
" Silahkan di nikmati minumannya tuan muda ..Nona ... mungkin sebentar lagi Neng Rara datang," kata Bi Ida sambil menyajikan minuman dan juga cemilan.
" Apakah Rara sudah pergi dari tadi Bi ?" tanya Adrian
" Habis sarapan tadi den," jawab bi Ida
" Memangnya Rara pergi kemana sih Bi ?"
" Kalau tidak salah neng Rara mau mengunjungi opa dan Oma nya den ."
" Apakah Rara tidak tidur di sana nanti Bi?"
" Barusan saya sudah telpon ke kediaman Nyonya Ratna, katanya Neng Rara sudah pulang. Bagaimana kalau Aden sama nona ini istirahat dulu di kamar? "
" Kami istirahat di sini saja Bi . "
" Baiklah kalau begitu saya permisi pergi ke belakang dulu."
" Silahkan Bi."
Bi Ida langsung pergi ke belakang melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Tak lama kemudian Aurora tiba.
Aurora memang langsung pulang begitu selesai makan. Dia berjanji kepada opa dan Oma nya akan menginap Minggu depan. Sedangkan hari ini di tidak bisa karena Dokter Ardan akan segera bertugas dan anak-anaknya akan tinggal bersama Rara.
" Assalamualaikum..."
" Wa alaikum salam warahmatulloh."
" Ada Abang nih... kirain udah lupa Ama adek," kata Aurora sambil duduk di bangku yang kosong .
Aurora lalu memandang dua tamu lain yang dibawa oleh Adrian. Dia masing dengan dengan dua orang di depannya. Begitupun dengan Faisal dan Diandra.
Faisal dan Diandra tidak menyangka bahwa orang yang sudah menyelamatkan kakak mereka adalah gadis remaja. Itu menurut pandangan mereka saat melihat wajah Aurora yang berwajah imut. Tidak tau saja kalau gadis di depan mereka sudah berumur dua puluh empat tahun.
" Mana ada, Abang mau kesini tapi nggak tau caranya ," jawab Adrian mendengar ucapan Aurora.
" Oke deh... ini siapa Abang?"tanya Aurora untuk menjawab rasa penasarannya.
" Adik-adik Abang, yang ini Faisal dan yang itu Diandra."
" Perkenalkan nama saya _" kata Aurora sambil mengulurkan tangannya ke arah Faisal.
Belum sempat menyebut namanya tapi sudah dipotong sama Adrian.
" Nggak usah panjang-panjang la dek !"
__ADS_1
" Apanya yang panjang bang , kan belum aku sebutin namanya."
" Nggak dengerin ucapan kak Adrian. Perkenalkan nama saya Faisal," kata Faisal sambil menjabat tangan Aurora yang masih terulur.
" Senang berkenalan denganmu Faisal. Panggil saja namaku Rara," kata Aurora dengan tersenyum lembut yang membuat Faisal terpesona.
" Iya iya tapi nggak usah lama-lama salamannya," kata Adrian sambil melepas tangan Aurora dari genggaman Faisal.
Faisal dan Aurora sampai tersentak kaget. Diandra melotot tak percaya bahwa Adrian sangat protektif pada Aurora.
" Abang apa-apaan sih kita lagi kenalan juga," protes Aurora tak terima.
" Nggak boleh lama-lama bukan muhrim."
" Kalau sudah muhrim boleh."
" Tidak boleh!"
" Ish!"
" Hai kita seumuran kan?" tanya Diandra yang sedari tadi hanya diam.
Diandra sudah dari tadi ingin berbicara dengan Aurora tetapi belum ada kesempatan.
" Delapan belas tahun sih."
'' Ya sama sih kalau dikurang 6, " gumam Aurora dengan lirih , sedangkan Adrian memicingkan matanya.
" Kamu bilang apa?"
" Nggak kok, sudah dari tadi di sini?"
" Ya lumayan sih."
" Maaf ya ... tadi aku masih pergi ke rumah Opa."
" No problem ... Dek besok kerumah ya?"
" Ngapain?"
" Mau ada syukuran ."
"insya Alloh..."
" Harus di usahakan."
__ADS_1
" Oke sayangku!"
" What! kok bilang sayang segala?"
" Emang nggak boleh ya?"
" Ya... "
" Siapa yang larang?" tanya Adrian.
" Nggak ada yang larang sih."
" Mungkin Diandra cuma takut pacarnya Abang marah , betul tidak ?" tanya Aurora dengan bijak .
Dia sudah menduga kalau Adrian sudah memiliki kekasih. Siapa sih yang tidak akan terpesona dengan Adrian yang memang tampan. Untung perasaannya belum dalam.
" Kok bisa tahu?" tanya Diandra penasaran. Bahkan Adrian pun menatap Aurora tajam.
" Ya tahu lah, masak Abang cakep gini belum ada pacar nggak mungkin banget gitu ," jawab Aurora santai, padahal ada sedikit goresan dihatinya.
" Aku aja belum ingat dek ," protes Adrian.
" Semoga saja Abang segera bertemu kekasih Abang. lalu ingatan Abang segera pulih," doa Aurora dengan tulus . Dia ikut bahagia jika laki-laki pujaannya juga bahagia.
" Amin"
" Oh iya bang .. rencananya White dan temen-temen mau aku ajak ke sini."
" Emang nggak masalah dek?"
" Mau urus ijin dulu dong bang... terus rencananya mau aku taruh di belakang."
" Apa mereka nggak akan kesempitan?"
" Memang Abang sudah lihat belakang rumah aku?"
" Ya belum sih."
" Abang saja belum lihat."
" Memangnya mereka siapa si bang?" tanya Faisal penasaran.
" Kalau kalian melihat mereka pasti sudah gemetar ketakutan."
" Memangnya siapa mereka?"
__ADS_1