Kembalinya Ingatan Sang CEO

Kembalinya Ingatan Sang CEO
BAB 31


__ADS_3

" Apakah kami mengganggu pekerjaan mu?" tanya tuan Arya setelah masuk kedalam ruangan.


" Tentu tidak tuan... silahkan!" ucap Romi dengan sopan.


Romi sudah menduga kedatangan Adrian setelah acara semalam. Tapi dia tidak berfikir jika Adrian akan kembali secepat ini.Apalagi ini hari minggu . Dia pun masuk kantor karena harus menyelesaikan tugas yang belum selesai kemarin.


Romi belum mengetahui jika Adrian mengalami amnesia. Sebab hanya saudara terdekat saja yang diberitahu.


" Terimakasih."


" Ada yang bisa saya bantu?"


" Maaf sebelumnya... seperti yang kamu ketahui Adrian _"


" Tidak masalah tuan . Saya sudah siap untuk menyerahkan posisi yang memang milik tuan Adrian," kata Romi.


Adrian hanya mengerutkan dahinya mendengar ucapan yang ia ketahui, dulunya dia adalah asisten pribadinya. Menurutnya Romi sangat tidak sopan. Bukankah ayahnya belum selesai berbicara .


" Bukan itu yang ingin saya sampaikan. Kami_"


" Biarkan saya saja ayah..."


" Maaf tuan Romi sebenarnya kehadiran saya disini bukan untuk mengambil posisi yang sudah anda tempati.sekarang ini. Saya hanya ingin memantau sebelum membuka perusahaan baru," jawab Adrian.


Adrian belum ingin mengaku bahwa dirinya amnesia. Dia merasa curiga dengan mantan asistennya ini. Tuan Arya melihat kearah Adrian sambil melotot. Adrian hanya memberikan kode untuk membuat ayahnya tidak membongkar rahasianya.

__ADS_1


Tuan Arya sepertinya faham. Jadi beliau hanya mengangguk. Kini giliran Romi yang terkejut.


" Tapi tuan_"


" Tidak masalah... siapkan saja satu ruangan kosong untuknya!"


" Baik!"


Romi langsung menelpon sekertaris agar menyiapkan ruangan yang Adrian perlukan . Dia lega posisinya masih aman. Dia juga sudah menyiapkan sesuatu untuk Adrian. Dia harus memastikan bahwa tidak ada yang mengusik sesuatu yang sudah ia genggam.


" Sudah tuan... sebentar lagi ruangan untuk anda akan segera siap."


" Terimakasih."


" Baiklah yah... terimakasih."


Tuan Arya pun beranjak dari tempat yang ia duduki. Dia akan segera pergi ke rumah temannya. Sedangkan Adrian tetap di ruangan Romi menunggu tempatnya selesai di siapkan.


" Apakah anda ingin sesuatu tuan?" tanya Romi berbasa-basi.


Suasana ruangan nampak dingin. Adrian menikmati perannya. Seperti yang sudah ia ketahui dari ayahnya saat masih di dalam mobil tadi ,bahwa dia seorang yang datar dan dingin. Dia akan mendalami perannya. Dengan begitu tidak akan menyebar jika dia sedang amnesia.


" Kamu lanjutkan saja pekerjaanmu. Aku akan menunggu disini. Tidak masalah kan?"


" Tentu tidak tuan."

__ADS_1


" Kalau gitu hiraukan saja kehadiranku , aku tidak ingin mengganggu pekerjaanmu."


" Baik tuan."


Kini mereka saling diam. Adrian memperhatikan ruangan yang kini ia tempati. Sedangkan Romi meskipun terlihat sedang bekerja, sebenarnya dia sedang merencanakan sesuatu.


Tok tok tok


" Masuk!"


Ceklek


" Maaf mengganggu tuan... ruangannya sudah selesai. Sekarang sudah bisa ditempati."


" Baiklah terimakasih. Tuan Adrian... mari kita menuju ruangan anda."


" Hem."


Adrian mengikuti sang sekretaris ke ruangannya . Romi hanya mengikuti hingga depan pintu. Sepeninggal Adrian... Romi menghubungi seseorang. Sepertinya pembicaraan mereka serius.


" Aku tidak ingin kali ini gagal. Kamu harus memastikan dia benar-benar tewas di tempat. Mengerti!"


Romi tidak tahu jika Adrian akan kembali ke ruangan itu. Dia juga tidak menyadari keadaan pintu yang tidak tertutup sempurna. Sehingga Adrian samar-samar bisa mendengar apa yang sudah diucapkan oleh Romi.


Tidak ingin ketahuan Adrian langsung kembali ke ruangannya. Disepanjang jalan Adrian memikirkan kira-kira siapa yang ingin Romi habisi dan dengan siapa dia berbicara.

__ADS_1


__ADS_2