
" Wah mantab man ", seru Angga begitu dia berhasil menangkap ikan yang cukup besar . Padahal teman-temannya yang lain sudah mendapatkan hasil yang lebih banyak dari nya. Tapi mau apa dikata, ini hasil tangkapan pertamanya setelah menunggu hingga dua jam.
" Gitu aja bangga," sindir Rio.
" Dari pada pulang cuma bawa ember , malu dong."
" Siapa yang pulang cuman bawah ember , lihat hasil tangkapan ku ," tunjuk Rio pada hasil tangkapannya.
" Ya gua lah ... siapa lagi coba. Gua frustasi tau kalian udah dapat banyak sedangkan gua belum dapat apa-apa. Makanya gua seneng banget akhirnya pancingan gua mendapatkan hasil. Gede lagi... nggak malu-malu in kan jadinya."
" Kirain Lo nyindir gua ," kata Rio yang merasa dia salah paham atas ucapan Angga.
" Ya salam..... jadi Lo merasa tersindir?makanya jadi orang jangan sensitif. Udah tahu dapat ikan banyak masih aja tersindir."
" Kita langsung pulang kan ngga ? udah sore nih ," tanya Adrian yang merasa sudah puas dengan hasil tangkapannya.
" Apa nggak seharusnya kita tidur aja disini? Sayang dong ... kapal se mewah ini kita sia-siakan?"
" Nggak lah ... Nanti kita cari waktu lain untuk liburan. Sekarang gua mau ngasih ni ikan buat Rara pasti dia seneng banget deh ."
" Dasar bucin .... Emang boleh kita kesana?"
" Siapa yang larang. Yang penting dia sudah longgar dan nggak ada tugas ."
" Terus Lo mau kasih ikan mentah gitu ?"
" Ya nggak lah. Mati gua masak dulu sebelum gua antar."
" Kirain mau Lo antar saat masih mentah."
" Ya nggak lah. Lo suruh putar balik dong Wa ."
" Oke!"
Dewa menghampiri nahkoda untuk memutar balikkan kapal. Nahkoda menurut. Tidak butuh waktu lama mereka sudah tiba di dermaga.
Adrian yang tadinya naik ikut mobil Angga, sudah ditunggu oleh sopirnya. Tadi Adrian menelpon sopir untuk menjemputnya.
" Gua pulang dulu ya... sudah ditunggu supir !"
" Ok hati-hati!"
" Sip !"
Adrian meminta sopir untuk berhenti di swalayan yang dekat dengan apartemennya. Dia memutuskan untuk pulang ke apartemen guna memasak ikan hasil tangkapannya.
" Mampir di swalayan pak !"
" Baik tuan!"
Sopir menghentikan mobilnya . Kemudian Adrian turun dari mobil dan memasuki swalayan tersebut.
__ADS_1
" Selamat datang ... " sapa pramuniaga dengan ramah. Adrian hanya mengangguk dengan sopan tanpa menjawab. Meskipun begitu pramuniaga itu terpesona dengan ketampanan Adrian.
Adrian langsung berjalan kearah bumbu-bumbu dapur. Dia yang sudah hafal dengan makanan favorit Aurora langsung saja membeli satu kilo cabai . Tidak lupa dengan bawang merah, bawang putih, tomat, kemiri dan bumbu lainnya.
Adrian juga membeli camilan yang bisa Aurora makan bersama teman-temannya dikala senggang. Setelah semuanya ia beli , Adrian menuju ke kasir. Dia sangat bersyukur tidak ada yang antri , jadi dia bisa segera pulang .
Setibanya di apartemen , Adrian memutuskan untuk mandi terlebih dahulu mengingat waktu Maghrib sudah tiba. Setelah melaksanakan sholat Maghrib barulah mengeksekusi ikan hasil tangkapannya.
Dengan lihai dan cekatan, Adrian mengelola ikan tersebut. Bukan masakan istimewa sih. Hanya ikan bakar plus sambal istimewa. Tentu saja hasil kreasi Adrian.
Adrian sangat puas dengan hasil olahannya. Dia juga sempat makan malam sebelum membungkusnya untuk Aurora. Bukan hanya untuk Aurora tetapi juga untuk teman-temannya. Karena tidak mungkin Aurora makan sendiri .
Setelah semuanya siap , diapun membersihkan dirinya kembali dan mengganti pakaiannya. Setelah dirasa pas , Adrian pun berangkat. Sopirnya sudah standby di depan apartemen.
" Ayo pak !"
" Oh ... mari tuan . Kalau boleh tahu sekarang kita kemana tuan ?"
" Ke Universitas Tunas Bangsa Pak !"
" Baik tuan ... silahkan!"
Hanya dalam waktu setengah jam Adrian sudah sampai di kampus. Adrian menyuruh sopirnya menunggu di parkiran. Sedangkan ia sendiri langsung pergi ke tempat Aurora berkemah.
Aurora bersama teman-temannya berada di lapangan. Mereka sedang pertunjukan pentas seni. Setiap kelompok diwajibkan untuk tampil. Ada yang tampil nyanyi, stand up komedi, nari dan lainnya.
Adrian mengetikkan pesan untuk Aurora.
Aurora : " Wa alaikum salam warahmatulloh... apa apa ya bang ?"
Adrian : " Adek bisa kesini sebentar tidak ?"
Aurora: " Kemana?"
Adrian : " Abang sekarang ada di depan pintu masuk ."
Aurora :" Pintu masuk mana ?"
Adrian : " Pintu masuk hatimu sayang !"
Aurora : " Wah ... hati adek meleleh bang ."
Adrian : " Tenang sayang , jika meleleh Abang yang akan bekukan."
Aurora : " Abang si sweet deh ."
Adrian : " Adek bisa kesini kan ?"
Aurora : " Loh ... kemana toh bang ?"
Adrian: " Abang ada di pintu masuk sekarang sayang. Yang dijaga panitia."
__ADS_1
Aurora : " What!!! kalau begitu tunggu sebentar bang."
" BESTie... gua ke depan dulu ya. Ada yang mau ketemu gua nih ," ijin Aurora kepada teman-temannya.
" Kemana ?" tanya Bella.
" Ke depan... ada kak Adrian."
" Baiklah... tapi jangan lama-lama loh. Sebentar lagi giliran kelompok kita."
" Ok!"
Aurora segera beranjak dari tempat ia duduk. Dia berjalan dengan cepat karena takut jika sewaktu-waktu namanya dipanggil. Karena dia yang akan mewakili temanya untuk tampil.
" Abang," sapa Aurora setelah tiba di depan Adrian yang sedari tadi memainkan ponselnya.
" Sudah makan belum dek ?"
" Belum bang... nunggu acara selesai dulu," jawab Aurora dengan jujur . Karena dirinya memang belum makan malam.
" Ini Abang bawakan makanan. Jangan lupa dimakan !"
Adrian menyerahkan bungkusan yang tadi ia bawa kepada Aurora. Tentu saja diterima dengan aik oleh Aurora. Jadi dia tidak perlu mencari makanan lagi.
" What... terimakasih loh bang. Ehm .... baunya harum lagi. Ikan bakar ya bang."
" Ternyata hidung adek berfungsi sangat baik. Sampai bau ikan bakarnya tercium."
" Lah Emang baunya harum banget bang . Betul kagak kak ?" tanya Aurora kepada panitia yang sedari tadi melihat interaksi Aurora dan Adrian tanpa kedip.
" Eh !"
" Kaget ya kak... santai aja. Oh ya bang ... lebih baik sekarang Abang balik. Sudah malam . Jangan sampai om sama Tante khawatir. Tenang ... makanannya pasti Rara habiskan."
" Baiklah... Abang pulang dulu. Oh iya ini buat Diandra, tolong kamu berikan ya ?"
Adrian memberikan satu bungkusan lagi untuk Diandra dan teman-temannya. Tidak mungkin dia melupakan adik tersayangnya.
" Tenang... pasti akan adek berikan," kata Aurora dengan tersenyum lembut.
" Terimakasih sayang ... Abang pulang dulu, Assalamualaikum!"
" Wa alaikum salam warahmatulloh.... hati-hati bang !"
" 👍👍👍😘😘😘"
" 🤭🤭🤭"
" Hati adek meleleh bang," goda sang panitia membuat Aurora tersipu.
" Ini buat kakak . Terimakasih ya kak ," kata Aurora sambil memberikan satu bungkus cemilan dari Adrian. Sebelum panitia itu me jawab Aurora sudah berlalu terlebih dahulu. Kakak panitia itu tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
__ADS_1