Kembalinya Ingatan Sang CEO

Kembalinya Ingatan Sang CEO
BAB 58


__ADS_3

Adrian memutuskan untuk menemui Aurora. Dia merasa bersalah kepadanya.


" Aku pergi dulu ya.... lain kita main bersama lagi," kata Adrian sambil mengelus ketiga hewan buas milik Aurora.


" Memangnya Lo mau pergi kemana? Bukankah kalian juga baru datang? " tanya Dewa yang tentu saja di setujui oleh sahabat yang lain .


" Betul ... katanya tadi mau nongkrong. Nggak jadi gitu?"


" Gua mau ketemu ketemu sama Rara. Semoga saja dia bisa memaafkan semua kesalahan gua," jawab Adrian dengan jujur .


Adrian terlihat tidak semangat. Itu semua tidak lepas dari perhatian teman-temannya. Meskipun tidak setiap hari bertemu tetapi mereka sepertinya juga merasakan kalau Adrian sedang dalam suasana yang tidak baik.


" Dia ma belum balik bro. Kemarin malam waktu gua sama Rio ketemu di mall , mereka bilang mau ketempat tinggal Aurora yang sebelumnya. Reyhan sama Reyna kangen sama kedua orangtuanya," kata Angga memberitahu keberadaan Aurora saat ini.


" Alhamdulillah.... akhirnya kakak gua sadar juga,'" ucap Diandra tiba-tiba setelah sedari tadi hanya diam mendengarkan percakapan mereka.


" Memangnya kakak pingsan ," protes Adrian tidak mau terima.


Adrian merasa Diandra terlalu cerewet kali ini. Ingin sekali dia melemparkan adik perempuannya itu ke sungai.


" Bukannya pingsan sih. Tapi kak Rian kan baru aja mengingat semua ingatan kakak yang hilang. Jadi kita harus bersyukur tahu."


Diandra dengan cuek mengolok kakaknya. Dia tidak melihat wajah Adrian yang sudah berubah menjadi sendu . Suasana pun menjadi hening.


Merasa suasana menjadi hening, membuat Diandra merasa bersalah. Tapi dia bingung bagaimana caranya agar suasananya tidak canggung. Ternyata Rio mempunyai ide untuk mencairkan suasana.


" Gimana kalau kita ke bagian tengah. Mendinginkan pikiran itu perlu untuk saat ini," kata Rio.

__ADS_1


" Memangnya di bagian tengah ada apa kak?" tanya Diandra penasaran.


" Lebih dilihat langsung dari pada dikatakan, Ayo!" ajak Rio sambil berdiri dari duduknya.


Tidak ada yang menolak ajakan Rio. Semuanya beranjak dari tempat duduk masing-masing. Tetapi tidak dengan Adrian yang malah menaiki white. Tentu saja membuat Diandra melotot. Tetapi tidak dengan ketiga sahabatnya.


" Kak Rian duduk seperti itu nggak ngerti apa?"


" Kalau kamu mau, bisa naik wolf atau bisa juga wolfy. Mungkin saja mereka tidak marah," jawab Adrian cuek.


White sudah berjalan dengan Adrian berada diatasnya.


" Ya Alloh.... tolong berikan hidayah buat kakak hamba🤲🤲🤲," ucap Diandra membuat yang lain tidak bisa menahan tawanya.


Mereka melanjutkan perjalanan mereka dengan tingkah unik Diandra. Gadis itu tidak berhenti berbicara. Ada saja yang menjadi bahan pembicaraan. Entah itu hanya karena daun atau pun keberadaan taman ini yang menurutnya sudah seperti hutan asli.


" Banyak lah dek. Andra suka tidak?" jawab Dewa penasaran.


Dewa berjalan di sisi Diandra. dibelakangnya ada Rio dan juga Angga. Angga maupun Rio menjadi pendengar setia meskipun sesekali juga turut menjawab pertanyaan Diandra


" Suka sih suka tetapi _"


" Tetapi apa ?" tanya Dewa penasaran.


Tidak ada yang tau kalau sebenarnya dewa menyukai adik dari sahabatnya itu. Tetapi dia pandai menutupinya. Dia masih menunggu waktu yang tepat untuk menyatakan perasaannya. Mengingat Diandra juga masih belum lulus dari bangku SMA.


" Andra ma sebenarnya lebih suka jalan di mall kak. Nggak ribet gini. Tetapi Andra juga suka sama suasana seperti ini," jawab Diandra.

__ADS_1


Belum juga yang lain menjawab Diandra sudah memekik kegirangan. Ternyata mereka telah sampai di sungai. Adrian juga sudah turun dari white. Dia sekarang sedang sibuk memandikan white. Wolf dan wolfy juga tidak ketinggalan.


" Wah.... ada sungainya juga ternyata. kok bisa," teriak Diandra heboh .


Diandra langsung turun ke sungai tanpa memperdulikan pakaiannya akan basah. Dia mencari batu yang cukup besar untuk dipakai duduk. Dia mendongak keatas sambil memejamkan matanya.


Dewa sampai terpesona dengan kelakuan Diandra. Dia menatap Diandra dengan mata berbinar. Tetapi hanya sebentar sebelum mengalihkan perhatiannya kearah lain . Untung tidak ada yang menyadari kelakuannya. Semua sibuk dengan kegiatan masing-masing.


Sedangkan ditempat lain, Romi sedang bertemu dengan rekannya. Dia juga orang yang membantunya untuk menyingkirkan Adrian yang tak lain adalah rivalnya sejak di bangku sekolah.


Doni Atmaja adalah pengusaha yang bergerak di bidang makanan sama dengan Adrian. Dia selalu bersaing dengan Adrian sejak di bangku SMA. Dia menghalalkan segala cara untuk menyaingi Adrian.


Sebenarnya orang tua Doni adalah sahabat dari orang tua Adrian. Hanya saja dia selalu merasa iri dengan Adrian. Apalagi orang tuanya selalu membandingkan dirinya dengan Adrian. Hal inilah yang membuatnya semakin membenci Adrian.


Mereka berdua berada di sebuah club malam . Hingar bingar sungguh memekakkan telinga. Tetapi bagi orang yang sudah terbiasa, membuat mereka menjadikannya tempat untuk untuk menghilangkan penat.


Banyak orang yang datang ketempat seperti ini hanya untuk sekedar nongkrong dan minum-minum. Tapi ada juga yang berjoget ria.


" Bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Doni sambil sambil sesekali menghisap rokok. Suara bising yang diputar oleh DJ tak membuat mereka menghentikan pembicaraan.


" Setelah kecelakaan Adrian saya langsung pergi keluar kota untuk dinas. Sehingga saya masih belum mengetahui kondisinya ," jawab Romi.


" Kita harus memastikan dia tidak bisa bangun lagi," ucap Doni dengan sorot mata yang tajam .


" Tentu saja. Saya juga berharap begitu."


" Halo sayang."

__ADS_1


__ADS_2