Kembali Ke Awal

Kembali Ke Awal
Milin Bertanya


__ADS_3

Minum minuman hangat saat pagi hari merupakan suatu kenikmatan tersendiri bagiku. Oleh karenanya, saat ini aku sedang berada di dapur untuk menyeduh secangkir teh. Tentu saja ini dapur penginapan kami saat ini.


Satu malam telah terlewati sejak aku menapakkan kakiku di sini. Rasanya agak aneh ketika menyadari hanya aku dan Noland saja yang tidur di ruang bawah tanah semalam, tak ada pelanggan lain.


Aku memang sudah curiga sejak awal, bukan tentang hal yang negatif, tapi mungkin sesuatu yang sedikit memilukan... Bahwa tempat ini sangat jarang memiliki pelanggan. Tapi tampaknya tempat ini dulu memiliki pelanggan yang lumayan, terjadi apa sebelumnya?


Yah, aku juga tidak terlalu peduli. Soalnya kami hanya menginap beberapa hari saja dan kami akan pergi dari penginapan ini dan melupakan segalanya seolah-olah tak terjadi apapun.


Kondisi saat ini adalah pagi menuju siang, aku sengaja untuk bangun agak terlambat agar tidak mengganggu Milin dan juga Neneknya yang mungkin tidak bangun terlalu pagi, dan juga aku sangat cape di perjalanan menuju sini, jadi aku memerlukan tidur yang lebih banyak.


Tapi tampaknya hipotesis pertamaku salah. Saat aku naik menuju lantai dasar, Milin sudah tampak bekerja membersihkan lantai, dan jika dilihat dari kondisi badannya yang kecil itu tampaknya dia sudah mulai bekerja sejak beberapa jam yang lalu, begitu juga Neneknya yang sedang duduk di meja resepsionis kecil yang terbuat dari kayu.


Dan singkat cerita, setelah sedikit percakapan biasa, aku berada di sini, di dapur untuk menyeduh teh. Tentu saja mereka menawarkan diri untuk menyeduhkannya untukku, tapi karena tampaknya mereka sedikit sibuk, aku inisiatif sendiri untuk membuatnya di dapur.


Tentu saja mereka merasa tidak enak untuk menelantarkan pelanggan mereka tanpa pelayanan, oleh karenanya Milin ikut menemaniku saat ini untuk menyeduh secangkir teh.


"Maaf jadi merepotkan," ucapku.


"Tidak sama sekali," bantah Milin sambil berusaha meraih cangkir.


Dia sedang berada di atas sebuah kursi kayu yang dia seret dari ujung ruangan untuk menggapai cangkir di atasnya. Dia mengangkat tangan kanannya dan kaki kecilnya sedikit berjinjit. Apa aku seharusnya membantunya?


Mungkin sebaiknya jangan, itu akan tampak seperti aku menodai perjuangannya. Lagi pula ia tampak luwes, seperti kejadian itu makanan sehari-harinya.


Dia berhasil meraihnya dan langsung memperlihatkannya kepadaku seperti sedang memamerkan kehebatannya, wajahnya menggambarkan perasaan bangganya.


Cangkir yang ia pegang ialah cangkir yang ukurannya cukup kecil, memiliki motif yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata, dan memiliki gagang kecil di salah satu sisinya, cangkir ini sangat nge-trend saat ini.


Milin turun dari kursi dengan perlahan dan hati-hati, setelahnya ia menaruh cangkir itu di atas meja untuk proses selanjutnya.


"Ngomong-ngomong tuan..." ucap Milin membuka topik.


"Iya?"


"Jika boleh tahu, Tuan berasal dari daerah mana?" tanyanya sambil mempersiapkan bahan-bahan.


"Aku dan Noland dari Monte Rosa."


"Monte Rosa? Jika tak salah, itu kota di sebrang lautan ya? Di... Barat?"


"Benar, itu dia. Kamu tau banyak hal ya," pujiku.


"Hehe~ Aku mendengar tentang kota Monte Rosa dari para pelanggan terdahulu, katanya kota itu lumayan megah."


"Ya... Dan lagi, banyak pembisnis cerdik di sana."


Atau lebih tepatnya, licik.


"Bukankah tempat itu sangat bagus? Kenapa Tuan memilih datang ke sini?"


Milin selesai menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan. Gula, rempah-rempah serta bahan yang sudah familiar bagiku, semuanya sudah terletak di atas meja sesuai dengan jangkauanku. Sayangnya tidak ada teh celup instan di era ini. Apa aku harus menjadi pelopornya?


"Mungkin... Mencari hal baru."

__ADS_1


Aku mulai meraih bahan-bahan yang diperlukan dan mulai meracik.


"Hal baru?" tanya penasaran Milin dengan memiringkan kepalanya.


"Sejujurnya ini bukan kali pertamanya kami berpergian jauh. Mungkin akan terasa aneh saat tiba-tiba berada di tempat yang asing, tapi setiap kali tiba di tempat baruーBudaya, logat bahasa, fashion, hingga kebiasaan orang-orang... Adalah sesuatu hal baru yang seru untuk dilihat dan dipelajari, dan juga..."


"Dan juga?"


"... Aku penasaran cerita baru apa yang akan tercipta di tempat dengan segala hal baru itu."


Racikan telah siap, selanjutnya tambahkan air panas.


"Kedengarannya seru!" ucap Milin tertarik.


"Benar bukan?!"


Yah walaupun di kehidupanku yang lalu aku cuma menghabiskan waktuku di kamar dan jarang keluar.


"Tuan Arthur sepertinya sangat ingin menikmati hidup!" ucap Milin sambil mengoper teko berisi air panas.


"Wah, kamu tau sekali," ucapku mengkonfirmasi.


Aku menerima teko itu dan menuangkan air panas itu ke cangkir dengan perlahan.


"Tapi kenapa Tuan ingin bekerja di kerajaan?"


HEH?!


Kenapa dia bisa tahu? Aku tidak ada berbicara tentang itu kan?


"Hm? Kenapa Tuan Arthur?" tanyanya terkejut dengan tingkahku.


"Em... Milin..."


"Ya?!"


"Dari mana kamu tahu itu?"


"Yang tentang ingin bekerja di kerajaan?"


"Ya, dari mana?"


"Dari Tuan Noland."


Oh, masuk akal.


"Eh apa itu informasi tabu?!" Ucap cepat Milin, ia mulai panik karena menggangu privasi pelanggannya.


"Em, tidak-tidak. Aku hanya terkejut kamu mengetahuinya, hampir aku kira kamu seorang pembaca pikiran."


"Aku tidak segitunya Tuan!" jawab Milin menjamin dirinya.


Syukurlah kalau begitu. Aku melanjutkan menuangkan air panas.

__ADS_1


Milin mengambil lap bersih dan mengelap tumpahan air yang berada di meja.


"Jadi, kenapa Tuan ingin bekerja di kerajaan?"


Dia sangat penasaran ya. Yasudah aku pakai alasan klasikku saja.


"Bekerja di kerajaan salah satu mimpiku!" ucapku dengan percaya diri.


"Kenapa Tuan memimpikan itu?" tanya Milin heran dengan jawabanku.


Air telah mencapai batas sempurna di cangkir. Dan secangkir teh hangat pun selesai.


"Apa ada yang aneh dari itu?"


Kenapa dia seheran itu?


"Bukan menyinggung tapi kenapa Tuan Arthur yang ingin menikmati hidup malahan bermimpi menjadi budak serta perisai kerajaan?"


"... Apa seburuk itu?"


"Dari yang aku dengar dari penduduk, gaji yang ditawarkan oleh kerajaan memang tinggi, tapi keselamatan yang harus dipertaruhkan," ucap Milin memberitahu informasi dengan nada agak rendah.


"Apa sebegitunya? Mungkin saja itu hanya dilebih-lebihkan oleh para penduduk untuk mengurangi pesaing yang dapat menggangu mereka untuk bekerja di kerajaan," ucapku menenangkan Millin.


"Benarkah begitu?"


"Seharusnya benar," ucapku meyakinkan.


Aku mengambil alas cangkir yang berada di sebelah kananku dan mulai berjalan keluar dari dapur.


"Ayo Milin, aku sudah selesai," ajakku.


"Iya Tuan."


Milin mulai melangkah menyusulku dari belakang.


"Tetap hati-hati Tuan," ucap Milin masih meragukan yang kukatakan.


Dia sangat baik sekali.


"Tenang saja Milin, segala keputusanku hingga sekarang... Semuanya sudah kuperhitungkan."


***


Memang, perkataanku yang tadi memang pantas untuk diragukan. Pasalnya kerajaan sudah sejak lama terang-terangan secara tidak langsung memberikan tanda-tanda itu.


Konflik antar kerajaan bahkan negara sudah mulai terlihat melalui konflik internal dan eksternal. Perang mulai merambat di beberapa wilayah, aku tidak terlalu mengurusi hal ini, karena ini adalah kenyataan umum yang bahkan anak kecil pun mengetahuinya.


Setiap tahunnya ada pendaftaran serta perekrutan tenaga kerja secara besar-besaran pada kerajaan Breithorn, yang mana hal itu sangat aneh. Apa sebegitu burukkah tenaga kerja tahun sebelumnya hingga tahun-tahun berikutnya perlu tenaga kerja yang lebih besar lagi?


Apa ini karena krisis akibat perang, atau hal lainnya?


Aku memikirkan hal ini dengan menyeruput perlahan-lahan teh hangat yang sudah kiracik sendiri dan menunggu kabar dari Noland yang sedang mencari informasi pendaftaran tenaga kerja.

__ADS_1


__ADS_2