Kembalinya Ingatan Sang CEO

Kembalinya Ingatan Sang CEO
BAB 34


__ADS_3

" Pengangguran banyak acara. itu maksudnya," kata Dewa menjelaskan maksud dari katanya


" Oh... gitu." Aurora menganggukkan kepalanya faham .


" Indah banget burung-burungnya!" Celetuk Reyna yang tidak bisa menutupi kekagumannya.


Saat baru masuk mereka disuguhkan pemandangan yang sangat indah. Berbagai macam burung ada di sini. Ada love bird, kutilang, perkutut dan masih banyak lagi .


" Kamu benar... burungnya indah-indah banget. Kamu dapat mereka dari mana, Wa ?"


" Ada yang beli dan ada juga yang berburu ."


" Kamu hebat loh bisa buat beginian."


" Terimakasih pujiannya. Ayo lihat yang lain."


" Punya harimau tidak?" tanya Aurora sambil terus menatap sekitar.


" Punya dong ... tapi masih bagus harimau putih punya mu."


" Kak Rara punya harimau, kok saya belum tahu ya?"


" Nanti juga tahu dek. Sekarang kalian mau ikut kakak menghampiri harimau apa tidak?"


" Aku disini saja kak," kata Reyna.


Reyna milih aman. Lebih baik lihat burung-burung ini dari pada harimau ganas.


" Aku ikutan," kata Reyhan


Akhirnya Aurora, Dewa, Rio, dan Reyhan meninggalkan Reyna sendiri di kandang burung. Mereka melewati begitu saja berbagai jenis hewan lain yang ada di sana. Meraka langsung menuju bagian belakang taman.


Sungguh melelahkan... itulah yang kini dirasakan oleh Reyhan. Jika tau tempat yang diinginkan oleh kakak angkatnya sejauh ini lebih baik diam bersama adiknya saja. Tidak dengan tiga orang lainya yang memang sudah terbiasa.


" Berapa lama kamu membuat ini semua?" tanya Aurora dengan penasaran .


Jika dilihat, tidak mungkin hanya setahun atau dua tahun. Apalagi pohon-pohon yang ada sudah seperti di hutan asli .


" Lama juga sih... kalau tidak salah sejak kelas satu SMA . Kami mulai gemar berburu sejak mengikuti kegiatan disekolah .


Sebenarnya taman ini bukan milikku seorang. Angga dan juga Rio juga punya andil. Hewan-hewan disini beberapa juga milik mereka."


" Kok bisa luas begini?"


" Usaha dong. Kami juga di dukung oleh satu sahabat kami yang lain."


" Jadi bukan hanya bertiga dong?"


" Iya bisa dibilang begitu . Kamu pasti pernah dengar Adrian Hadi Kusuma yang dikabarkan meninggal tujuh bulan yang lalu?"


" Kalau kabar itu sih nggak pernah dengar. Tapi kalau bang Adrian aku kenal."


" Kamu kenal Adrian dimana? kamu tahu tidak , baru semalam kami mengetahui jika Adrian tidak meninggal dan selamat dari peristiwa kecelakaan itu."


" Jadi kalian juga kerumah om Arya... kok nggak jumpa?"


" Jadi kamu semalam juga ada di sana?"


" Ada lah."


" Bertemu sama Adrian kagak? kami belum sempat bertatapan muka secara langsung ."

__ADS_1


" Nggak usah bahas itu bisa kan?"


" Kenapa?"


" Lagi malas... lagian kita jalan udah lama loh. Kok nggak sampai-sampai dah perasaan."


" Kak Rara baru kerasa nih, kaki aku aja udah pegel banget. Udah pengen patah rasanya," gerutu Reyhan.


Mereka sampai melupakan percakapan tentang Adrian. Aurora bernafas lega saat Dewa maupun Rio tidak mengungkit lagi masalah semalam. Entahlah... Aurora masih belum melupakan kejadian semalam.


" Itu tandanya kamu harus rajin olahraga."


" Setiap hari juga sudah olahraga."


" Olahraga apa?"


" Olahraga bibir."


" Emang ada yah olahraga bibir?" tanya Aurora.


" Ya ela adik mu ini beneran mesum. Kamu belum tahu kalau olahraga bibir itu maksudnya ciuman."


" Bukan lah... gini-gini bibir ku masih suci loh," protes Reyhan tidak terima dirinya dibilang mesum.


" Tadi kamu bilang olahraga bibir."


" Maksud aku tuh makan. Bagaimana pun jika kita makan pasti gerak-gerak , kan?"


" Iya juga sih... tapi nggak juga kali."


Reyhan dan juga Rio masih asyik berdebat. Mereka belum menyadari jika sudah sampai di kandang harimau. Tidak dengan Aurora yang sudah merasa akan kehadiran binatang buas itu. Meskipun keberadaannya masih belum terlihat.


" Ini kandangnya kan?"


" Insting... Ayo cepat buka!"


" Kamu tadi nggak bilang mau masuk, cuma mau lihat!"


" Ngapain juga cuma lihat. Emang apa yang mau dilihat dari sini. Kelihatan juga kagak."


" Tapi aku nggak berani. Angga nggak ada di sini. Dia punya Angga, dan lebih dekat dengannya."


" Terus kalau kasih makan?"


" Kami masukin ayam hidup ke dalam."


" Kalian nggak usah khawatir deh, lebih baik kalian buka dulu," kata Aurora dengan paksa.


Dewa menuruti Aurora dengan setengah hati. Di melihat sahabatnya yang masih saja berdebat dengan Reyhan.


Setelah pintu dibuka Aurora langsung masuk. Tidak ada raut takut sedikitpun dari wajahnya. Karena memang sudah biasa mengalaminya . Dia sebenarnya sangat rindu dengan sahabat-sahabatnya.


Tak lama kemudian muncullah si belang yang berjalan kearahnya. Matanya sangat tajam dengan taring yang siap mengoyak mangsa . Dewa langsung panik.


" Ayo keluar dong... kayak nya ni hewan marah deh. Angga udah lama banget nggak datang berkunjung."


" Kamu keluar dulu ... ajak Rio sama Reyhan. Aku masih ingin bersenang-senang dengannya."


" Kita keluar aja kak... lihat tuh harimau makin dekat aja."


" Grrrrrr rrrrrr"

__ADS_1


Reyhan langsung lari keluar kandang, begitupun dengan Rio. Tapi tidak dengan Dewa yang masih ada di dekat Aurora.


" Ayo anak manis kesini," kata Aurora kepada harimau itu .


Aurora semakin mendekat, begitupun dengan harimau. Tiba-tiba harimau itu melompat kearah Aurora dengan ganas.


" Awas!" teriak Dewa dengan panik .


Bahkan kedua orang yang tadi ada di luar kandang sampai masuk kedalam. Tapi kekhawatiran itu berubah menjadi keterkejutan yang luar biasa. Hewan itu bukannya menyerang Aurora malah dengan manja memeluknya. Bahkan harimau itu menjilati wajah cantiknya.


Shock itulah yang dirasakan oleh ketiga lelaki yang melihat interaksi antara Aurora dengan sang harimau.


" Bagaimana bisa?" gumam Reyhan dengan lirih tapi masih didengar oleh Rio yang berdiri di sebelahnya.


" Itulah aku menyebutnya peri hutan. Kalau kami tahu hewan piaraan Rara kamu pasti langsung terkejut."


" Jadi kak Rara sudah lama kenal dengan kalian?"


" Tidak bisa dibilang kenal sih. Kemi kenal pun karena ketiga binatang piaraannya."


" Memangnya apa saja binatang itu?"


" Nanti juga kamu akan tahu. Dia akan segera membawanya kesini."


Akhirnya Aurora bermain dengan harimau itu sampai puas. Kini mereka sudah ada di ruang makan .


" Ayo makan seadanya, jangan sungkan," kata wanita paruh baya yang terlihat masih cantik di usianya yang tidak muda.


" Terimakasih Tante... maaf sudah merepotkan Tante ."


" Tante nggak merasa repot kok... lagian Tante senang banget akhirnya Dewa mengajak kekasihnya kesini."


" Uhuk uhuk uhuk."


Aurora langsung tersedak sedangkan Rio dan juga Dewa sama-sama menyemburkan minuman mereka.


" Pelan-pelan sayang," kata mama Dewa sambil mengelus lembut punggung Aurora.


" Memangnya siapa kekasih Dewa Tante?"


" Ya kalau bukan kamu ... masak adik kecil ini. Meskipun kamu juga masih kecil tapi tidak masalah. Paling tidak usia kalian tidak terlalu jauh . Tante bersyukur akhirnya kekhawatiran Tante tidak benar."


" Tante khawatir anak Tante belok."


" Uhuk uhuk uhuk uhuk."


Kini giliran Dewa yang tersedak. Dia malu sekali dengan ucapan frontal mamanya. Kalau bisa dia ingin sembunyi sejauh mungkin.


" Kok mama gitu sih... anak sendiri dibilang belok."


" Terus mama harus gimana coba. Umur sudah tua tapi belum pernah mengenalkan satu wanita pun ke Mama. Setiap hari kalian hanya bertiga , kadang berdua laki-laki semua coba."


" Tapi bukan berarti nuduh kami belok dong."


" Iya nih Tante.... kita nggak belok tahu!"


" Iya...iya sekarang saya percaya. Apakah dewa sudah bawa wanita imut ini kerumah."


" Tapi Tante _"


" Nggak boleh bicara waktu makan. Yuk makanannya dimakan keburu dingin nanti nggak enak."

__ADS_1


Aurora hanya menghela nafas pasrah. Dia langsung memulai makannya, begitupun dengan yang lain.


__ADS_2