Kembalinya Ingatan Sang CEO

Kembalinya Ingatan Sang CEO
BAB 70


__ADS_3

" Busyet dah .... Ngapain tuh anak mondar-mandir nggak jelas kayak gitu?" tanya Aurora saat mobil Reyhan memasuki halaman.


Nampak Reyna yang mondar-mandir di depan pintu. Gadis kecil itu sesekali melihat kearah gerbang. Begitu melihat mobil yang tadi dikendarai kakaknya masuk , dia langsung berlari ke garasi. Sepertinya dia sudah tidak sabar menunggu kedatangan kedua kakaknya.


" Pasti nunggu kita deh kak , ngapain lagi coba !" jawab Reyhan dengan santai. Dia menghentikan mobilnya di garasi .


" Itu ma sudah pasti. Terus sebentar lagi di akan _" belum juga Aurora menyelesaikan ucapannya sudah keburu kaca mobil di ketuk oleh Reyna dengan tidak sabar.


" Kok nggak turun sih. Reyna udah lama loh nunggu," omel Reyna begitu Aurora dan Reyhan keluar.


" Sorry sis ..... banyak yang harus kita beli jawab Aurora dengan lembut.


" Kok nggak ngajak Reyna sih ?" protes Reyna dengan cemberut. Dia juga ingin jalan-jalan bersama kedua kakaknya.


" Mana bisa ... tadi aja kita di culik _"


" What ?? siapa yang nyulik kak ? terus gimana ... apa ada yang luka ? terus terus ...." Reyna berkata sambil mengelilingi kedua kakaknya.


" Aduh .... nyrocos aja nih mulut. Masuk dulu napa neng . Kita pegel tahu !" Kata Aurora menghentikan ulah Reyna yang membuatnya pusing.


" Sorry kak... khawatir aku. Ya udah ayo masuk dulu. Tante Ama paman juga sudah nunggu di dalam," ajak Reyna sambil menggandeng tangan Aurora. Reyhan hanya bisa menghela napas kasar , saat dirinya di tinggal sendiri. Dia mengambil belanjaan yang tadi ia beli kecuali peralatan tenda.


" Nasib .... nasib !"


Reyhan langsung menyusul Aurora dan Reyna yang terlebih dahulu masuk kedalam. Terlihat Aurora sudah di sofa yang ada di ruang tamu bersama Reyna, Tante Ratna dan juga Paman Raka.


" Belanjanya taruh dimana kak ?"


" Letak sini aja dulu Rey..Biar nanti kakak bawa ke kamar sendiri."


" Oke deh !" Reyhan duduk di sofa singgel yang masih kosong .

__ADS_1


" Ayo ... sekarang cerita kak !"


" Cerita apa ?" tanya Tante Ratna penasaran. Apalagi dia melihat Reyna yang menyeret Aurora untuk mengikutinya.


" Ayo kak ... cerita kak !" desak Reyna yang sudah tidak sabar mendengar cerita dari Aurora.


" Nasi gorengnya gimana ... keburu dingin loh ?"


" Kok bisa lupa sih... tapi nggak masalah. Itu bisa nyusul. Kalau dingin ya tinggal di panaskan nggak masalah," jawab Reyna santai. Sepertinya rasa laparnya sudah menghilang sejak mendengar kedua orang tersayangnya baru saja di culik.


" Astaghfirullah.... Sebenarnya tadi Rara sama Reyhan di culik oleh Reno untuk dibawa ke rumah opa."


" What!!!" teriak Reyna, membuat empat yang ada di sampingnya menutup telinga mereka.


" Ya Alloh ya Robbi..... kok nggak bilang dari tadi sih!"


" Ya kan kamu langsung motong ucapan kakak,"


" Maaf... terus gimana nih sekarang?"


" Ya makan dong. Cacing-cacing yang di perut Reyna sudah meronta-ronta ingin segera diisi loh!"


" Kalau gitu langsung aja kita ke ruang makan aja!" ajak paman Raka yang sudah berdiri.


" Kalian duluan aja. Rara mau taruh barang-barang ini ke kamar dulu," jawab Rara sambil mengangkat semua barang belanjaannya.


" Oke ... tapi jangan lama-lama."


" Sip lah !"


" Rey juga mau taruh ini dulu !"

__ADS_1


" Baiklah... tapi hanya sebentar. Kita makan makan malam bareng !" kata paman Raka dengan lembut.


" Oke boss!" jawab Rara dan Reyhan serentak. Kemudian keduanya berjalan ke kamar masing-masing. Sedangkan tiga orang lainnya berjalan ke ruang makan.


Bu Ida hanya membuat acar , telur ceplok, ayam goreng krispi, dan tak lupa dengan sambalnya. Beliau sudah diberitahu jika Aurora membelikan nasi goreng untuk semua penghuni rumah.


" Bu Ida memang selalu the best. Tahu aja yang Rara mau!" ucap Aurora begitu dia sudah ada di ruang makan.


" Betul kak ... Bu Ida memang the best." Reyhan turut memuji masakan Bu Ida. Membuat Bu Ida malu.


" Terimakasih pujiannya neng ."


" Ayo Bu makan sama kita !"


" Nggak neng ... ibu makan di belakang saja ."


" Pasti mau pacaran sama pak Slamet ya Bu ," goda Reyna dengan menaik turunkan alisnya.


" Non Reyna bisa saja."


" Sweet.... sweet!"


" his ...nggak baik loh goda Bu Ida seperti itu."


" Emang kenapa Tan ?"


" Nanti Bu Ida tambah seperti kepiting rebus


Lihat mukanya sudah merah semua."


" Ha ha ha ."

__ADS_1


Mereka semua tertawa mendengar ucapan Tante Ratna. Bahkan Bu Ida pun turut tertawa bersama mereka.


__ADS_2