Kembalinya Ingatan Sang CEO

Kembalinya Ingatan Sang CEO
BAB 56


__ADS_3

Adrian menerima laporan dari anak buahnya yang dikirim melalui email. Dia merasa sangat marah membaca semua hasil laporan itu. Semua pengkhianat Romi tertulis secara jelas.


Adrian membenamkan kepalanya di atas meja kerjanya. Adrian membayangkan semua kebersamaan yang telah mereka lalui . Ternyata kebersamaan mereka selama ini seakan sia-sia. Dia bahkan tidak mengenal rekan kerja sekaligus orang yang ia percayai sebagai sahabat.


Kepala Adrian serasa mau pecah memikirkan masalah yang telah ia lalui. Dia mencoba rileks. Masih banyak kesempatan yang bisa ia pergunakan untuk memikirkannya. Jadi Adrian mencoba mengalihkan perhatiannya.


Adrian keluar dari ruang kerjanya. Dia berencana berkumpul bersama sahabatnya. Setibanya di ruang keluarga, Diandra memanggilnya.


" Kak Rian mau kemana?" tanya Diandra sambil berjalan ke arah Adrian yang sudah menghentikan langkahnya.


" Kenapa?" tanya Adrian tanpa menjawab pertanyaan Diandra.


" Nggak ada loh kak... istilahnya pertanyaan dijawab dengan pertanyaan. Jadi jawab dulu pertanyaan ku, nanti baru kak Rian tanya," jawab Diandra.


" Kak Rian mau kumpul-kumpul bareng teman-teman kakak. Kenapa?"


Adrian berusaha meredakan emosi yang sedari tadi ia tahan. Dia takut melampiaskannya kepada Sanga adik.


" Kalau gitu diandra harus ikut. Tunggu sebentar!"


" Siapa yang bilang mau mengajak mu ?"


" Tidak ada yang bilang, tetapi kak Rian masih belum boleh keluar sendirian. Jadi ...mau tidak mau kak Rian harus membawa ku ikut serta.No debat!"


" Oke... fine ! jika mau ikut buruan cepat . Jika lebih dari lima menit langsung tinggal!"


" Mana bisa ?" Diandra hendak protes. Menurutnya, Adrian sangat tidak wajar bagaimana bisa seorang wanita bisa bersiap hanya dalam waktu lima menit. Sungguh menyebalkan... tapi tapi apakah Diandra bisa menolak? tentu saja .... tidak!


" Satu..." kata Adrian memulai hitungannya.


Diandra berlari ke kamarnya. Dia hanya mengambil tas dan juga hp sebelum kembali berlari ke luar rumah.


Ternyata Adrian sudah berada di dalam mobil. Dia membawa sopir. Untuk menyetir sendiri dia masih belum bisa. Dia memiliki rasa trauma tersendiri.


" Cepetan... lelet aja kayak semut!" gerutu Adrian melihat adiknya tidak segera memasuki mobil.


" Tau nggak... jika tau kak Rian kembali menyebalkan , aku lebih rela kak Rian amnesia selamanya, " jawab Diandra saat sudah duduk disamping Adrian.


" Mulutnya dek !" Adrian tidak terima dengan perkataan Diandra. Apalagi perkataan bisa jadi sebuah doa.


" Biarin ....kak _"


" Berisik!"


" Menyebalkan."

__ADS_1


Akhirnya suasana mobil menjadi hening. Mereka sibuk dengan hp masing-masing.


Mobil Adrian berhenti di depan rumah Dewa. Adrian turun di ikuti oleh Diandra, sedangkan sang supir langsung memarkirkan mobilnya.


" Dewa ada di rumah kan ?" tanya Adrian pada satpam rumah.


" Ada den. Den Angga sama den Rio juga ada. Sekarang mereka ada di taman," jawab satpam.


" Kalau begitu saya langsung kesana saja."


" Silahkan den!"


Adrian berjalan kearah taman diikuti oleh Diandra. Adrian merasa dirinya di ikuti pengawal. Risih sebenarnya. Tetapi mau bagaimana lagi, adik bungsunya lebih keras kepala dibanding dirinya.


" Wah.... indah banget. Gini nih ...kalau punya kakak yang nggak ada sayang-sayangnya sama adek. Punya temen yang punya taman bagus kayak gini nggak pernah di ajak ." sindir Diandra yang berjalan di belakang Adrian. Tidak ada jawaban dari Adrian. Jika bisa Adrian pengen sekali menyumpal mulut adiknya yang berisik.


" Punya mulut tuh ya buat bicara...punya telinga buat mendengar ..."


" Ngomong lagi aku lempar ke kandang harimau."


" Mana ada ?"


" Ada Non," jawab penjaga yang kebetulan mendengar ucapan Diandra dan juga Adrian.


" Masa?"


" Punya kakak gini amat ya Alloh...."


" Dek!"


" Sorry bro! "


" Anak-anak dimana pak?"


" Biasa den ada di kandang white dan teman-temannya."


" Tumben dikasih nama. Ada binatang baru ya ?"


" Bukankah den Adrian juga ikut waktu ngantar kesini masak sudah lupa?" tanya penjaga taman yang juga hutan buatan itu.


" Ha?"


" Apa mau di antar den?"


" Boleh.... maaf jika merepotkan."

__ADS_1


" Nggak masalah den . Sudah menjadi tanggung jawab saya. Mari!"


Penjaga itu berjalan di depan Adrian dan juga Diandra. Selama perjalanan Diandra tak berhenti berdecak kagum melihat pemandangan yang baru pertamakali ini ia lihat.


" Boleh tidak ya... minta burung nya satu saja. Kalau bisa sih burung kakak tua."


" ..."


" Enak kali ya punya burung yang bisa ngomong. Nggak ngomong sendiri saja sedari tadi," gerutu Diandra yang merasa diacuhkan oleh Adrian. Penjaga yang berjalan di depan hanya bisa menahan senyum mendengarnya.


" Kok lama amat sih pak jalannya. Memangnya mau kemana sih? kok sepertinya kita ini ditengah hutan ya. Kok aku baru tahu yah?"


" ..."


" Ya Alloh ya Robb...."


" Diem napa sih dek . Nggak capek apa dari tadi ngomong terus?"


" Habisnya...kaki aku pegel atuh kak . Berhenti dulu napa?"


" Sebentar lagi sampai kok non," jawab penjaga .


" Berapa lama lagi ?"


" Lah... silakan. Kuncinya sudah dibuka. Anda berdua tinggal masuk saja."


" Bukankah ini kandang rusa?"


" Rusanya ada yang bawa ."


" Terus siapa yang tinggal di sini?"


" Silahkan di lihat langsung saja den!"


" Terimakasih pak!"


" Sama-sama."


Adrian membuka pintu kandang itu dengan santai. Beda dengan Diandra yang merasa agak takut. Dia sudah melihat berbagai hewan sejak mulai masuk. Mulai dari yang indah, jinak dan juga buas. Dia merasa hewan yang ada di kandang ini tergolong buas .


Begitu Adrian masuk , white yang tadinya duduk disamping Dewa langsung bangun dan berlari mendekati Adrian.


Adrian diam terpaku melihat white yang berlari mendekatinya. Begitu sampai di dekatnya White langsung menerjangnya.


Entah suatu berkah atau memang sudah waktunya, Adrian yang tertindih white langsung mengingat momen kebersamaannya bersama sang harimau putih itu.

__ADS_1


Adrian menitikkan mata dengan haru.Kemudian memeluk hewan yang terkenal buas itu dengan erat.


__ADS_2