?"


"Hm.. Ya... Aku selalu mendukung Mama."


"Aaa! Evelyn kusayang, kamu sangat imut!" ucapnya sambil mencubit kedua pipiku.


Ibuku terkenal karena semangatnya. Dia tidak akan pernah berhenti sebelum sesuatu yang diinginkannya terwujud. Tangannya begitu keras.

__ADS_1


"Uwaa~hm." Suara menguapku muncul tanpa dapat kukontrol.


"Mau coklat hangat?"


"Mau!"


"Haha, kamu memang sangat suka dengan coklat! Tunggu sebentar ya.."


Ibuku segera pergi dari kamarnya dan sepertinya sedang mengarah ke dapur.


Aku tetap duduk di kursi yang empuk ini sambil mempertahankan diriku agar tidak tertidur.


Beberapa saat kemudian, ibuku kembali dengan dua gelas berisi coklat hangat di kedua tangannya.


Ibuku meletakkan kedua gelas itu di atas meja bundar kecil di depan tempat dudukku.


"Evelyn! Coklat hangat yang sangat kamu sukai sudah tiba!"


"Uwa...!" ucapku sambil kegirangan.


Aku meraih gelas bening dengan sedikit corak bunga yang sangat imut. Ini adalah gelasku.


Aku dengan tidak sabaran langsung meminum minuman coklat itu tanpa meniupnya.


Akibatnya lidahku teras tersengat dengan panasnya. Namun karena ini adalah air hangat, jadi yang kurasakan tidak terlalu panas.


Rasa manis muncul, rasa yang sangat kusuka.


Sebenarnya rasa coklat itu pahit, aku mengetahuinya saat ibuku dengan sengaja memberikanku biji coklat asli. Ibuku sering mengerjaiku.


Akhirnya aku mengetahui bahwa rasa manis yang ditumbalkan pada minuman coklat yang biasanya aku minum berasal dari coklat yang dicampur atau dipadukan dengan bahan lainnya.


"Minumnya perlahan-lahan saja!" ucap Ibuku sembari ikut meminum coklat hangat.


"Habisnya... Coklat hangat buatan Mama adalah minuman yang terbaik!"


"Walaupun kadang kata-katamu menyakitkan, tapi sepertinya kamu pintar memuji."


"Hehe."


Kami menikmati coklat hangat buatan ibu. Sampai-sampai tak terasa bahwa matahari telah mulai menampakkan sinarnya dari timur.


"Ah ya! Mama hampir melupakan itu..."


"Oh itu..." ucapku mengerti.


"Apa kamu mau menemani Mama?"


"Tentu! Aku ikut!"


Aku bangkit dari kursi dan mulai mengikuti ibuku dibelakangnya.


Kami saat ini sedang berjalan menuju pintu keluar rumah kami.


Ibuku mulai membuka pintu dan aku ikut keluar di belakangnya.


Tiba di luar, kami disambut dengan angin sepoi-sepoi.


Di sekitar rumah kami terdapat rumah penduduk lainnya yang berjarak tidak terlalu berjauhan.


Kami serta para penduduk berada di desa yang di kelilingi oleh hamparan taman bunga yang sangat indah.


Taman bunga di sekitar desa kami tidak terisi oleh satu jenis bunga saja, melainkan ada banyak jenis bunga dengan warna dan bentuk yang berbeda-beda.


Kisahnya, bunga-bunga di sini ditanam oleh penduduk pendahulu yang berasal dari berbagai macam daerah yang berbeda-beda.


Dan karena perbedaan itu, membuat taman bunga ini sangat cantik dan indah.


Setiap kamu melirik ke suatu arah, kamu setidaknya akan melihat satu bunga indah yang sedang mekar.


Musim ini adalah musim di mana bunga-bunga di sekitar desa kami mekar, jadi biasanya pada siang hari banyak orang yang akan berkunjung untuk menikmati keindahan taman bunga ini.


Ibuku mulai melanjutkan perjalanan menuju ke suatu tempat.


Aroma wangi bunga yang beraneka ragam mulai masuk dalam indra penciumanku.


Huh... Aku ingin wangi bunga-bunga ini tetap tercium selamanya.


Dari berbagai macam jenis bunga yang ada di sekitar desa kami, yang menjadi favorit serta yang tidak menjadi favorit.


Ada satu jenis bunga yang sangat di sukai oleh ibuku. Jumlah bunga itu terbilang sedikit bila dibandingkan dengan bunga-bunga yang lain, tapi keindahan tak dapat diremehkan.

__ADS_1


Dan bunga itulah yang menjadi inspirasi nenek dan kakekku untuk menamai ibuku...


Bunga Jasmine.


__ADS_2