Kembalinya Ingatan Sang CEO

Kembalinya Ingatan Sang CEO
BAB 54


__ADS_3

Rara tidur tidak terlalu lama. Sebab tadi dia juga memejamkan mata saat berada di helikopter. Setelah bangun dia segera mengambil ransel yang ia bawa. Kemudian segera turun dari rumah pohon itu.


Aurora berjalan ketempat air terjun berada . Butuh waktu sekitar tiga puluh menit. Aurora bertemu beberapa pemuda yang tinggal di desa itu . Sepertinya mereka sedang memancing. Tidak ingin ada yang melihatnya, Aurora berjalan memutar. Aurora senang karena kehadirannya tidak ada yang menyadari .Dia segera memanjat pohon yang agak rimbun untuk beristirahat sejenak sambil menunggu lima pemuda itu meninggalkan tempat itu.


Ternyata tidak sia-sia dia menunggu. Tidak sampai tiga puluh menit mereka meninggalkan tempat itu. Sebenarnya dulu jarang ada yang pergi ke air terjun ini. Sebab White, Wolf dan Wolfy sering berada di sini. Untuk itulah tempat ini sangat aman bagi Aurora.


Aurora segera turun dari pohon dan menuju air terjun. Dia segera menerobos air terjun itu dan memasuki gua . Setelah itu menggerakkan sebuah batu dan terbukalah sebuah dinding gua. Aurora memasukinya. Dia meletakkan tas ranselnya dan membuka pintu yang terbuat dari kayu.


Setelah pintu terbuka ada sebuah bak mandi dan shower. Aurora membuka seluruh pakaian yang tadi ia pakai dan mandi. Setelah itu dia menunaikan sholat asar.


Aurora segera membuka komputer yang berada di ruangan itu dan segera memantau keadaan sekitar hutan. Dia juga melihat rekaman yang terjadi selama sebulan terakhir.


Di rekaman itu terlihat peristiwa pemburuan hewan kesayangannya dan juga hewan-hewan lain. Ternyata tidak hanya sekali dua kali hutan ini di masuki pemburu. Setelah memeriksa semua rekaman Aurora menyimpan kembali komputer itu dan segera kembali kerumahnya.


Begitu sampai dirumahnya, nampak Reyna yang mondar-mandir di depan rumah. Sedangkan Reyhan duduk di kursi yang berada di teras rumah sambil memangku adik bungsunya.


Begitu melihat Aurora, Reyna langsung berlari ke arahnya. Aurora hanya bisa tersenyum melihat tingkah lakunya.


" Kakak kemana saja . Ini sudah sore , katanya mau jalan-jalan. Reyna sudah nungguin kak Rara loh dari tadi, " kata Reyna begitu sampai di depan Aurora. Aurora tidak bisa menahan tawanya.


" Ya Alloh dek... Belum juga sehari pisah sama kak Rara sudah rindu berat ," goda Aurora.


" Kan kak Rara janji mau ngajak Reyna jalan-jalan," jawab Reyna cemberut. Ekspresinya membuat siapapun tidak merasa kasihan tetapi malah gemas sendiri .


" Itu mah gampang. Sekarang kak Rara mau numpang makan dulu ."


" Kak Rara benar dek."


" Tapi kan Reyna pengen makan bareng papa. Tapi papa belum datang juga ."


" Gimana kalau kita nyusul Dokter Ardan di klinik?" tanya Aurora begitu melihat ekspresi Reyna .


" Tapi_"


Reyhan Sebenarnya tidak setuju saat mengetahui jika Rara sedang lapar. Tetapi melihat adiknya yang nampak sedih dia juga tidak tega .

__ADS_1


" Sudahlah benar ucapan Reyna lebih baik kita duduk Dokter Ardan. Nanti kita bisa makan bersama. Bagaimana?"


" Setuju banget. Terus adik bagaimana?" tanya Reyhan yang mengingat adik kecilnya kini berada di gendongan nya.


" Ya kita bawa lah. Tapi sebelum itu biarkan kakak kenalan dulu."


" Halo adik cantik!"


Bukanya menjawab adik bungsu Rey bersaudara itu , menenggelamkan wajahnya di dada bidang sang kakak. Membuat Aurora tersenyum. Ternyata adik Reyhan dan juga Reyna itu pemalu .


" Jangan malu dek. Nggak pengen kenal kak Rara ?"


Hanya gelengan yang Aurora dapatkan. Aurora segera mengajak mereka ke klinik. Sebelum berangkat Reyna berpamitan kepada sang Mama.


Banyak yang menyapa Aurora saat dalam perjalanan. Aurora dengan ramah menyapa mereka. Banyak yang menyuruh Aurora mampir. Tetapi Aurora menolak dengan lembut.


Saat tiba di klinik suasana nampak lenggang. Sepertinya sudah tidak ada pasien yang ada. Ternyata perkiraan mereka salah . Masih ada satu pasien yang masih dokter Ardan tangani . Seorang pemuda yang terkena sebuah racun yang cukup ganas.


Pemuda itu memakan sebuah jamur beracun yang ia dapatkan di tengah hutan. Dia yang tua begitu mengetahui macam-macam jamur langsung begitu saja membawanya pulang dan menyuruh sang istri untuk memasaknya.


Saat Aurora masuk kedalam, dia disambut oleh perawat yang sudah sangat mengenalnya. Begitu melihat kedatangan Aurora dia langsung berlari menghampiri dengan mata berkaca-kaca.


" Akhirnya nona datang disaat yang tepat. Tolong pasien di dalam Non. Kondisinya sudah kritis."


" Memangnya Dokter Ardan kemana ?"


" Beliau masih ada didalam. Tapi beliau tidak bisa mengeluarkan racun yang sudah masuk kedalam tubuhnya. Pasien sudah tidak sadar sejak tadi."


" Baiklah... untuk kalian tolong tunggu di sini saja," kata Aurora kepada Rey bersaudara.


Setelah itu dia segera memasuki ruangan tempat pasien dirawat. Nampak Dokter Ardan yang sudah mengeluarkan banyak keringat. Keadaan pasien sangat memprihatinkan. Tubuhnya nampak membiru. Aurora segera membuka lemari yang ada di sana dan membuka laci yang berisikan jarum akupuntur.


Dokter Ardan cukup kaget melihat kehadiran Aurora tetapi dia juga lega. Dokter Ardan bersyukur Aurora datang tepat waktu .


" Maaf Dokter... biar pasien ini saya tangani. Dokter bisa keluar dulu karena ada tamu yang sangat ingin bertemu dengan Dokter."

__ADS_1


" Siapa?"


" Dokter akan segera mengetahuinya sendiri."


" Kalau begitu ... tolong bantuannya!"


" Insya Alloh...saya akan berusaha semaksimal mungkin. Tapi semuanya kembali kepada Alloh. Untuk itu tolong doanya."


" Baiklah... semoga berhasil."


Aurora menggantikan Dokter Ardan. Dia segera melakukan akupunktur pada pemuda itu. Perawat yang tadi tetap berada disampingnya. Dia mendampingi Aurora dan menyediakan semua barang yang Aurora butuhkan. Butuh waktu empat puluh lima menit sampai pemuda itu memuntahkan darah yang berwajah hitam kental. Perawat itu membantu sang pemuda memuntahkan semuanya.


Aurora menyiapkan beberapa obat yang bisa pemuda itu minum untuk memulihkan kondisinya. Sebab semua racun yang berada di tubuhnya sudah keluar semua. Bahkan warna biru yang tadi sudah hilang.


Dokter Ardan sangat tegang ditengah putra dan putrinya. Setelah melepaskan rindu dengan anak-anaknya, Dokter Ardan kembali mengingat kondisi pasien yang tadi ia rawat.


Dokter Ardan berdoa semoga Aurora bisa mengobati pemuda itu. Setelah hampir satu jam menunggu perawat yang tadi membantu Aurora keluar dari ruangan itu untuk membuah darah hitam yang tadi di muntahkan oleh pemuda yang keracunan.


" Bagaimana keadaannya sus?"


" Alhamdulillah... non Rara berhasil mengeluarkan semua racun yang ada ditubuh nya.Silahjan lihat di kaleng ini," kata perawat sambil menunjukkan darah hitam di kaleng yang ia bawa.


" Alhamdulillah... bolehkah saya masuk kedalam untuk memeriksa kondisinya?"


" Silahkan, non Rara sedang meracik obat yang harus ia konsumsi selam pemulihan."


" Apakah pasien itu sudah sadar?"


" Sudah... maaf saya harus segera membuang racun ini. Dimana keluarga pasien . Bukankah tadi mereka ada di sini ?"


" Tadi ada yang menelpon. Setelah itu dia ijin untuk keluar sebentar. Untuk membelikan makanan untuk anaknya. Sepertinya anaknya sedang lapar."


" Terimakasih atas informasinya. Saya harus kedalam."


" Silahkan!"

__ADS_1


__ADS_2