Kembalinya Ingatan Sang CEO

Kembalinya Ingatan Sang CEO
BAB 29


__ADS_3

Aurora tiba di rumah Omanya hampir tengah malam. Rara pikir semua orang sudah tidur ternyata masih ada juga yang bangun. Opa Doni masih setia menunggu cucunya datang. Bahkan penjaga disuruh memberitahu jika kedatangan cucunya.


" Assalamualaikum...," sapa ketiganya sebelum memasuki rumah.


" Wa alaikum salam warahmatulloh."


" Kok opa belum tidur?" tanya Aurora saat menjabat tangan Opanya.


" Bagaimana mau tidur jika belum melihat cucunya yang katanya ingin tidur di sini."


" Maaf ya Opa... tadi masih ada undangan di rumah om Arya."


" Baiklah opa maafkan. Kamu bersama siapa ke sini ?"


" Mereka anak-anak om Ardan yang saat ini tinggal bersama ku."


" Yang kamu bilang kemarin?"


" Iya opa."


" Kalau begitu lebih baik kalian langsung ke kamar saja. Sudah sangat larut, lebih baik kalian segera tidur."


" Mereka bagaimana opa?"


" Yang perempuan tidur bersamamu dan yang laki tidur sendiri. Ayo opa antarkan ke kamar kalian," kata opa Doni sambil berjalan.


Mereka bertiga langsung mengikuti langkah kakek Doni. Kamar untuk Reyhan ada disebelah kamar Aurora dan Reyna. Untung masih ada kamar yang kosong.


" Kalian istirahat dengan baik. Jangan sampai begadang."


" Baik opa terimakasih."


" Hem."


Setelah itu opa Doni masuk ke dalam kamarnya. Dia melihat istrinya yang sudah terlelap dari tadi . Sebenarnya istrinya juga ingin menunggu tapi karena keadaannya sedang tidak baik oleh opa Doni disuruh istirahat dahulu.


Opa Doni ke kamar mandi sebelum mengikuti istrinya kedalam mimpi.


Keesokan harinya Aurora bangun seperti biasa. Meskipun tidur larut tidak membuatnya bangun kesiangan. Aurora langsung ke kamar mandi untuk bersuci. Setelah selesai ia membangunkan Reyna.


" Dek... bangun dek !" kata Aurora sambil menggoyang tubuhnya.


" Em ... tunggu bentar lagi ma."


" Ini kak Rara dek. Ayo bangun dan sholat subuh dulu!"


Mengetahui jika yang membangunkan bukan Mamanya , Reyna perlahan membuka matanya. Dia melihat Aurora yang telah siap dengan mukena di tubuhnya.


" Sudah jam berapa kak?"


" Hampir masuk waktu subuh. Bangun dulu yuk !"


" Tunggu kak!"


Meskipun terasa berat , Reyna bangun dari tidurnya dan melangkah ke kamar mandi . Aurora segera menggelar sajadah untuk mereka berdua. Dia memang selalu membawa mukena kemana-mana.


Tidak butuh waktu lama Reyna keluar dari kamar mandi. Dia menghampiri Aurora dan memakai mukena yang sudah dipersiapkan oleh Aurora.


Mereka melakukan sholat dengan berjamaah. Aurora bertindak sebagai imam. Meskipun Aurora terlihat bar-bar, dia berusaha untuk melaksanakan segala tugas dan kewajibannya dengan baik. Contohnya sholat.


Aurora akan berusaha untuk menunaikan sholat tepat waktu. Setelah selesai sholat , Aurora keluar dari kamar. Sedangkan Reyna masih berada di kamar.


" Kakak keluar dulu."

__ADS_1


" Apa Reyna harus ikut kak?"


" .... "


" Kak!"


" Kamu tunggu di sini saja ya?"


" Kakak mau kemana?"


" Mau lihat-lihat."


" lihat-lihat apa?"


" Apa saja yang bisa dilihat dong. Sudah ah , keburu siang."


Aurora langsung keluar dari kamar. Dia turun ke lantai satu dan mencoba mencari letak dapurnya. Usahanya tidak sia-sia. Dia melihat beberapa pelayan yang sedang memasak.


" Assalamualaikum!"


" Wa alaikum salam warahmatulloh... siapa ya?" tanya salah satu pelayan.


" Non Rara kan?" kata pelayan yang lain.


" Benar Bu, saya Rara ada yang bisa saya bantu?"


" Tidak perlu Non, lebih baik non Rara di depan saja. Loh non Rara datang kapan?"


" Semalam Bu."


" Kok nggak lihat ya?"


" Saya datang hampir tengah malam sih. Mungkin saja ibu sudah istirahat."


" Kalau begitu Rara jalan-jalan dulu Bu."


" Silahkan!"


Merasa tenaganya tidak dibutuhkan, Aurora keluar dari dapur dan memutuskan untuk berlari pagi. Hitung-hitung melemaskan badannya. Dia keluar dari kediaman dan berlari kecil di area itu. Dengan santai rara berlari.


Hingga...


" Peri hutan!" teriak pemuda yang juga berlari seperti dirinya.


Aurora berhenti dan menatap pemuda itu dengan dahi mengernyit . Dia menoleh kebelakang mungkin saja ada orang lain lagi selain dirinya . Tidak ada seorangpun.


Apa katanya tadi peri hutan ?


Apa mungkin pemuda ini bisa melihat makhluk halus atau mungkin kesurupan ?


Aurora bergidik ngeri. Dia ingin melarikan diri tetapi sebelum itu terjadi , pemuda itu berbicara yang membuat Aurora menghentikan langkahnya.


" Kenapa peri hutan bisa ada di sini. Bagaimana dengan wolf?" tanya pemuda itu yang ternyata adalah Rio . Salah satu pemburu yang pernah ia jumpai.


" Bagaimana kamu bisa tahu tentang wolf?" tanya Aurora penasaran.


" Pasti lupa sama saya kan?"


" Bukannya lupa, tapi nggak ingat."


" Itu ma sama saja. Masih ingat sama tiga pemburu di hutan?" tanya Rio .


Aurora mengingat-ingat tentang pemburu. Sampai dia mengingat tentang pemburu yang tiba-tiba lari terbirit-birit. Aurora langsung tersenyum. Senyum yang membuat Rio terpesona.

__ADS_1


" Ya elah.... nikmat apa lagi yang ingin ku dusta kan . Masih pagi udah dapat vitamin," kata Rio tanpa sadar.


" Vitamin apa ya?"


" Eh... maaf. Sudah ingat saya kan?"


" Ingat... tiga orang pemburu yang ingin kenalan sama white, wolf dan wolfy. Tapi tiba-tiba langsung lari terbirit-birit. Betul tidak?"


" Ternyata ingatan peri boleh juga. Tapi bagaimana bisa peri hutan lari disini, tersesat ya?"


" Kamu bisa saja. Perkenalkan nama saya Aurora. Biasa dipanggil Rara," kata Rara sambil mengulurkan tangannya dengan tersenyum.


" Rio Anggara biasa dipanggil Rio," kata Rio sambil menjabat tangan Rara.


" Tangannya bisa dilepaskan?" tanya Aurora saat Rio masih saja menggenggam tangannya.


" Oh ... maaf. Abis... gerogi banget ketemu peri hutan ."


" Kok masih panggil peri hutan, panggil saja Rara."


" Rara.... kok bisa ada disini, memangnya rumahmu disini ya?"


" Nggak juga sih. ini kan lagi joging."


" Iya juga sih ... tapi nggak mungkin kan, joging dari hutan sana sampai kesini."


" Oh ... saya tidur di rumah Opa."


" Opa?... gimana kalau duduk disitu dulu?" tanya Rio sambil menunjuk satu bangku di pinggir jalan ."


" Boleh juga," kata Aurora menyetujuinya.


Aurora ingin menanyakan sesuatu kepada Rio. Jadi dia mengikuti Rio yang berjalan terlebih dahulu. Lalu mendudukkan dirinya di samping Rio yang terlebih dulu duduk.


" Katakan siapa kakek mu?"


" Ya Alloh... jadi kamu cucu opa Doni."


" Benar, pasti kenal kan? "


" Ya kenal lah... kan rumah kami berhadapan. Masak sama tetangga sendiri nggak kenal. Tapi aku baru kali ini melihat mu. Hampir semua cucu opa Doni saya kenal."


" Tentu saja sudah lama saya meninggalkan kota ini."


" Jangan bilang kamu putri om Adam?"


" Kenapa.... emangnya nggak boleh?"


" Yang aku tahu putri om Adam umurnya nggak beda jauh deh sama aku. Mungkin beda tiga tahunan. Tapi saya lihat kamu masih kayak anak SMP."


" Jangan ngeledek!"


" Siapa juga yang ngeledek. Kamu tahu nggak... kamu itu imut banget loh."


" Tadi ngeledek sekarang merayu... Boleh aku tanya sesuatu?"


" Tentu saja boleh... tenang , mau tanya berapa pun tidak dipungut biaya."


" Pernah ngurus tentang memelihara hewan buas?"


" Tentu saja."


" Bagaimana caranya?"

__ADS_1


__ADS_2