
Semalam merupakan hari bersejarah bagi Aurora. Dia bahkan sampai tidak bisa memejamkan matanya hingga pagi hari . Untung masih hari libur . Jadi dia bisa tidur sepuasnya, setelah sholat subuh Aurora langsung tidur .
" Tumben kak Rara belum bangun sampai jam segini , " ujar Reyna yang sudah duduk di ruang makan bersama Reyhan . Keduanya sudah bangun dari tadi dan lapar . Tetapi tidak ada yang bisa dimakan .
" Pasti semalam kak Rara begadang, jadi bangunnya siang ," tukas Reyhan sambil memainkan ponselnya.
" Kak Rey benar . Apakah sekarang kita akan pesan makanan?" tanya Reyna yang merasa perutnya sudah tidak bisa di ajak kompromi. Karena memang setiap pagi biasanya sudah ia isi . Sekarang sampai jam sembilan tetapi tidak ada tanda-tanda jika Aurora mau bangun
" Tentu saja ... memangnya mau nunggu kak Rara bangun dulu?"
" Ya nggak lah . Tapi kak Rey yang pesen !"
" Iya !"
" Kak Rara dipesankan juga tidak ?"
" Ehm...."
Ting tong Ting tong
" Sepertinya ada tamu deh kak . Siapa kira-kira yang pagi-pagi gini bertemu?" Reyna penasaran siapa yang bertamu pagi-pagi begini .
" Mana kakak tahu . Tapi dari pada ngomong lebih bukain pintu !" suruh Reyhan pada Reyna .
__ADS_1
Tanpa disuruh dia kali dia keluar . Apalagi dia penasaran, siapa yang bertamu di pagi hari begini .
" Loh kak Rian ," kata Reyna begitu membuka pintu di ruang tamu . Ternyata setelah pintu di buka malah ada Adrian yang membawa bungkusan entah apa isinya.
" Assalamualaikum..." sapa Adrian.
" Wa alaikum salam warahmatulloh."
" Ganggu nggak ?"
" Nggak.... silahkan masuk kak !"
" Terimakasih... kak Rara mana ?"
" Yang sudah kangen sama tunangannya... pagi-pagi ngapel ," sindir Reyna . Yang disindir malah terkekeh geli. Dia memang sudah kangen dengan Aurora. Apalagi sedari pagi telponnya tidak diangkat.
" Masih tidur ! entah semalam tidur jam berapa. Sampai sekarang belum bangun juga."
" Kok bisa ? nggak lagi sakit kan ? tolong lihatin dong ," kata Adrian beruntun.
Hampir saja dia ngomel tetapi mendengar ucapan sakit , Reyna jadi khawatir. Tanpa bicara lagi dia langsung berlari ke lantai dua dimana kamar Aurora berada. Adrian melongo melihatnya. Gesit amat tuh anak ! pikir Adrian sambil geleng-geleng kepala.
Untung pintu Aurora tidak terkunci . Karena memang sengaja sesudah sholat subuh tadi ia buka . Ia tidak mau tidurnya terganggu dengan gedoran pintu .
__ADS_1
Reyna langsung masuk begitu saja. Terlihat Aurora yang masih tidur terlelap. Reyna mendekati Aurora dan memeriksa keningnya. Ternyata tidak normal dan tidak ada tanda-tanda demam. Dia langsung menghela nafas lega. Pelan-pelan dia keluar dari kamar tersebut.
Reyna langsung kembali ke ruang tamu . Adrian langsung bangun begitu melihat kedatangan Reyna. Dia bertanya-tanya kok Aurora tidak ikut juga . Apa jangan-jangan tunangannya benar-benar sakit ?
" Kak Aurora masih tidur . Mungkin semalam tidak bisa tidur . Sudah saya cek keadaannya juga tidak panas . Jadi insya Alloh baik-baik saja . Kita tidak perlu khawatir ," cerocos Reyna panjang lebar . Padahal Adrian belum tanya.
" Alhamdulillah... apa kalian sudah makan ?"
" Belum ... kak Reyhan masih pesan . Apa kakak bawa makanan?"
" Siapa dek ?" tanya Reyhan dari arah dapur . Sepertinya dia penasaran dengan tamunya sampai Reyna belum kembali ke dapur.
" Loh kak Adrian ... ngapain kak ?" tanya Reyhan yang sudah menyusul ke ruang tamu .
" Apel dong ," sindir Adrian.
" Kasian deh ... yang mau di apelin masih ngorok ."
" Nggak masalah dong , kakak bisa tunggu . Kakak juga bisa nyiapin masakan kesukaan tunangan kakak."
" Jadi kakak mau masak disini ?"
" Tentu... kan kakak sudah bawah bahannya."
__ADS_1
" Kirain bawa makanan . Ternyata masih bahan . Yakin kak Rian mau masak ? Emang. bisa gitu ?" tanya Reyna tak yakin jika Adrian bisa memasak .
" Lihat aja nanti !"