Kembalinya Ingatan Sang CEO

Kembalinya Ingatan Sang CEO
BAB 46


__ADS_3

" Bisa ke kantor polisi kan Pak," kata Aurora saat dirinya masuk angkot itu.


" Bisa neng ... angkot saya memang selalu melawati kantor polisi."


" Alhamdulillah kalau begitu ."


" Memangnya kenapa neng?"


" Saya baru pertama kali ini mau ke kantor polisi pak. Mau berangkat sendiri takutnya nyasar."


" Tenang neng ... pak Sapri akan mengantarkan neng cantik ini dengan baik."


" Terimakasih pak!"


" Ingat binik di rumah loh pri ," kata seorang penumpang.


" Aduh... tanpa kau ingatkan juga selalu ingat Gus!"


" Siapa tahu aja Lo lupa."


" Mana bisa lupa Gus... setiap satu jam sekali yayang gua selalu telpon."


" Posesif amat binik Lo!"


" Itu tandanya yayang gua cinta ."


Aurora hanya bisa menahan tawa mendengan ucapan sang sopir dan salah satu penumpang. Dia menghadap keluar menikmati pemandangan yang ada.


" Sudah tiba neng!"


" Terimakasih Pak . Ini buat bapak," kata Aurora sambil mengeluarkan satu lembar uang ratusan ribu.


" Aduh belum ada kembalinya neng. Uang receh ada kan?"


" Tidak perlu kembalian pak, itu buat bapak semua. Itung-itung rejeki."


" Terimakasih."


" Sama-sama pak. Terimakasih tumpangannya. Assalamualaikum!"


"Wa alaikum salam warahmatulloh."


" Alhamdulillah yang namanya rezeki memang nggak kemana."


" Lanjut pri...!"


" Ok siap!"


Aurora melangkah ke kantor polisi . Dia melihat motornya yang sedang terparkir . Dia tersenyum senang . Kemudian dia lapor tentang tujuannya ke sini.


" Assalamualaikum..."


" Wa alaikum salam warahmatulloh... ada yang bisa kami bantu dek?"


" Saya ingin bertemu dengan polisi tampan yang kemarin."


" Kami juga tampan loh dek nggak kalah sama aktor Korea."


" Percaya sih pak ... tapi polisi yang saya cari lebih tampan dari bapak."


" Namanya siapa?"


" Belum tanya ... nanti saja kalau sudah ketemu saya tanyakan."


Polisi di depan Aurora menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia menoleh ke temannya yang sedari tadi diam. Dilihat dari ekspresinya sudah pasti temannya itu sedang menahan tawa.

__ADS_1


" Oke deh... adek kesini mau urusan apa selain cari polisi tampan?"


" Sebenarnya saya mau ambil motor saya yang di depan selain membuat laporan."


" Jadi mobil kamu di tilang?"


" Nggak juga sih... kemarin saya tinggal begitu saja di jalan karena Abang saya sedang kritis . Lalu sama polisi tampan di bawa ke sini. Katanya suruh ambil."


" Boleh pinjam SIM nya dek?"


" Ini Pak!"


Aurora menyerahkan dua SIM yang ia punya. SIM A dan SIM C. Kedua polisi itu kaget . Mereka melihat kearah Aurora yang nampak seperti anak SMP yang imut. Mereka nampak masih kurang percaya sehingga meminta KTP Aurora.


" Coba lihat KTP nya dek!"


" Silahkan!"


" Nama Dewi Aurora."


" Itu nama saya pak."


" Kamu umur Dua puluh empat tahun nggak salah?"


" Nggak lah pak, apa butuh kartu keluarga juga?"


" Sekarang kerja atau gimana?"


" Sebentar lagi mau kuliah."


"..."


Keduanya memandang Aurora dengan pandangan rumit. Aurora sampai bingung sendiri.


" Bapak-bapak ini baik saja kan?"


" Loh!"


" Panggil nama saya Bima," kata Bima sambil mengulurkan tangannya.


Meskipun bingung Aurora menyambut uluran tangan tersebut.


" Saya Aksa," ucap polisi satunya. Dia pun mengulurkan tangannya yang disambut baik oleh Aurora .


" Jadi bagaimana ya?"


" Tunggu sebentar... akan saya tanyakan dulu."


Polisi yang bernama Bima itu berdiri dan masuk ke dalam. Kurang lebih sepuluh menit dia sudah kembali.


" Kompol Akmal menunggu anda di dalam."


" Siapa Kompol ?"


" Polisi tampan yang tadi ."


" Oh begitu terimakasih. Kalau begitu saya masuk dulu ."


" Tunggu!"


" Ada apa lagi?"


" Saya cuma mau memberi tahu. Kompol Akmal sudah menikah dan memiliki seorang bayi perempuan yang cantik. Jadi_"


" Terus urusan saya apa ya pak?"

__ADS_1


" Mungkin saja kamu suka sama ketampanan Kompol Akmal," jawab Bima dengan wajah memerah.


" Ya Alloh pak kirain apaan. Tenang pak saya tidak berniat jadi pelakor, jadi bapak tidak perlu khawatir oke!"


" Panggil nama saya Bima."


" Oke... kalau begitu terimakasih infonya Bima."


Aurora langsung masuk kedalam menghiraukan kedua polisi yang kini membicarakannya.


" Kamu suka sama gadis tadi?"


" Siapa yang nggak suka bro... cantik banget dan imut lagi. Kirain tadi masih umur tiga belasan. ternyata sudah dua puluh empat. Sumpah malu banget tadi."


" Tapi dianya mau kagak sama Lo."


" Maba saya tahu... tapi dari responnya tadi biasa aja tuh. Padahal aku juga nggak kalah tampan loh sama Kompol Akmal."


" EHM...kerja jangan ngobrol saja!"


" Siap komandan!"


Aurora yang memasuki ruangan langsung mencari orang yang sudah ia kenal. Tapi nggak ada jadi dia menanyakan kepada polisi yang ada di sana.


" Maaf pak ... Kompol Akmal dimana ya?"


" Ada di ruangannya dek... tuh."


" Terimakasih pak."


Aurora menuju ruangan yang ditunjuk oleh polisi tadi. karena ruangannya tertutup dia pun mengetuk pintunya.


Tok tok tok


" Assalamualaikum.."


" Wa alaikum salam warahmatulloh... Masuk!"


Ceklek


" Silahkan duduk!"


" Terimakasih pak."


" Karena kamu sudah ada di sini saya ingin bertanya bagaimana peristiwa itu terjadi."


" Baik pak sebenarnya ....."


Aurora menceritakan semuanya. Bagaimana ia bisa ada di lokasi kejadian. Apa saja yang ia lakukan.


" Boleh minta KTP nya?"


" Silahkan pak."


Kompol Akmal melihat KTP Aurora dan memeriksanya. Setelah itu ia kembalikan lagi. Sepertinya dia ingin memastikan sesuatu.


" Terimakasih sudah bersedia memenuhi panggilan kami. Motornya ada di depan. Nona sudah bisa membawanya pulang."


" Terimakasih pak."


" Sama-sama... kami juga berterima kasih kepada nona."


" Assalamualaikum "


" Wa alaikum salam warahmatulloh."

__ADS_1


Aurora keluar dari kantor polisi dan mengambil motornya untuk dibawa pulang.


__ADS_2