Kembalinya Ingatan Sang CEO

Kembalinya Ingatan Sang CEO
BAB 87


__ADS_3

Semalam merupakan hari bersejarah bagi Aurora. Dia bahkan sampai tidak bisa memejamkan matanya hingga pagi hari . Untung masih hari libur . Jadi dia bisa tidur sepuasnya, setelah sholat subuh Aurora langsung tidur .


" Tumben kak Rara belum bangun sampai jam segini , " ujar Reyna yang sudah duduk di ruang makan bersama Reyhan . Keduanya sudah bangun dari tadi dan lapar . Tetapi tidak ada yang bisa dimakan .


" Pasti semalam kak Rara begadang, jadi bangunnya siang ," tukas Reyhan sambil memainkan ponselnya.


" Kak Rey benar . Apakah sekarang kita akan pesan makanan?" tanya Reyna yang merasa perutnya sudah tidak bisa di ajak kompromi. Karena memang setiap pagi biasanya sudah ia isi . Sekarang sampai jam sembilan tetapi tidak ada tanda-tanda jika Aurora mau bangun


" Tentu saja ... memangnya mau nunggu kak Rara bangun dulu?"


" Ya nggak lah . Tapi kak Rey yang pesen !"


" Iya !"


" Kak Rara dipesankan juga tidak ?"


" Ehm...."


Ting tong Ting tong


" Sepertinya ada tamu deh kak . Siapa kira-kira yang pagi-pagi gini bertemu?" Reyna penasaran siapa yang bertamu pagi-pagi begini .


" Mana kakak tahu . Tapi dari pada ngomong lebih bukain pintu !" suruh Reyhan pada Reyna .

__ADS_1


Tanpa disuruh dia kali dia keluar . Apalagi dia penasaran, siapa yang bertamu di pagi hari begini .


" Loh kak Rian ," kata Reyna begitu membuka pintu di ruang tamu . Ternyata setelah pintu di buka malah ada Adrian yang membawa bungkusan entah apa isinya.


" Assalamualaikum..." sapa Adrian.


" Wa alaikum salam warahmatulloh."


" Ganggu nggak ?"


" Nggak.... silahkan masuk kak !"


" Terimakasih... kak Rara mana ?"


" Yang sudah kangen sama tunangannya... pagi-pagi ngapel ," sindir Reyna . Yang disindir malah terkekeh geli. Dia memang sudah kangen dengan Aurora. Apalagi sedari pagi telponnya tidak diangkat.


" Masih tidur ! entah semalam tidur jam berapa. Sampai sekarang belum bangun juga."


" Kok bisa ? nggak lagi sakit kan ? tolong lihatin dong ," kata Adrian beruntun.


Hampir saja dia ngomel tetapi mendengar ucapan sakit , Reyna jadi khawatir. Tanpa bicara lagi dia langsung berlari ke lantai dua dimana kamar Aurora berada. Adrian melongo melihatnya. Gesit amat tuh anak ! pikir Adrian sambil geleng-geleng kepala.


Untung pintu Aurora tidak terkunci . Karena memang sengaja sesudah sholat subuh tadi ia buka . Ia tidak mau tidurnya terganggu dengan gedoran pintu .

__ADS_1


Reyna langsung masuk begitu saja. Terlihat Aurora yang masih tidur terlelap. Reyna mendekati Aurora dan memeriksa keningnya. Ternyata tidak normal dan tidak ada tanda-tanda demam. Dia langsung menghela nafas lega. Pelan-pelan dia keluar dari kamar tersebut.


Reyna langsung kembali ke ruang tamu . Adrian langsung bangun begitu melihat kedatangan Reyna. Dia bertanya-tanya kok Aurora tidak ikut juga . Apa jangan-jangan tunangannya benar-benar sakit ?


" Kak Aurora masih tidur . Mungkin semalam tidak bisa tidur . Sudah saya cek keadaannya juga tidak panas . Jadi insya Alloh baik-baik saja . Kita tidak perlu khawatir ," cerocos Reyna panjang lebar . Padahal Adrian belum tanya.


" Alhamdulillah... apa kalian sudah makan ?"


" Belum ... kak Reyhan masih pesan . Apa kakak bawa makanan?"


" Siapa dek ?" tanya Reyhan dari arah dapur . Sepertinya dia penasaran dengan tamunya sampai Reyna belum kembali ke dapur.


" Loh kak Adrian ... ngapain kak ?" tanya Reyhan yang sudah menyusul ke ruang tamu .


" Apel dong ," sindir Adrian.


" Kasian deh ... yang mau di apelin masih ngorok ."


" Nggak masalah dong , kakak bisa tunggu . Kakak juga bisa nyiapin masakan kesukaan tunangan kakak."


" Jadi kakak mau masak disini ?"


" Tentu... kan kakak sudah bawah bahannya."

__ADS_1


" Kirain bawa makanan . Ternyata masih bahan . Yakin kak Rian mau masak ? Emang. bisa gitu ?" tanya Reyna tak yakin jika Adrian bisa memasak .


" Lihat aja nanti !"


__ADS_2