Kembalinya Ingatan Sang CEO

Kembalinya Ingatan Sang CEO
BAB 37


__ADS_3

Sudah seminggu ini Adrian bekerja di kantor. Tidak ada yang berubah dari Adrian menurut pandangan para karyawan karena memang Adrian bersikap dingin seperti sebelumnya. Belum ada yang mengetahui jika Adrian mengalami hilang ingatan.


Tuan Arya awalnya mempertanyakan keputusan Adrian yang tidak ingin mengambil posisi Romi dan malah ingin membuat perusahaan lain. Tapi setelah Adrian memaparkan semua tujuannya, tuan Arya akhirnya mengerti.


Apalagi setelah seminggu berada di kantor dia mendapatkan informasi yang sangat penting. Meskipun Adrian mengalami amnesia bukan berarti dia melupakan semua kecerdasannya. Begitu membaca laporan dia langsung mengerti dengan sendirinya


Sudah seminggu pula Adrian dan juga Aurora belum berkomunikasi lagi. Aurora sibuk dengan ijinnya dan membuat hutan buatan di tempat yang ia beli. Tidak mungkin jika dia membuat hutan di rumahnya meskipun masih luas . Banyak yang menjadi bahan pertimbangannya.


Rio, Dewa dan juga Angga membantu Aurora. Angga sangat kaget saat pertama kali bertemu dengan Aurora. Dia masih belum lupa dengan pertemuan pertama mereka di hutan.


Kini mereka berada di tempat baru Aurora yang tak lain hutan buatan. Tanah yang ia beli sangat luas. Untungnya sebagian besar sudah ditanami berbagai jenis pohon. Disekelilingnya akan dibangun pagar agar tidak sembarang orang bisa memasukinya. Tidak sedikit uang yang ia gunakan. Untung tabungannya selalu bertambah .


" Kapan rencananya kamu akan mengambil hewan-hewan yang kau punya?" tanya Dewa saat mereka duduk mengawasi para tukang yang sedang membuat pagar .


" Seharusnya sih sekarang tetapi belum punya tempat untuk mereka tinggal dan bingung mau bawa pakai apa gitu ."


" Apa gunanya kita sebagai teman jika kamu masih bingung."


" Maksudnya bagaimana?" tanya Aurora dengan dahi mengkerut.


" Biarkan hewan-hewan itu tinggal untuk sementara ditempat ku Terus untuk membawanya juga bisa menggunakan mobil yang gua punya.


" Memangnya nggak masalah nih?"


" Tentu saja!"


Dering suara handphone membuat percakapan mereka berhenti. Aurora segera mengambilnya dari saku celana yang ia pakai.


" Assalamualaikum."


" ..."


" Ada apa ya Bu?"


" ... "


" Tolong suruh bang Rian tunggu sebentar. Rara akan pulang sekarang."


"... "


" Makasih Bu.... Assalamualaikum."


Aurora menyimpan kembali hp nya . Lalu menatap ketiga pemuda itu bergantian.


" Bukankah kalian bilang sahabatnya bang Rian. Mau bertemu dengannya kagak?"


" Kapan?"


" Ya sekarang lah... masak nunggu tahun depan."


" Jadi ..."


" Sekarang bang Rian sudah ada di rumah. Jika kalian mau bertemu, bisa ikutan pulang kerumah."


" Kalau gitu gua ikutan . Sejak dia kembali gua belum pernah ketemu loh. Hp nya juga masih belum aktif. Nggak ada kabar lagi."


"Kalau begitu kita berangkat sekarang."


" Oke!"


Aurora langsung menuju motornya yang terparkir di bahu jalan. Sedangkan tiga pemuda lainnya menuju mobil yang mereka gunakan.


Aurora memang lebih suka menggunakan sepeda motor dari pada mobil. Bukan sepeda motor yang mewah. Yang penting baginya kenyamanan. Hanya butuh waktu setengah jam sudah sampai .


Aurora menyerahkan sepeda motor yang ia pakai pada pak selamet untuk disimpan. Mobil yang dikendarai tiga pemuda tampan juga sudah sampai. Mereka mengikuti langkah kaki Aurora yang memasuki ruangan.


" Assalamualaikum... any body home?" teriak Aurora

__ADS_1


" Wa alaikum salam warahmatulloh... nggak usah teriak bisa kali dek. Ini rumah loh bukan hutan," omel Adrian sambil menghampiri Aurora.


" Iya pak ustadz... tumben nih ingat sama adek," sindir Aurora.


" E_"


" Adrian!" teriak tiga pemuda yang sedari tadi berada di belakang Aurora.


" ... "


Tidak ada tanggapan dari Adrian. Dia memandang tiga pemuda itu dengan dahi mengkerut. Siapa mereka?


" Lo masih ingat kita orang kan?" tanya Dewa sambil memeluk sahabatnya.


" ... "


Tidak ada tanggapan dari Adrian. Dia diam dalam pelukan Dewa. Dewa yang merasa tidak ada tanggapan dari sang sahabat langsung melepas pelukannya. Dia menatap Adrian dengan intens.


Aurora yang melihat kebingungan mereka, mengajak untuk duduk dahulu.


" Lebih baik kita duduk dulu. Biar lebih asyik ngomongnya."


" Mereka siapa dek?" tanya Adrian


" What!!! jadi Lo beneran lupa sama kita. Nggak bisa dibenerin nih."


" Memangnya kita saling kenal?"


" Ya Alloh yan ... sejak kecil kita emang udah kenal kali. Jangan bilang Lo amnesia?"


" Kan udah Rara bilang duduk dulu, biar ngomongnya enak."


" Sorry!"


Mereka pun langsung menuju sofa yang ada di ruang tamu. Adrian membawa Aurora duduk disampingnya. Aurora hanya menurut. Tiga pemuda itu jadi penasaran dengan hubungan mereka. Terus bagaimana bisa Adrian bisa sampai melupakan mereka.


" Abang sudah lama disini?"


" Kok nggak nunggu adek sambil istirahat dikamar."


" Bagaimana mau istirahat kalau yang punya rumah nggak ada."


" Kayak rumah siapa bang. Memangnya Reyhan sama Reyna belum pulang?"


" Kata Bu Ida sih belum."


Mereka berdua bercakap-cakap seolah kehadiran tiga pemuda itu tidak ada.


" Kalian berdua melupakan kami?"


" Kalian ini sebenarnya siapa? kenapa bisa sama Aurora?"


" Lo beneran nggak ingat sama kita ?"


Adrian hanya menjawab dengan gelengan. Tentu saja membuat tiga pemuda itu langsung menatap Aurora penuh tanya.


" Bang Adrian memang mengalami amnesia setelah kejadian itu. kami sudah berusaha mengobati tetapi belum berhasil."


Jawaban Aurora malah membuat ketiga pemuda itu makin penasaran. Sepertinya mereka telah melewat banyak hal.


" Apa maksudnya?"


" Bang Rian melupakan kejadian sebelum terjadi kecelakaan."


" Jadi kamu benar-benar melupakan kami. Itulah mengapa kamu tidak menghubungi kami meskipun sudah kembali?"


Adrian hanya menganggukkan kepalanya . Membuat ketiganya menghela nafas lelah. Suasana menjadi sunyi. Hingga suara salam dari seseorang memecah keheningan.

__ADS_1


" Assalamualaikum."


" Wa alaikum salam warahmatulloh."


" Baru pulang dek?"


" Iya kak... tumben rumah rame ?"


" Biasalah."


" Reyna ke kamar dulu kak."


" oke!"


Reyna langsung melangkah menuju kamarnya. Sedangkan Reyhan masih belum pulang .


" Abang kesini ada urusan atau cuma pengen ketemu adek?"


" Pengen ketemu lah dek udah seminggu kita nggak ketemu."


" Abang ada waktu kagak?"


" Kapan?"


" Ya sekarang dong bang. Sekalian besok juga."


" Memangnya kenapa?"


" Mau ikut adek ambil white tidak?"


" Pakai apa?"


" Sahabat Abang punya kendaraan katanya."


" Terus mau ditaruh dimana?"


" Biar tinggal ditempat ku sementara," jawab Dewa.


" Memangnya kamu punya kandang untuk mereka?"


" Itu juga punya Lo. Sebab dana yang kami gunakan juga sebagai dari Lo."


" Kalau mang semuanya sudah siap ya nggak masalah.'


" Terus Abang mau ikut kagak.. siapa tahu masih banyak urusan."


" Ya ikut lah, sekalian jalan-jalan."


" Jadi Adrian juga kenal sama ketiga binatang itu?"


" Kalau saja waktu itu kalian tidak lari terbirit-birit dan ikut saya pulang, mungkin bisa ketemu sama bang Adrian lebih lama."


" Jadi kalian pernah ketemu dek?"


" Iya... Abang masih ingat kagak, waktu Abang nungguin adek udah seperti orang menyetrika ?"


" ... "


" Waktu itu Anang baru sembuh."


" Oh..."


" Kok o doang ."


" Terus mau gimana?"


" Ya nggak gimana-gimana sih."

__ADS_1


" Lebih baik kalian nggak usah debat deh. Kalau memang jadi sekarang juga kita berangkat."


" Kalau gitu gua siap-siap dulu. Tunggu ya!"


__ADS_2