Kembalinya Ingatan Sang CEO

Kembalinya Ingatan Sang CEO
BAB 55


__ADS_3

Terimakasih atas dukungan teman-teman semua. Maaf jika masih belum bisa up date dengan teratur . Mohon doanya kepada teman-teman semua semoga ayah saya segera sembuh. 🙏🙏


Adrian menghubungi salah satu kenalannya yang seorang detektif. Kecurigaannya terhadap Romi makin kuat setelah berbincang dengan sahabatnya.


" Kamu cari informasi tentang Romi sebanyak-banyaknya!" perintah Adrian pada orang yang ada di seberang.


" ...."


" Terpenting sebelum terjadinya kecelakaan!"


"..."


" Kutunggu informasinya. Lebih cepat lebih baik. Aku percaya kemampuanmu."


" ..."


" Terimakasih... assalamualaikum."


" ..."


Adrian segera meletakkan ponselnya . Kemudian memejamkan matanya. Banyak hal yang perlu ia urus.


Tok tok tok


" sayang ... mama boleh masuk kan ?"


Tok tok tok


Kerena tidak ada tanggapan dari Adrian, Nyonya Dania langsung membukanya . Ternyata pintunya tidak terkunci. Nyonya Dania mendekati Adrian yang sudah pulas di ranjangnya.


Nyonya Dania menatap sang putra dengan sayang. Dia cium keningnya dan membetulkan selimut sampai dada. Kemudian keluar meninggalkan kamar itu.


Sedangkan di tempat lain , Reyhan dan juga Reyna terkejut bukan main mengetahui kemampuan Aurora dalam bidang medis. Bahkan ayah mereka masih kalah darinya.


" Aku ngga nyangka kak Rara hebat banget ngobatin orang, " ucap Reyhan saat mereka pulang dari klinik.


" Tak salah Reyna pilih kak Rara buat jadi idola," imbuh Reyna memuji Aurora.


" Aduh.... gimana nih . Besar banget kepala gua. Gimana kalau nggak kuat?" gurau Aurora dengan memegang kepalanya.

__ADS_1


" Jangan ngadi-ngadi deh kak. Dipuji kok malah nggak mau."


" Bukannya nggak mau dek . Takutnya malah besar kepala gimana coba ?"


" Nggak papa kak kan ada Reyhan. Nanti kepala kak Rara biar Rey elus biar nggak besar lagi ."


Reyhan menaik turunkan alisnya. Dokter Ardan hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah laku mereka bertiga.


" Assalamualaikum..." sapa mereka setelah sampai di depan rumah.


" Wa alaikum salam warahmatulloh... kok baru pulang?" jawab mama Reyna.


" Tadi ada pasien kritis. Untung ada neng Rara," jawab dokter Ardan sambil menyerahkan tas yang ia pegang untuk disimpan.


" Alhamdulillah... kalau begitu. Ayo masuk terus makan malam. Neng Rara makan disini kan ?"


" Ya iya lah Tan . Rejeki nggak boleh ditolak."


" Kalau begitu ayo masuk!" ajak mama Reyna sambil menggandeng tangan dokter Ardan.


Mama Reyna memasak banyak hidangan. Ada ayam goreng kecap, sop ayam , telur balado, tempe goreng dan tidak lupa dengan sambal.


" Ayo dinikmati!" kata mama Reyna sambil mengambilkan makanan yang akan dinikmati suaminya terlebih dahulu.


" Ada ayam goreng kecap sama telur balado. Ayo kak itu makanan favorit Reyna loh . rasanya enak banget ," kata Reyna dengan mata berbinar.


" Tenang saja, kak Rara ma nggak pilih-pilih makanan. Yang penting tuh," tunjuk Rara pada semangkok sambal .


" Itu memang saya buat khusus untuk neng Rara. Reyna bilang neng Rara nggak bisa makan kalau nggak ada sambal, " ucap mama Reyna.


" Rara ma nggak pilih-pilih makan si Tan. Tapi kalau ada sambil tuh rasanya gimana gitu. "


" Kalau gitu ayo ambil... jangan sungkan."


Aurora mengambil nasi dan juga telu balado beserta sambal yang sedari tadi menggugah seleranya.


" Em enak banget Tan. Nampol abis 👍👍."


" Dihabisin kalau gitu, " jawab mama Rena di sela-sela makannya.

__ADS_1


Mereka makan dengan lahap. Tidak ada pembicaraan selama mereka makan. setelah itu mereka berkumpul di ruang keluarga.


" Bagaimana hari-hari kalian selama tinggal bersama neng Rara?" tanya Dokter Ardan kepada kedua anaknya.


" Alhamdulillah... papa ninggalin kami bersama kak Rara. Papa dan mama tenang saja, kak Rara menjaga kami dengan baik," jawab Reyhan yang disetujui oleh Reyna.


" Alhamdulillah... kami lega mendengarnya. Terimakasih neng, " ucap mama Reyna.


" Nggak usah bilang begitu. Rara juga berterima kasih atas pengabdian Dokter Ardan dan Tante."


" Oh iya ma....mama kalau belanja dimana?"


" Ada yang keliling berjualan. Jadi nggak usah bingung mau belanja dimana."


" Jadi nggak perlu ke pasar dong."


" Nggak perlu... kecuali kalau sedang pengen ."


Perbincangan itu dilakukan sampai malam. Sampai Aurora berpamitan ingin kembali ke rumah pohon .


" Apa nggak sebaiknya kak Rara tidur disini saja?"


" Kak Rara pengen tidur di rumah pohon."


" Apa_"


" Nggak ada yang boleh ikut. Bukankah kalian katanya kangen sama mama papa, jadi lebih baik kalian tidur disini, oke!"


" Baiklah kalau begitu. Apakah perlu kami antar?"


" Ish... nggak perlu lah. Gini-gini kakak jagoan loh."


" iya deh percaya. Kalau ada apa-apa langsung hubungi kami."


" Oke ... assalamualaikum."


" Wa alaikum salam warahmatulloh."


Aurora berjalan dengan perlahan. Suasana sudah sepi, karena memang sudah malam. Yang ramai suara jangkrik dan binatang malam. Setibanya di rumah pohon Aurora langsung tidur.

__ADS_1


Keesokan harinya Aurora mengajak Reyna dan juga Reyhan ke air terjun. Reyhan dan juga Reyna heboh sekali setibanya di sana. Mereka berfoto di berbagai tempat. Dan mereka pulang saat helikopter datang menjemput mereka.


__ADS_2