Kembalinya Ingatan Sang CEO

Kembalinya Ingatan Sang CEO
BAB 68


__ADS_3

Aurora pergi kerumah opa dan Oma nya bersama dengan Reyhan.Reno mengikuti mereka dari belakang. Setibanya disana , Aurora langsung disambut dengan pelukan oleh orang tua dari ayahnya itu.


" Kok opa sana Oma nunggu di luar sih ?"tanya Aurora saat masih dalam pelukan Oma nya.


" Mau bagaimana lagi , cucu opa yang satu ini jarang banget kesini . Kangennya sudah menumpuk-numpuk ," sindir opa nya.


" He he he maaf opa ... lain kali Rara akan sering-sering kesini deh," janji Aurora sambil mengacungkan dua jarinya.


" Wah ini siapa? mirip banget sama dokter Ardan."


" Pasti dong opa ... kan bibit unggul papa Ardan," jawab Reyhan.


" Bagaimana tinggal bersama cucu opa , senang tidak ?"


" Senang dong .... Rey sama Reyna sangat nyaman tinggal bareng kak Rara. "


" Syukurlah kalau begitu. Opa juga senang kalian mau tinggal sama nih anak. Jadi opa nggak perlu khawatir lagi."


" Ini kok malah berdiri di tengah jalan bukannya masuk dulu?" Reno yang sedari tadi tidak di perhatikan membuka suaranya.


" Iri bilang bos!" goda Reyhan dengan menaik turunkan alisnya.


" Siapa yang iri. Iri ma tanda tak mampu, " jawab Reno dengan sinis. Kemudian dia langsung masuk ke dalam rumah diikuti yang lain .


" Kata Reno kamu sudah mulai kuliah sayang ?" tanya opa saat mereka sudah duduk di sofa yang berada di ruang tamu.


" Lihat aja penampilan Rara. Udah kayak anak kecil loh," jawab Aurora dengan mencebikkan bibirnya.


" Kak Rara ma pakai apa saja cocok," tanpa disuruh Reyhan mengambil cemilan yang tersedia di toples yang ada di atas meja . Jadi saat ngomong suaranya jadi agak samar.


" Habisin dulu makanannya dodol!"

__ADS_1


" He he he he he."


Reyhan hanya tertawa mendengar ucapan Aurora. Dia mengambil lagi cemilan itu. Ternyata sangat enak dan gurih.


" Kak Rara coba deh cemilan ini, enak deh !"


" Makan aja nak . Tadi Tante mu yang buat."


" Siapa Oma ?"


" Yu hu ..... Tante cantik nan membahana datang!" belum sempat Oma nya menjawab Tante Aisyah sudah datang dengan satu piring pisang goreng.


" Wah ... pisang gorengnya masih hangat nih. Pasti enak deh ."


" Tentu dong... siapa coba yang buat ? ayo cicip dong," kata Tante Aisyah dengan senang.


" Enak banget loh Tan. Ya meskipun rasanya tetap seperti pisang goreng." Aurora mengambil satu biji dan mencomotnya.


" Kirain .... Tante ngasih bumbu ayam goreng."


" Emangnya enak ?" bukannya marah, Tante Aisyah malah menjadi penasaran.


" Mana saya tahu Tan. Kan belum coba," jawab Aurora yang langsung melahap pisang goreng yang masih hangat itu.


" Kamu nginap disini kan Ra?"


" Nggak bisa opa. Besok Rara ada kegiatan di kampus. Rencananya sepulangnya dari sini Rara mau belanja dulu , buat beli perlengkapan."


" Kan bisa bisa balik sini lagi Ra ."


" Lain kali aja opa. Rara janji akan tidur di sini."

__ADS_1


" Janji loh ya ?"


" Oke boss!"


Setelahnya Aurora berpamitan untuk melaksanakan sholat dhuhur terlebih dahulu. Mengingat waktunya sudah hampir habis. Begitupun dengan Reyhan.


Aurora menempati kamar yang memang sudah dipersiapkan khusus untuknya. Semua keperluannya pun sudah tersedia. Oma nya berharap Aurora bisa nyaman tinggal di kediamannya.


Setelah selesai mandi dan sholat, Aurora menghampiri Oma nya yang sedang berada di dapur. Sepertinya beliau sibuk membuat kue bersama Tante Aisyah.


" lagi masak apa Oma ?"


" Tante mu mau buat cumi goreng pedas. Katanya kamu suka sama makanan itu. Oma ma cuma ngeliatin doang."


" Tapi yang Rara lihat , Oma dari tadi sibuk mondar-mandir."


" Oma mah mana bisa diam ,Ra. Beliau nggak suka cuman duduk diam. Katanya badannya malah sakit semua."


" Ya iya lah. Kamu ma nggak ngerasain ."


" Itulah kenapa Isya nggak pernah ngelarang mama buat bantuin ."


" Nana kemana Tan ?"


" Katanya sih tadi sepulang sekolah langsung mau kerja kelompok."


" Rajin amat tuh anak."


" Biar pinter dong neng!"


" Oh !"

__ADS_1


__ADS_2