
Kini Aurora, Reyhan dan juga Reyna sudah tiba disebuah mall yang cukup besar di kotanya. Setelah memarkirkan mobilnya mereka langsung masuk kedalam mall.
" Sudah lama banget loh kakak nggak pernah kesini, " kata Aurora begitu mereka sudah ada didalam.
" Kakak serius?" tanya Reyna yang merasa tidak percaya dengan ucapan yang dilontarkan oleh Aurora.
" Sepuluh rius malah," jawab Aurora sambil melihat surganya para wanita yang hobi berbelanja itu .
" Kasihan deh! kalau begitu Reyna akan mengajak kak Rara untuk mengelilingi mall ini," ucap Reyna sambil menarik tangan kakak angkatnya itu.
Reyhan hanya bisa pasrah mengikuti mereka dari belakang. Tapi dia sangat senang adiknya bisa tersenyum kembali setelah wajahnya murung beberapa hari ini
Mereka benar-benar berkeliling. Dan di tangan mereka sudah ada beberapa kantong belanjaan. Mereka sempat sholat di mushola yang ada di mall itu ketika waktu Maghrib datang. Setelah itu mereka kembali berbelanja .
Kini perut mereka sudah lapar. Mereka menuju outlet yang menjual berbagai makanan. Setelah memilih makanan, mereka mencari tempat duduk yang nyaman .
" Alhamdulillah akhirnya perutku bisa terisi juga," kata Reyhan saat dia sudah duduk dan meletakkan makanan yang ia ambil.
Mereka memang memilih tempat yang menyediakan makanan prasmanan. Jadi mereka bisa memilih makanan sesuai porsi yang ia inginkan.
" Belum juga dimakan," sindir Aurora yang juga sudah siap untuk makan .
" Benar yang diucapkan kak Rey... perut Reyna juga sudah lapar banget."
" kalau tunggu apa lagi . Kita sikat dong! bismillahirrahmanirrahim.."
Aurora memulai suapan pertamanya . Rasa gurihnya udang menyebar di rongga mulutnya. Dia memberikan jempol kearah Reyhan dan juga Reyna. Keduanya mengangguk, mengiyakan jika rasanya benar-benar enak.
" Enak banget loh ... apalagi sambalnya bigin greget tahu ," kata Aurora sebelum kembali menyuapkan makanan kedalam mulutnya.
Dia sungguh menikmati makanan yang ia ambil. ayam panggang, udang asam manis dan ditambah dengan sambal membuat Aurora tak berhenti menyuap kan makanan sampai isi piringnya tandas.
" Alhamdulillah... akhirnya kenyang juga. Lain kali kita makan disini lagi. Kakak suka banget dengan makanannya pas dengan selera kakak."
" Rey setuju banget. Kak Rara harus Ingat loh jangan sampai ke sini sendiri ."
__ADS_1
" Kenapa?"
" Harus ajak Reyhan lah. Kan kalau makan sendiri itu kurang menyenangkan."
" Ada-ada saja kamu ini. Tapi tenang saja... lain kali kalau kakak kesini akan kak Rara ajak."
" Itu baru benarπππ"
" Reyna juga ikut loh," kata Reyna yang masih asyik dengan makanannya.
" Tentu cantik. Kakak mau pesen lagi buat oleh-oleh orang rumah. Siapa tahu mereka juga suka."
" Oke kak!"
Aurora meninggalkan Reyna dan juga Reyhan yang masih belum menghabiskan makanannya. Reyna membelikan lima bungkus makanan. Dengan lauk yang terpisah.
Sekembalinya dari mengambil makanan Aurora kembali ke tempat yang tadi ia duduki. Ternyata sudah ada Rio dan juga Angga. Mereka terlihat asyik mengobrol.
" Hello brother!" sapa Aurora begitu sampai di depan mereka.
" Kalian dari mana?"
" Biasa cuci mata. Untung jika bisa nemu yang seger- seger," Ucap Angga santai sambil menarik turunkan alisnya.
" Banyak yang segar om!" jawab Reyna yang membuat keempat orang itu menatap Reyna dengan pandangan berbeda-beda.
" Em... Reyna salah ngomong ya? tapi bener kok di stan buah banyak loh buah yang seger-seger," kata Reyna lagi .
" Kamu tadi panggil aku apa?" tanya Angga dengan ekspresi yang sulit di deskripsikan.
" Paman.... ada yang salah ya?"
" Kamu umur berapa?"
" Tiga belas tahun jalan empat belas."
__ADS_1
" Pantesan... tapi Rara nggak pernah panggil om loh. bukankah kalian seumuran?"
" Ya Alloh... jadi Lo pikir gua masih umur tiga belas gitu?"
" Emang salah ya?"
" Ya salah la!"
" Kak Rara sudah berumur dua puluh empat tahun kok," ucap. Reyna.
" What?!! sumpah loh!" teriak Angga yang membuat mereka menjadi pusat perhatian.
" Jangan teriak napa. Ini bukan hutan."
" Kaget gua ."
" Lah emangnya Lo nggak curiga gitu... sama anak kecil yang suka bermain sama tiga hewan buas?"
" Ya nggak lah. Kalau itu aku sudah banyak tahu."
" Kalau kamu Rio?"
" Entahlah... tapi kamu sudah ku anggap sebagai peri hutan. Jadi nggak terlalu mikirin umur," jawab Rio santai.
" Aduh kak... turun loh pasaran kakak. Kok dapat panggilan peri hutan sih. Nggak banget loh!" cibir Reyhan yang tidak suka dengan panggilan dari Rio untuk Aurora.
" Kamu nggak tahu aja pesona kakakmu ini saat berada di hutan."
" Ngomong-ngomong soal hutan kok Reyna belum kakak ajak ke hutan buatan milik Kakak?"
" Belum selesai sayang ... tapi nanti jika ada waktu senggang pasti kakak ajak kesana sekalian ke rumah Dewa buat lihat binatang piaraan kakak."
" Kak Rara janji loh!"
" Tentu!"
__ADS_1