Kembalinya Ingatan Sang CEO

Kembalinya Ingatan Sang CEO
BAB 62


__ADS_3

" Terimakasih atas bantuan anda komandan," ucap Adrian dengan tulus kepada komandan polisi setelah Romi dibawah oleh anak buahnya.


" Sama-sama tuan ... sudah menjadi tanggungjawab kami untuk memberikan keamanan kepada warga. Apalagi semua bukti telah anda persiapkan sebelumnya."


Mereka berdua masih berada di ruang meeting. Para petinggi juga masih ada di ruangan tersebut.


" Bagaimana anda bisa mengetahui semua kecurangan yang Romi lakukan tuan? " tanya salah satu petinggi.


" Tentu karena Romi bertindak mencurigakan. Lalu saya mencari kebenarannya," jawab Adrian santai.


" Saya tidak akan membiarkan pengkhianat bebas berkeliaran . Saya pastikan pengkhianat itu busuk dalam penjara ."


Suasana langsung hening begitu Adrian selesai berbicara. Perbincangan tidak berhenti sampai disitu . Polisi juga menanyakan beberapa hal yang cukup sensitif. Tidak sadar Adrian berada di ruang meeting lebih dari tiga jam.


Aurora tidak menyadari adanya kekacauan . Dia asyik tertidur di sofa yang ada di ruang Adrian. Dia hanya bermain ponsel sebelum akhirnya tertidur


" Ugh.... dimana nih, " kata Aurora begitu membuka matanya.


" Oh iya lupa. Bukankah ini ruangan Abang. Abang kok belum selesai juga sih. Perut lapar lagi, " gumam Aurora. Dia melihat jam dinding dan matanya langsung melotot. Ternyata sudah jam satu lebih .


Dia bangun dari duduknya dan berjalan ke kamar mandi yang ada di ruangan itu untuk mencuci mukanya. Selain itu dia juga wudhu dan sholat.

__ADS_1


Adrian datang saat Aurora sedang sholat. Aurora sholat di belakang sofa , jadi saat duduk posisinya tidak terlihat. Sehingga Adrian menjadi panik. Dia merasa bersalah telah meninggalkan Aurora terlalu lama.


" Kenapa ruangannya sepi. Dimana Aurora. Dek.... adek..... !" panggil Adrian. Adrian mengecek ke kamar mandi . Tetapi tidak ada . Dia pun panik.


" Dek .... dek !"


" Ada apa sih bang kok teriak-teriak. Kayak di hutan saja," gerutu Aurora sambil melipat mukena yang ia bawa. Dia memang selalu membawa mukena di tasnya.


" Sorry....kirain tadi adek ada dimana ," JJ awan Adrian mendekati Aurora.


" Sorry... sorry memangnya Abang dari mana sih ?"


" Ya dari meeting lah. Memangnya kenapa?"


" Maaf sayang, tadi ada kendala yang cukup serius...," jawab Adrian dengan memasang wajah lelah.


" Ish... oke deh. Tetapi sekarang adek lapar. Gimana kalau kita makan !"


" Tentu saja.... Abang juga sudah lapar. Tetapi tunggu Abang sholat dulu ya . Keburu waktu abis."


" Tentu."

__ADS_1


Adrian masuk ke kamar mandi dan mulai mensucikan diri. Kemudian masuk kedalam ruang pribadinya dan sholat. Aurora menunggunya sambil duduk.


Adrian selesai dan menghampiri Aurora yang duduk. Kemudian meraih tangan Aurora untuk digenggam. Dia mengajak Aurora keluar dari kantornya.


Mereka berdua jadi pusat perhatian para karyawan. Meskipun Aurora nampak seperti anak kecil tetapi tidak mengurangi keserasian mereka.


" Adek jadi pusat perhatian gara-gara Abang," kata Aurora begitu mereka sudah berada di luar kantor.


" Kenapa? adek nggak suka ?"


" Biasa aja sih. Ngomong-ngomong kita mau makan dimana?"


" Nanti juga tahu."


Adrian membawa Aurora ke mobilnya. Dia juga membukakan pintu untuk Aurora sebelum masuk dari sisi lainnya. setelah memastikan Aurora memakai sabuk pengaman, Adrian mulai melajukan mobilnya.


" Apa saja yang adek lakukan saat Abang ada di ruang meeting tadi ?"


" Ngapain ya.... paling sibuk main ponsel kemudian tertidur. Jadi nggak ada yang spesial sih. Terus Abang tadi ngapain aja sampai lama banget?"


" Abang menjebloskan Romi ke penjara ."

__ADS_1


" What!!!"


__ADS_2