Kembalinya Ingatan Sang CEO

Kembalinya Ingatan Sang CEO
BAB 61


__ADS_3

Setelah menurunkan Tante Ratna di rumah sakit, Adrian membawa Aurora ke kantornya. Dia masih ada sedikit urusan yang perlu diurus. Dia ingin segera mendepak Romi dari perusahaan. Apalagi bukti-buktinya juga sudah terkumpul.


" Ayo dek turun dulu!" kata Adrian saat tiba di depan kantor.


" Memangnya Rara harus ikut ya bang?" tanya Aurora.


" Kenapa... adek nggak mau ikut turun?"


" Mau sih tapi deg-degan."


" Ngapain deg-degan coba, Cuek aja kali kan ada Abang," sahut Adrian sambil membuka pintu mobil dan keluar diikuti oleh Aurora. Dia tidak menunggu Adrian untuk membukakan pintu untuknya.


" Besar juga kantor Abang," kata Aurora sambil menatap sekelilingnya.


" Suka nggak dek ?"


" Suka sama siapa?"


" Sama kantor Abang lah... masak sama karyawan Abang."


"Biasa aja sih."


" What!!! kok responnya gitu amat !"


" Terus harus bilang wow gitu?"


" Ya nggak gitu juga kali dek !"


" Terus?"


" Nggak usah terus nanti nabrak."

__ADS_1


" Selamat siang Tuan Adrian . Semua sudah saya siapkan seperti yang sudah anda instruksikan. Semua pemegang saham juga akan segera datang. Apa ada yang perlu saya persiapkan lagi?" tanya seorang pria paruh baya tiba-tiba mendatanginya.


" Tidak ... terimakasih. Ayo dek keruangan Abang !"


" Ok bos!


Kedatangan Adrian bersama Aurora membuat karyawan heboh. Banyak dari mereka yang mempertanyakan status Aurora.


" Cewek itu imut banget ... jadi pengen cubit."


" itu adiknya bos Adrian tidak ya ?"


" Berikan satu untukku ya Alloh!"


Itulah sebagian ucapan karyawan saat Adrian dan Aurora telah masuk ke dalam lift. Wajah imut Aurora memang mengecoh orang-orang yang melihatnya.


" Kamu duduk disini dulu ya. Ada yang harus saya urus. Kamu boleh melakukan apapun untuk mengusir kebosanan."


" Memangnya Abang mau pergi kemana?"


" It"s ok bang. Nggak masalah. Biar Rara istirahat dulu. Nanti jika Abang udah selesai baru kita jalan."


" Thanks," ucap Adrian dengan tersenyum.


Adrian keluar dari ruangan itu dengan wajah datar. Wajah yang tadinya penuh senyuman dan terlihat lembut sudah tiada.


Sedangkan di ruang meeting sudah ada Romi yang duduk dengan bingung. Dia tidak tahu menahu tentang rapat kali ini. Sesampainya di kantor dia sudah disuruh untuk memasuki ruang meeting. Romi memang datang terlambat karena bangun kesiangan.


Adrian masuk kedalam ruangan meeting dengan raut wajah datar dan dingin. Romi yang melihat kedatangan Adrian langsung pias. Dari kabar yang ia terima kondisi Adrian cukup parah. Padahal mata-matanya telah berbalik mengkhianatinya.


" Selamat pagi menjelang siang semuanya!" sapa Adrian begitu ia berdiri di depan semua orang.

__ADS_1


Romi yang memang masih menyandang status CEO menempati tempat yang biasanya menjadi tempat duduk Adrian. Jadi Adrian berdiri di depan semua orang. Disampingnya sudah ada seseorang yang mendampinginya mencari semua bukti kebusukan Romi.


" Pagi menjelang siang pak!" jawab orang-orang itu serempak.


" Pasti banyak pertanyaan mengapa saya mengadakan rapat mendadak hari ini ."


" Benar nak Adrian sebenarnya ada apa ?" tanya salah satu dewan direksi yang memang usianya lebih tua dari Adrian. Mungkin seumuran tuan Arya.


" Sebelum saya menjawabnya saya ingin bertanya dengan saudara Romi terlebih dahulu. Saudara Romi... adakah sesuatu yang ingin anda katakan?" tanya Adrian sambil mencoba meredam amarahnya agar tidak sampai menonjok mantan asistennya sekaligus juga sahabatnya.


" Apa maksud anda tuan Adrian ?" tanya Romi pura-pura tidak mengetahui maksud dari ucapan Adrian. Kedua tangannya sudah mengenal kuat di bawah meja.


" Saya akan memaafkan semua kesalahan anda jika mau mengakuinya."


" Maaf tuan .... tapi saya tidak merasa mempunyai kesalahan. Yang ad selama saya menggantikan anda tidak ada penurunan sama sekali," jawab Romi dengan angkuh.


" Betulkah? Kalau begitu mari lihat laporan ini. Jack !"


" Baik bos!"


Jack langsung membagikan berkas yang telah ia persiapkan sebelumnya. Semua mata langsung melotot tak percaya. Bahkan Romi pun tak kalah kaget. Dia sudah merasa semua yang ia lakukan sudah sempurna dan tidak mungkin ada yang mengetahuinya. Tapi dia lupa dengan istilah " Sebaik-baiknya menyimpan bangkai baunya pasti tercium juga".


" Apa apaan ini!! ini semua fitnah. Saya tidak pernah melakukan hal seperti ini !" teriak Romi menyangkal.


" Betulkah!!! tapi sayangnya semua itu bukan fitnah. Saya mempunyai semua bukti kongkritnya."


" Tidak..tidak !"


" Anda tidak bisa mengelak. Anda harus mempertanggung jawabkan kesalahan anda pada pihak yang berwajib."


" Brengsek!!! pasti itu akal-akalan mu agar aku turun dari kursi CEO kan ?"

__ADS_1


" Woow 👏👏👏👏 tanpa menggeser kedudukan anda... perusahaan ini adalah milik saya . Selain itu pemilik saham terbesar juga milik saya. Jadi untuk apa saya harus memfitnah anda hanya untuk mengambil posisi CEO ?"


Romi diam tak berkutik. Wajahnya langsung pucat pasi. Tak lama kemudian polisi datang dan menangkapnya. Mau tidak mau dia harus mempertanggung jawabkan semua perbuatannya. Meskipun awalnya memberontak tapi akhirnya dia berhasil dibekuk.


__ADS_2