Kembalinya Ingatan Sang CEO

Kembalinya Ingatan Sang CEO
BAB 53


__ADS_3

" Wah indahnya!" seru Reyna begitu dia turun dari atas helikopter.


Helikopter itu mendarat di atap rumah yang dulu ditinggali oleh Aurora dan juga kakeknya. Sekarang rumah itu ditinggali oleh orang tua Rey bersaudara.


Dari sini memang bisa melihat daerah sekitar. Bahkan tebing tempat Adrian terlempar itupun terlihat. Pemandangan yang terlihat nampak hijau. Siapa pun yang melihatnya pasti sangat senang.


Begitu Aurora, Reyhan dan juga Reyna turun , helikopter itu kembali terbang. Akan kembali menjemput mereka keesokan harinya.


" Bagaimana... suka tidak, dengan pemandangannya?" tanya Aurora saat helikopter sudah terbang menjauh.


Aurora memandang area sekitar dengan senyum ringan.


" Suka banget!" jawab Reyna dengan mata berbinar. Reyhan mengangguk mengiyakan.


Reyhan menatap area sekitar dengan perasaan puas. Sudah lama rasanya dia tidak menghirup udara segar seperti ini. Begitupun dengan pemandangan yang menyegarkan mata.


" Nanti kita jalan-jalan. Sekarang lebih baik kita turun," kata Aurora sambil melangkah ke arah tangga yang tersedia.


" Jauh tidak tempat mama dan papa tinggal?" tanya Reyna yang berjalan dibelakang Aurora.


" Mama dan papa kalian tinggal disini," jawab Aurora santai sambil terus berjalan.


" What?!" teriak Reyhan dan juga Reyna dengan heboh membuat Aurora harus menutup kedua telinganya.


" Nggak usah heboh napa. Bikin telinga sakit saja," gerutu Aurora sambil menyentuh telinganya yang masih berdengung .


" Marah ni ye...! lagian kakak Rara sih."


" Ada apa dengan ku?"


" Nggak papa sih. Tapi ucapan kakak bener nih ..mama tinggal disini?"


" Ya beneran dong. Ngapain juga kak Rara bohong. Nggak ada untungnya juga."


" Akhirnya ketemu Mama sama mama juga."


" Kalau sekarang mungkin mereka masih ada di klinik."


Aurora turun melalui tangga yang tersedia. Rey bersaudara mengekor di belakangnya. Aurora berjalan keluar. Dia bisa saja langsung masuk kedalam rumah. Tetapi tidak enak dengan Dokter Ardan. Meskipun ada Reyhan dan juga Reyna.

__ADS_1


Aurora akan membawa keduanya ketempat Aurora biasa bersantai.Tetapi terhalang sebab kemunculan mamanya Reyhan yang ternyata ada di rumah.


" Ya Alloh... ternyata kalian. Aku kira tadi ada suara apa. Tapi kok kayak suara helikopter."


" Karena kami memang bawa helikopter," jawab Reyna sambil memeluk mamanya dengan erat.


" Betulkah... gimana kabarnya sayang?"


" Baik ma ... Reyna kangen banget ."


" Mama juga kangen sayang.... Boy!"


Mama Reyna melepas pelukannya dan berganti memeluk putranya.


" Halo mama cantik... wih tambah cantik nih," goda Reyhan yang membuat mamanya tersipu.


" Ish ... tau aja . Yuk masuk kedalam. Adik kalian ada di dalam. Dia sangat rindu sama kakak-kakaknya. Oh iya... terimakasih Neng Rara sudah membawa meraka mengunjungi kami."


" Tidak masalah Tante. Saya juga mesti mengunjungi almarhum kakek. Sudah lama saya belum berziarah ke makam beliau," jawab Aurora dengan tersenyum lembut.


" Nanti Reyhan ikut loh kak!"


" Sip lah 👍."


" Tidak Tante. Rara pengen tidur di rumah pohon saja."


" Kok nggak disini saja. Kamar neng Rara tidak kami tempati kok."


" Biar ditempati mereka berdua. Saya pengen tidur di rumah pohon saja lebih seru."


" Kak Rara punya rumah pohon . Dimana?"


" Di hutan."


" Kok malah tidur di sana sih. Kan lebih baik tidur bersama kita saja ."


" Waduh... Rara kangen banget tidur di sana. gimana coba ?" tanya Aurora dengan ekspresi yang menggemaskan.


Aurora ingin meninggalkan mereka yang ingin melepaskan Rindu. Selain itu dia juga ingin melihat rumah pohon yang ia miliki. Rumah kecil yang dibuat di atas pohon dengan ketinggian tujuh meter. Agak tinggi sih.

__ADS_1


" Tapi makan disini kan ?" tanya mama Reyna yang ingin sekali Aurora tinggal bersama mereka.


" Tentu saja . Rara nggak pernah nolak rezeki . Lagian mau masak dimana coba di sana," jawab Aurora dengan tersenyum.


" Kali aja kak Rara nggak mau makan disini, celetuk Reyna dengan cemberut.


" Nggak lah...jangan cemberut napa. Lagian kak Rara cuman tinggal nggak jauh dari sini. Sekarang Rara kesana dulu ya ?"


" Nggak makan siang dulu?"


" Sudah makan Tan. Sekarang Rara pengen tiduran , ngantuk banget. Jangan cemberut, nanti kita jalan-jalan sore."


Aurora mencubit pipi Reyna yang cemberut . Dia masih belum rela kakak angkatnya itu ijin pergi .


" Ya udah deh Reyna ngalah, tapi jangan bohong loh yah?"


" Sip lah. Assalamualaikum."


" Wa alaikum salam warahmatulloh."


Aurora keluar dari rumah itu dan melangkah ke arah hutan . Ditengah perjalanan dia tidak menjumpai seorang pun . Karena biasanya di jam segini selain tidur ada juga yang masih berada di tengah ladang mereka.


Aurora berjalan dengan santai sambil melihat suasana sekitar. Tidak ada perubahan sama sekali karena Aurora juga tidak terlalu lama pergi dari desa ini.


Aurora terus melangkah hingga tibalah dia di hutan . Hutan yang selama ini menjadi tempat bermain nya setiap hari. Hutan yang selama ini menjadi tempat tinggalnya yang kedua .


Tidak butuh waktu yang terlalu lama untuk sampai ke sebuah pohon yang cukup besar. Di atas pohon inilah sebuah rumah kayu kecil di buat. Tempat ternyaman yang ia miliki disaat ia rindu dengan ke dua orang tuanya.



Meskipun terlihat sederhana tetapi jangan terkecoh. Tidak sembarang orang bisa naik ke rumah pohon ini. Banyak jebakan yang telah Aurora pasang agar tidak sembarang orang bisa memasukinya.


Bahkan Aurora menempatkan beberapa kamera tersembunyi di sekitarnya. Bukan hanya itu , tidak ada yang tahu jika dia juga membuat ruang bawah tanah di dalam hutan . Tepatnya sih di bawah sebuah air terjun yang ada di hutan itu.


Di belakang air terjun itu ada sebuah gua tersembunyi. Ditempat itu Aurora menyimpan beberapa komputer. Biasanya dia mengawasi keadaan hutan dari tempat ini. Aurora meletakkan banyak kamera kecil di pohon-pohon yang berada di hutan itu. Tidak ada yang mengetahuinya bahkan Adrian dan almarhum kakek Aurora. Hal inilah yang membuat Aurora sering berlama-lama didalam hutan selain mencari tumbukan obat dan bermain bersama ketiga hewan kesayangannya.


Aurora menekan sebuah tombol yang berada di batang pohon . Sebelum itu dia melihat sekelilingnya. Setelah memastikan tidak ada yang melihatnya barulah Aurora menekannya.


Setelah itu sebuah tangga turun dari atas. Aurora segera menaiki tangga itu dengan perlahan. Setelah tiba di atas, Aurora meletakkan jempolnya untuk membuka pintu. Meskipun terlihat biasa dan seperti rumah pohon biasanya tetapi perlindungannya tidak main-main.

__ADS_1


Untuk masuk saja harus menggunakan sidik jarinya. Setelah itu dia menekan sebuah tombol untuk menaikkan tangga. Jika rumah pohon ini Adrian sering di ajak masuk.


Aurora meletakkan tas ransel yang sedari tadi ia bawa kesebuah meja kecil yang ada di sudut . Kemudian membuka lemari untuk mengambil kasur lipat . Aurora menggelar kasur itu dan mengambil bantal serta selimut. Setelah itu dia langsung merebahkan tubuhnya. Tidak butuh waktu lama dia pun tertidur .


__ADS_2