Kembalinya Ingatan Sang CEO

Kembalinya Ingatan Sang CEO
BAB 23


__ADS_3

" Memangnya siapa mereka?" tanya Diandra penasaran.


" White si harimau putih, wolf serigala jantan dan wolfy serigala betina ," jawab Aurora santai.


" What!" teriak Diandra dan juga Faisal bersamaan.


" ... "


Diandra dan juga Faisal melotot kaget ke arah Aurora. Mereka memandang Aurora horor. Ni gadis apa nggak ada takut-takut sama hewan buas.


" Kamu serius dek?" tanya Adrian tanpa menghiraukan keterkejutan adik-adiknya.


" Serius apanya?" tanya Aurora.


" Serius mau ambil dan melihara mereka."


" Ya serius dong bang ... kalau lama takutnya nanti ada pemburu yang datang. Kalau sampai dibawa pemburu gimana coba ?"


" Emangnya umur kamu berapa sih Ra ... nggak mungkin delapan belas tahun kan?" tanya Faisal penasaran.


" Kenapa kalau delapan belas tahun?"


" Nggak kenapa-napa sih, cuma heran saja. "


" Sebenarnya umur aku sudah dua puluh empat tahun sih , jadi kalian berdua harus panggil aku Mbak."


" Jangan bercanda dong... mukamu imut gini masak sudah dua puluh empat tahun," protes Diandra.


" Memangnya kenapa, nggak masalah kan?"


" Ya nggak masalah juga sih. Hanya saja curang loh... kok muka kakak lebih imut dari muka ku sih," kata Diandra dengan cemberut.

__ADS_1


" Ish... jangan cemberut atuh. Nanti cantiknya hilang loh. Sekarang Diandra kelas berapa?"


" Sudah kelas dia belas sih. Tinggal beberapa bulan lagi sudah lulus."


" Rencananya mau lanjutin Kuliah dimana?"


" Fakultas Tunas Bangsa... sama kayak bang Faisal."


" Kok kayaknya kamu manggil dua kakak mu berbeda?"


" Ia sih... kak Adrian sama bang Faisal. Biar beda gitu. Nanti kalau sudah punya suami beda lagi , mas."


" Wes ... ternyata adik Abang yang satu ini sudah pengen nikah loh," goda Aurora.


" Nggak gitu juga kali. Itu kan cuma rencana masa depan."


" Sudah calon imam dong."


" Ha ha ha ha ."


"Kapan adek mau ambil white?"


" Assalamualaikum..."


" Wa alaikum salam warahmatulloh.. ."


Aurora bangun dari duduknya dan menghampiri tamunya. Ternyata ada dokter Ardan dan keluarganya. Nampaknya mereka sudah siap untuk pergi ke desa .


" Sudah siap untuk berangkat Dok?"


" Sudah nona, sekarang saya tidak bisa lama-lama . Titip Reyhan sama Reyna. Jika mereka ada salah tolong dinasehati."

__ADS_1


" Tenang dokter.... mereka sudah saya anggap seperti keluarga sendiri."


" Jika seperti itu saya bisa tenang. Rey...ikuti semua persen Kak Rara. Jika kalian kangen bisa mengunjungi mama dan papa di sana "


" Reyna mau ikut papa sama mama ," kata Reyna.


" Katanya tadi mau nurut sama mama. Dosa a nggak ada televisi, hp dan harus jalan kaki selama dua jam. Apa Reyna sanggup."


" Ya sudah Reyna sama bang Reyhan tinggal sama kak Rara."


" Gitu dong anak cantik mama. Mama sama papa sayang kalian. Jaga diri baik-baik. Kami berangkat sayang. Assalamualaikum."


" Wa alaikum salam warahmatulloh."


Reyna, Reyhan dan juga Rara melihat kendaraan yang dipakai Dokter Ardan menjauh. Kemudian Rara mengambil koper Reyna untuk dibawa kedalam.


" Ayo kita masuk!"


" Biar saya saja kak yang bawa koper Reyna."


" Tidak perlu .. punya kamu saja sudah berat."


" Baiklah kalau begitu , terimakasih."


" Sekarang kita langsung masuk . Di dalam ada bang Adrian sama adik-adiknya."


" Baik kak."


Mereka bertiga masuk ke dalam rumah. Di dalam Adrian dan adik-adiknya mempunyai kesibukan masing-masing dengan hp mereka. Jika Faisal main game, Diandra sibuk wa an dengan teman-temannya dan Adrian sibuk belajar menggunakan HP.


" Diandra!"

__ADS_1


__ADS_2