Kembalinya Ingatan Sang CEO

Kembalinya Ingatan Sang CEO
BAB 38


__ADS_3

Setelah mengganti pakaiannya, Aurora berpamitan kepada Reyna dan juga Bu ida. Tante Ratna dan juga paman Raka masih ada di rumah sakit, sedangkan Reyhan masih belum kembali dari sekolah .


Tok tok tok tok


Aurora mengetuk pintu adik angkatnya. Belum ada sahutan . Aurora kembali mengetuk pintu itu .


Tok tok tok


" Siapa?" tanya suara yang ada di dalam kamar.


" Kak Rara!" jawab Rara setengah berteriak.


Ceklek


Reyna membuka pintu dengan masih memakai mukena. Ternyata dia baru selesai melakukan sholat dhuhur.


" Ada apa kak ?"


" Apakah kak Rara mengganggu?"


" Tidak kok, sudah selesai. Sepertinya kak Rara mau pergi , ya?" tanya Reyna


" Iya ... Kakak mau ambil sahabat-sahabat kakak untuk dibawa ke kota."


" Memangnya tempatnya sudah selesai kak?" tanya Reyna lagi .


Reyna dan juga Reyhan telah ia beritahu perihal white, wolf and wolfy . Mereka juga sudah diajak ke lokasi yang akan dijadikan hutan buatan itu.


" Belum sih ... tapi kalau kakak nunggu lebih lama lagi , takut ada yang memburunya. Apalagi hewan seperti itu sudah langka di sini."


" Betul juga sih . Apa Kakak mau ngajak Reyna?"


" Memangnya kamu mau ikut?"


" Nggak juga sih ... lagian besok ada kerja kelompok."


" Kalau begitu tolong nanti kamu sampaikan kepergian kakak pada Tante Ratna dan juga paman Raka . Oh iya satu lagi ... beritahukan pada Reyhan juga."


" Insyaalloh... kakak harus hati-hati. Jangan lupa kasih kabar."


" Ok ... Kak Rara berangkat dulu. Assalamualaikum."


" Wa alaikum salam warahmatulloh."


Setelah selesai berpamitan pada Reyna, Aurora menghampiri Bu Ida yang ada di dapur. Selain berpamitan, dia juga berniat membawa bekal. Sebab dia tahu kalau Bu Ida sudah masak banyak. Kasian nanti kalau tidak ada yang makan.


" Bu... ada makanan tidak?" tanya Aurora pada Bu Ida yang sedang membersihkan kompor.


" Ada neng , ibu masak banyak kan ada temannya neng Rara . ... apa mau makan siang sekarang?"


" Nggak Bu , Rara masih kenyang. Kalau makanannya banyak . Rara pengen bawa bekal."


" Bekal buat apa ?"


" Rara mau jalan-jalan ke desa . Tempat Rara tinggal kemarin."


" Memangnya ada urusan apa neng?"


" ... "


" Maaf ... kok ibu jadi kepo ya."


" Nggak papa Bu... ada urusan yang perlu Rara urus."


" O ... gitu. Apa tuan Raka sama Nyonya Ratna sudah tahu ?"


" Belum bilang sih. Sekarang kan paman lagi sibuk. Tolong nanti bilangin sama beliau."

__ADS_1


" Baik neng. Ini semua sudah siap."


" Terimakasih... Rara mungkin nanti malam tidak bisa pulang Bu. Sebab jauh juga tempatnya."


" Berapa hari neng?"


" Belum tahu Bu... Insya Alloh begitu urusan Rara selesai langsung pulang."


" Kalau begitu hati-hati dijalan."


" Terimakasih Bu, Assalamualaikum."


" Wa alaikum salam warahmatulloh."


Begitu selesai berpamitan Rara membawa bekal yang sudah dikemas , berjalan kearah ruang tamu dimana teman-temannya sudah menunggu.


Begitu melihat Aurora yang datang dengan tas punggung dan juga bekal , keempat pemuda itu langsung berdiri. Adrian mengambil tas yang ada di pundak Aurora untuk diambil. Tingkah Adrian yang seperti itu menjadi perhatian tiga pemuda lainnya.


" Sudah siapkah?"


" Sudah dong... lihat persiapan Rara!"


" Kalau gitu kita berangkat sekarang?"


" Jom !"


Mereka berlima langsung berangkat. Meskipun awalnya mereka berdebat tentang mobil siapa yang akan mereka pakai. Karena mereka akan pergi berlima.


" Bagaimana dengan mobil untuk membawa hewan-hewan itu?" tanya Aurora kepada Dewa .


" Tenang saja mereka sudah berangkat." jawab Dewa santai.


" Siapa?"


" Anak buah ku lah siapa lagi?"


" Maksudnya apa? kalau ada anak buah ya enak lah. Kita tinggal suruh ini itu . Asal ada uangnya. Masak gitu nggak ngerti."


" Maksud gua tuh... buah itu kan rasanya bermacam-macam..Ada yang asam, manis dan juga pahit. Kalau anak buah itu rasanya apa ?" tanya Aurora dengan menahan tawa. Baginya tiada hari tanpa usil.


" Dasar kutu kupret , mana ada rasanya coba."


" Kirain ... ha ha ha."


Suasana mobil begitu ramai .


" Cewek dek... yang manis dikit Napa?"tegur Adrian dengan lembut .


Adrian ada disampingnya Aurora. Adrian nampak posesif. Sebenarnya dia kurang nyaman dengan kedekatan Aurora dengan ketiga pemuda yang mengaku sebagai sahabat itu. Entah kenapa ya?


" Kalau adek manis-manis nanti banyak semut yang ngerubung dong bang. Yang ada gatal-gatal semua."


" Emang gula?"


" Ya kali !"


" Ngalah deh!"


" Ha ha ha ha ha ha "


" Kita nanti bermalam dimana?"


" Gantian aja nyetirnya gimana. Kalau lapar baru turun. Nanti yang mau tidur ya tinggal tidur . Gitu aja ... gimana?"tanya Aurora sambil memberikan saran.


" Boleh juga ... tapi ngapain tadi bawa bekal segala."


" Kasian Bu Ida udah masak."

__ADS_1


" Boleh juga nih."


Setelah perjalanan selama hampir sehari semalam, akhirnya mereka tiba di perbatasan hutan yang biasa Aurora maupun Adrian lewati.


" Alhamdulillah... akhirnya sampai juga. Tinggal duduk doang, badan kok rasanya capek semua. Gimana kalau jalan coba?'


" Entah kapan sampainya."


" Jadi kalian biasanya lewat sini?"


" Iya ... untuk mobil bisa kita parkir di sana." kata Aurora sambil menunjuk satu tempat yang biasanya digunakan untuk parkir.


" Memangnya aman?"


" Aman lah."


" Terus mobil box nya gimana?'


" Masih jauh apa sudah dekat?"


" Sebentar lagi juga sampai ."


"Diparkir di sana juga. Nanti kalau memang mereka sudah mau ikut , mobilnya kita dekatkan."


" Bagus juga kalau gitu."


" Sekarang kita masuk atau gimana nih?"


" Makan dulu saja . Terus beli camilan , biar ada yang dimakan waktu didalam ."


" Okelah kalau begitu. Mau cari makan di mana nih. Ada restoran kan?"


" Restoran sih ada tapi ya jauh. Disekitar sini cuma ada rumah makan sederhana saja. Mau tidak?"


" Boleh lah dari pada tidak ada sama sekali."


" Boleh apanya ?"


" Ya warungnya, mau apa lagi."


" Kirain masih mau restoran yang masih belum tau pasti tempatnya."


" Keburu malam nanti."


Mereka menunggu kedatangan mobil box yang akan digunakan sebagi kendaraan hewan peliharaan Aurora. Tidak butuh waktu lama sepuluh menit kemudian juga sudah sampai. Mereka langsung mengajak sang supir untuk makan bersama.


Anak buah dewa ada dua orang semuanya masih muda. Wajahnya juga lumayan. Jadi saat mereka bertujuh lewat, banyak yang melihat ke arah Mereka.


Mereka berhenti di sebuah warung yang menyediakan nasi pecel dan lalapan . Bagi yang yang belum pernah makan di sana , mungkin masih agak risih . Tetapi yang sudah pernah ya biasa saja.


Adrian dan juga Aurora masuk duluan. Mereka berdua sudah kenal sama pemilik warung itu. Karena sudah berkali-kali mereka makan disini. Di sini juga tempat Aurora menjual hewan buruannya.


" Ada nak Rara nih. Bawa seperti biasa nak?"


" Tidak pak... kami mau makan."


"Silahkan!"


" Terimakasih."


" Mereka semua temannya nak?"


" Iya pak. Bagaimana kabarnya?"


" Alhamdulillah baik... hanya saja nak Rara sudah lama nggak kirim hewan buruan lagi.'


" Maaf pak, Rara sudah pindah ke kota."

__ADS_1


" Pantas saja nggak pernah kirim lagi. Terus sekarang mau kemana ?"


__ADS_2