Kembalinya Ingatan Sang CEO

Kembalinya Ingatan Sang CEO
BAB 45


__ADS_3

Adrian sadar keesokan harinya. Saat itu hanya ada Nyonya Dania yang bersamanya. Perlahan matanya terbuka. Dia menatap ruangan yang serba putih. Dia menoleh ke arah mama nya yang sedang melamun.


" Ma...ma!" panggil Adrian dengan Sura lirih. Untung suasana sepi sehingga Nyonya Dania mendengarnya.


" Sayang ... kamu sadar ."


Mendengar suara anaknya, Nyonya Dania segera menekan tombol yang ada di samping tempat tidur. Lalu memandang putranya dengan mata berkaca-kaca.


" Ha...us !" ucap Adrian


Nyonya Dania langsung mengambil air putih yang ada di atas meja disamping tempat tidur. . Lalu perlahan memberikannya kepada Adrian menggunakan sedotan. Belum juga Adrian selesai minum Dokter Raka datang bersama perawat.


" Alhamdulillah... akhirnya kamu sadar juga. Apa yang kamu rasakan?" tanya Dokter Raka dengan ramah.


" .... "


" Kamu baik-baik saja kan Adrian ?"


" Em .... bagaimana dengan pak Ujang, Beliau baik-baik saja kan ?" bukannya menjawab pertanyaan dokter Raka melainkan menanyakan keadaan sang supir yang telah tiada.


" .... "


" .... "


Tidak ada yang menjawabnya. Dokter Raka maupun Nyonya Dania bungkam. Mereka terkejut sekaligus bingung dengan reaksi Adrian. Adrian yang belum mendapatkan jawaban mengulangi pertanyaannya kembali.


" Dimana pak Ujang ma ? Beliau baik-baik saja kan?"


Nyonya Dania shock mendengar ucapan Adrian. Sedangkan Dokter Raka masih bingung dengan seseorang yang Adrian cari . Dokter Raka merasa Adrian asing dengan dirinya. Apa yang sebenarnya terjadi?"


" Adrian _"


" Cukup Dok... aku ingin menanyakan keadaan supirku . Apakah beliau baik-baik saja?"


" Sayang.... apa yang kamu ingat sesuatu Nak?"


" Maksud Mama?"


" Apakah kamu sudah mengingat tentang kecelakaan itu?"


" Tentu saja ingat...rem mobil yang kami kendarai blong. Ada kendaraan tangki di depan kami dan tabrakan tak bisa terhindar."


" Kamu mengingatnya sayang?" tanya Nyonya Dania dengan mata berkaca-kaca.


" Sepertinya ingatan Adrian kembali pulih. Tetapi..."


" Tetapi apa Dokter?"


" Adrian...apakah kamu mengingat paman?"

__ADS_1


" ... "


Adrian memandang dokter Raka kemudian menggeleng kan kepalanya. Tentu saja membuat dokter Raka dan juga nyonya Dania kembali shock.


" Kamu yakin Nak... bukankah kamu sangat akrab dengan dokter Raka?"


" Apa maksud Mama, ketemu sama dokter saja baru kali ini. Tolong nggak usah mengalihkan perhatian deh! mana_"


" Assalamualaikum," salam Aurora dengan senyum terkembang diwajahnya.


Adrian tidak jadi melanjutkan ucapannya. Dia memandang Aurora yang mendekat ke arahnya. Siapa gadis kecil itu pikir Adrian.


" Wa alaikum salam warahmatulloh."


" Alhamdulillah ternyata Abang udah sadar. Sekarang apa yang Abang rasakan?" tanya Aurora dengan ceria. Dia menyempatkan datang ke rumah sakit untuk melihat kondisi Adrian.


" Kamu siapa?" tanya Adrian bingung.


" Oh my God... sakit hati adek bang," kata Aurora dengan sok dramatis.


" Lo siapa sih ... datang-datang malah bertingkah lebay. Lo nggak sekolah?"


" Ya Alloh ya Robb... jadi Abang benar-benar melupakan Rara? Paman ... Tante apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Aurora yang mulai serius.


Aurora memandang Adrian yang juga sedang memandangnya. Kemudian dia ingin memeriksa denyut nadi Adrian, tetapi Adrian tepis tangannya. Sakit rasanya hati Aurora ... inilah yang ia takutkan selama ini. Dia berusaha menepis perasaannya yang mulia tumbuh kepada Adrian.


" Sepertinya ingatan lamanya kembali sedangkan yang lain ia lupakan lagi," jawab dokter Raka.


Aurora menatap sang paman yang memberinya penjelasan. Adrian masih menatap Aurora untuk mengingatnya. Apakah dia salah satu keponakannya. Tapi siapa?


" Kamu bisa membacanya sendiri," jawab Dokter Raka sambil mengeluarkan map yang berisi hasil pemeriksaan Adrian. Aurora membaca dengan serius. Dia tidak disadari sedang diperhatikan oleh Adrian yang penasaran dengannya.


" Alhamdulillah... ingatan Abang akan segera pulih meskipun masih memerlukan waktu ."


" Hei kamu pikir aku amnesia!"


" Aduh... ternyata Abang nih galak juga ya Tan?"


" Baru tahu kamu? anak Tante ini sudah seperti kulkas dua pintu loh."


" Uh... dingin. Ya sudah deh... karena Abang nggak ingat sama Rara dan kebetulan juga masih ada urusan jadi Rara mohon undur diri ya Tan. Buat Abang cepat sembuh. Jangan marah-marah terus nanti cepat tua nggak ada yang naksir loh."


" Enak saja!"


" Slow men okeh! Tan ... Rara pamit dulu, Assalamualaikum," ucap Rara sambil mencium tangan Nyonya Dania.


" Wa alaikum salam warahmatulloh."


" Paman _"

__ADS_1


Belum sempat Aurora pamit pada dokter Raka, beliau masih memberinya pertanyaan.


" Mau kemana?"


" Mau ke kantor polisi... tadi polisi ganteng telpon suruh ambil motor sekalian ada yang ingin dipertahankan."


" Apakah tidak lebih baik bersama Om Arya Nak?"


" Ok Arya sekarang ada dimana?"


" Ya dikantornya, tetapi beliau juga sangat senang jika bisa melihat secara langsung para tersangka."


" Kalau begitu Tante suruh om Arya langsung ke kantor polisi aja langsung. Biar tunggu di sana."


" Apa nggak sebaiknya nunggu di sini saja nak?"


" Nggak usah Tante."


" Baiklah Tante tidak memaksa. Hati-hati di perjalanan."


" Sip bos assalamualaikum!"


" Wa alaikum salam warahmatulloh."


Aurora langsung pergi diikuti oleh Dokter Raka dibelakangnya. Tinggal Adrian bersama dengan Nyonya Dania. Suasana menjadi sunyi.


" Memangnya tadi siapa Ma, kok Adrian nggak pernah lihat. Putri siapa?"


" Nanti saja mama cerita. Banyak yang akan mama ceritakan. Tapi sebelum itu kamu harus baik duluan."


" Baiklah... tapi pak Ujang _"


" Nanti ya sayang , gimana kalau kamu makan dulu!"


Aurora berjalan dengan pandangan kosong. Meskipun dia tampak kuat tetapi sebenarnya dia sangat rapuh. Penolakan Adrian membuatnya merasakan kehilangan. Bagaimana pun hampir tujuh bulan mereka saling mengasihi.


Dokter Raka masih berada di belakang sang keponakan. Perawat yang tadi mengikutinya sudah ia suruh kembali. Dia khawatir dengan keadaan Aurora. Dia takut jika Aurora kembali terpuruk.


" Sayang... paman antar ya?"


Ucapan Dokter Raka menyadarkan Aurora. Dia tidak ingin membuat paman kesayangannya bersedih melihat keadaannya. Dia menghadap paman Raka sambil tersenyum.


" Tidak perlu paman , Rara bisa sendiri. Paman masih banyak yang harus diurus."


" Tapi_"


" Nggak ada tapi. Rara tahu paman mengkhawatirkan keadaan Rara. Tenang saja Rara baik-baik saja."


" Baiklah kalau begitu. Tapi jika ada apa-apa langsung hubungi paman oke!"

__ADS_1


"Oke!"


Rara berjalan keluar rumah sakit. Dia akan menaiki angkot ke kantor polisi. Meskipun dia kaya tidak ada kata risih waktu duduk di angkot.


__ADS_2