Kembalinya Ingatan Sang CEO

Kembalinya Ingatan Sang CEO
BAB 65


__ADS_3

" Baiklah... karena kita sudah berkumpul, bagaimana kalau sekarang satu persatu mengenalkan diri masing-masing. Sesuai pepatah tidak kenal maka tak sayang. Ya ... kalau sudah kenal kita sayang-sayangan . Betul tidak ?" canda Bima di tengah-tengah para mahasiswa baru .


Bima membawa para MABA ke bawah pohon yang cukup rindang. Disekitarnya ada taman yang cukup indah. Membuat siapapun merasa betah berada di sana .


" Betul!!!" jawab mereka.


" Baiklah... mari kita mulai dari yang ujung kiri. Silahkan maju ke depan !" perintah Bima.


" Perkenalkan nama saya Ratih. Usia delapan belas tahun. Cita-cita saya ingin menjadi dokter bedah yang hebat," kata Ratih memperkenalkan dirinya.


" Sudah punya pacar belum?" tanya salah satu mahasiswa. Ratih menoleh kearah Bima dan kawannya.


" Ayo ... silahkan dijawab!"


" Saya sudah punya kekasih. Dia juga kuliah di sini , hanya saja beda fakultas."


" Oke... terimakasih Ratih. Sekarang lanjutkan yang lain."


Ratih kembali ke tempat ia tadi berdiri. Selanjutnya yang ada di sebelahnya melangkah ke depan.


Satu persatu mulai memperkenalkan dirinya masing-masing. Macam-macam yang menjadi alasan mereka masuk di fakultas kedokteran. Ada yang ingin jadi dokter bedah, dokter jantung, dokter saraf dan lainnya. Tetapi ada juga yang kuliah di jurusan kedokteran karena salah pilih jurusan katanya. Ngakak nggak tuh. Kini giliran Aurora memperkenalkan dirinya.


" Halo gais!"


" Hai !!!"


" Perkenalkan nama saya Aurora bisa panggil Rara. "


" Udah punya pacar belum?"


Belum juga melanjutkan ucapannya sudah dipotong dengan pertanyaan.


" Kenapa.... mau daftar ya ?" jawab Aurora sambil menggoda si penanya, yang kebetulan seorang laki-laki. Namanya Gilang , dia sudah memperkenalkan dirinya tadi .


" Kalau daftar diterima kagak?"


" Tergantung dong."


" Tergantung apanya?"


" Tergantung usahanya."


" Ha ha ha ha ha ha"


" Kalau kak Bima yang daftar gimana Ra?"


" Sweet sweet... kak Bima juga nggak mau kalah sama Gilang nih!"


" Iya dong... gimana Ra?"


" Gimana ya .... sepertinya nunggu _"


" Sudah kembali ketempat . Lanjut yang lain," kata Kevin tiba-tiba. Dia yang sedari tadi diam akhirnya mengeluarkan suaranya.


Aurora pun menurut. Dia langsung kembali ke tempatnya semula. Kemudian mahasiswa yang belum memperkenalkan dirinya, satu persatu maju ke depan.

__ADS_1


" Karena semuanya sudah kenal masing-masing orang , sekarang kita buat kelompok tim . "


" Berapa orang kak ?"


" Jumlah nya semua berapa?"


" Lima puluh tiga orang kak."


" Kalau begitu satu kelompok enam orang. Nantinya akan ada sembilan kelompok."


Setelah mendapat instruksi seperti itu, semuanya beranjak mencari anggota.


" Satu kelompok sama gua mau nggak Ra ?" tanya Gilang yang sudah berdiri disampingnya.


Sedari tadi Aurora masih memperhatikan teman-temannya yang sibuk mencari kelompok. Dia masih berdiri ditempatnya saat Gilang menghampirinya. Tetapi Gilang merasa kecewa saat Rahma membuka suara.


" Nggak bisa dong... Rara udah jadi satu kelompok sama kami. Sebaiknya Lo cari teman yang lain deh !"


" Gimana Ra ?"


" Maaf ya Lang ... tapi anggota kami sudah enam orang," kata Aurora dengan tak enak hati melihat wajah murung Aurora.


" Nggak papa deh. Kirain kamu belum punya kelompok."


" Terus kamu gimana?"


" Tuh ... teman-teman ku , " tunjuk Gilang pada tiga orang pria yang sedang melihat mereka.


" Sudah ada teman gitu kok masih ajak Rara."


" Kan masih empat orang. Kalau Rara mau kan enak gitu !"


" Sudahlah ngomong sama Lo nggak ada gunanya. Aku kesana dulu ya Ra !"


Entah kenapa sikapnya terhadap Rara dan rahma berbeda.


" Oke!"


Setelahnya Aurora berkumpul bersama kelompoknya. Lima orang cewek dengan satu orang cowok.


" Sudah semuanya!"


" Sudah kak !"


" Baiklah... sekarang untuk tugas pertama kalian harus mencari dosen yang bertugas di fakultas kedokteran ini. Cari sebanyak-banyaknya. Minimal sepuluh orang. Setelah itu minta tanda tangannya sebagai bukti jika kalian telah melaksanakan tugas. Jika kurang dari sepuluh kelompok kalian akan mendapatkan hukuman. Mengerti tidak ?"


" Mengerti!"


" Kalau sudah mengerti kalian bisa melakukannya sekarang. Tapi sebelumnya...


Siap gerak!


Bubar jalan !"


Satu persatu meninggalkan tempat tersebut. Mereka berpencar bersama kelompok masing-masing. Begitupun dengan Aurora. Aurora dan teman-temannya menuju kantor.

__ADS_1


Ternyata banyak yang sudah berkumpul di kantor. Sama seperti Aurora mereka juga berebut untuk mendapatkan tanda tangan dari dosen .


" Ramai banget sih. Gimana mau dapat tanda tangan coba ?" gumam Bella yang masih bisa di dengar oleh teman-temannya.


" Ya mau bagaimana lagi. Bukan kita doang yang butuh tanda tangan. Ada lima puluh tiga anak . Jadi sabar aja. Lebih baik kita bergantian untuk antri."


" Oke deh... siapa duluan? "


" Gua aja dulu," jawab Aurora.


" Oke kita tunggu di ruang tunggu situ."


" Sip!"


Aurora berjalan ke arah kerumunan. Seperti mahasiswa yang lain , dia pun turut serta untuk antri. Setelah sepuluh menitan, dia pun sudah berada di depan dosen. Usia dosen itu sekitar Empat puluhan .


" Perkenalkan pak. nama saya Aurora. Saya mewakili teman sekelompok untu meminta tanda tangan bapak. Kalau boleh saya tahu siapa nama bapak?" kata Aurora begitu dia berdiri di depan dosen .


Dosen itu memandang Aurora takjub. Bagaimana tidak .. Aurora langsung mencerocos.


" Robert ,"


" Boleh minta tanda tangannya pak ?"


" Sebelum saya memberi tanda tangan , saya akan menanyakan satu pertanyaan. Jika kamu bisa menjawabnya maka saya akan member tanda tangan."


" Silahkan pak !"


" Kenapa kamu masuk di fakultas kedokteran?"


" Sebab ingin menjadi dokter pak ."


" Seandainya kamu sedang di tempat umum, kemudian ada yang tiba-tiba pingsan di depan mu apa yang akan kamu lakukan? terlebih orang itu tidak kamu kenal."


" Saya akan langsung membatunya pak. Mungkin memberikan pertolongan pertama sebelum orang itu mengalami keadaan yang lebih para. Meskipun orang itu tida saya kenal ... bukan berarti saya akan diam saja. Apalagi jika saya mampu memberikan pertolongan pertama."


" Kalau begitu satu tanda tangan untuk mu !"


" Terimakasih pak," ucap Aurora tulus.


Aurora memberikan buku yang ia pegang untuk diberikan tanda tangan. Setelah itu , Aurora kembali ke tempat teman-temannya.


" Nih ... sekarang giliran siapa?"


" Gua aja ," kata Exel sambil mengambil buku yang Aurora ulurkan .


Setelah itu satu persatu bergiliran untuk mendapatkan tanda tangan. Mereka mendapatkan dua belas tanda tangan sebelum memberikannya kepada Bima.


" Terimakasih... kalian berusaha dengan sangat baik . Tidak ada yang mendapatkan tanda tangan dibawah sepuluh. Jadi semuanya bebas hukuman. Sekarang kalian bisa mengeluarkan bekal yang sudah kalian persiapkan. Carilah tempat yang teduh di sekitar sini untuk memakannya. Tapi sebelum itu ...kami akan memeriksa bekal yang kalian bawa . Jika ada yang membawa bekal beda dengan yang lain maka kalian akan mendapatkan hukuman."


" Kok hukuman lagi kak," protes salah satu mahasiswa.


" Untuk melatih kedisiplinan kalian dan belajar untuk bertanggung jawab."


" Hukumannya apa kak ?"

__ADS_1


" Bagi siapa yang tidak membawa bekal atau bekalnya beda dengan yang lain, harus menyanyikan satu lagi sebagai hukumannya."


" Siip lah !"


__ADS_2