Kembalinya Ingatan Sang CEO

Kembalinya Ingatan Sang CEO
BAB 33


__ADS_3

Kini Aurora sudah berada di dalam mobil bersama Reyhan dan juga Reyna. Reyhan yang bertugas menyetir mobil mengikuti mobil Rio yang melaju di depan mobil mereka.


Kini mereka akan menuju rumah dewa yang tak lain teman Rio. Rio sudah mengatakan kedatangan mereka sebelum akhirnya mereka berangkat. Dewa tentu saja senang mendengar ucapan sahabatnya.


Sayangnya Angga salah satu dari teman mereka tidak bisa ikut kerumah Dewa. Dia sedang ada perjalanan bisnis ke Eropa.


" Memangnya kak Rara sudah kenal dekat sama tuh orang?" tanya Reyhan dengan santai .


" Kenal sama siapa?"


" Rio lah .... siapa lagi coba."


" Tadi pagi pertemuan kedua kami. Tenang saja lagipula rumah Rio juga ada di depan rumah Opa. Tidak mungkin juga dia membohongi kita."


" Siapa yang bilang kak Rio bohong. Kan Reyhan cuma tanya kedekatan kak Rara sama tuh orang."


" Bilang saja kak Rey cemburu."


" Ngapain cemburu?"


" Kalah saing kak!"


" Ada-ada saja kalian ini."


Mereka terus berbicara sehingga suasana mobil tidak hening. Tak terasa mobil yang mereka ikuti berhenti di sebuah rumah mewah . Mobil mereka pun mengikuti masuk kedalamnya.


Saat mobil di depannya berhenti dan Rio nampak turun, mereka pun juga ikut turun dari mobil.


" Wuih... rumahnya besar amat. Pasti yang punya juga tajir nih," kata Reyna mengagumi rumah di depannya.


" Terimakasih pujiannya," jawab seorang pemuda yang menyambut kedatangan mereka .


" Kami tidak mengganggu kan?" tanya Aurora tidak enak hati.


" Santai girl... masih ingat sama saya kan. Ternyata nih anak nggak bohong saat bilang kamu ingin ke rumahku. Selamat datang di gubuk ini. Semoga betah ya?"


" Kalau rumah yang sudah seperti istana ini dianggap gubuk , gimana dengan rumah-rumah reyot," celetuk Reyna dengan polos.


" Terimakasih pujiannya gadis kecil , gimana kalau kita kenalan dulu nih. Seperti pepatah bilang tak kenal maka tak sayang. Kenalin nama gua Dewa," kata Dewa sambil mengulurkan tangannya kearah Aurora. Tentu saja Aurora membalasnya.


" Aurora biasa dipanggil Rara."


" Reyhan !"


" Reyna."

__ADS_1


Dewa menyalami tiga orang itu bergantian sambil berkenalan.


" Boleh langsung antar kami ke tempat mereka tidak?" tanya Aurora yang memang sudah sangat penasaran dengan tempat yang diceritakan oleh Rio .


" Kok terburu-buru. Nggak masuk rumah dulu nih ... ya paling tidak basahi tenggorokan kek," ajak Dewa dengan tulus


" Itu mah gampang. Yang penting tunjukkan koleksi Lo dulu. Gua dari tadi udah penasaran banget loh."


"Oke... tapi nih anak nggak masalah kan buat lihat?" tanya Dewa sambil menunjuk ke arah Reyna.


Aurora sampai lupa memberi tahu tujuan mereka datang kesini. Dia belum tahu ... apakah mereka takut sama hewan buas.


" Kalian mau ikut kak Rara, apa masuk rumah dulu?" tanya Aurora kepada kedua adik angkatnya.


" Memangnya kak Rara mau kemana?" tanya Reyhan.


" Kebelakang rumah ," jawab Dewa.


" Ngapain?... jangan aneh-aneh loh ya. Kita ikutan aja ," jawab Reyna sedangkan Reyhan cuma menganggukkan kepalanya tanda menyetujui ucapan adiknya.


" Oke ... tapi jangan kaget," kata dewa sambil berjalan ke arah samping rumah.


" Sebenarnya kakak mau lihat taman milik kak Dewa yang sudah seperti hutan buatan," jawab Aurora.


Nampak keterkejutan di wajah mereka. Keduanya kompak memelototi Aurora.


" Ngapain sih kak...pasti banyak hewannya loh!"


" Itu memang tujuan kakak datang kesini," jawab Aurora yang membuat keduanya tak berkutik.


Aurora dan yang lain mengikuti langkahnya. Cukup jauh juga , karena rumah ini benar-benar luas banget. Tapi saat berjalan mata seakan di manjakan dengan pemandangan yang ada. Ada berbagai jenis bunga dan buah yang ditanam.


Dewa membawa mereka kesebuah taman yang ada di belakang rumah. Taman itu di pagar rapat , agar hewan yang ada didalamnya tidak bisa menerobos keluar.


Kini Dewa sudah membuka kunci pintu yang ada di pagar itu .


" Kalian disini saja ya?" pinta Rara kepada kedua adik angkatnya.


" Kami ikut masuk dong kak."


" Kalian tidak takut sama hewan buas?"


" Hewan apa dulu dong."


" Di dalam ada berbagai hewan . Ada yang buas dan jinak. Tapi tenang saja kok , untuk hewan yang buas saya sendirikan ."

__ADS_1


" Jadi tidak masalah kan mereka ikut?"


" Kenapa harus takut... bukankah ada peru hutan," kata Dewa dengan terkekeh geli. Apalagi mengingat tingkahnya dan kawan-kawan saat bertemu dengan Rara waktu itu .


" Kenapa tertawa sendirian, emangnya ada yang lucu? terus ngapain coba kalian berdua nyebut gua peri hutan?"


" Tanya sama si Rio tuh... Dia juga bilang_"


" Bilang apa?"


" Nggak usah dengerin omongan Dewa ,Ra."


" Kenapa?"


" Nggak ada faedahnya. Dari pada terus ngobrol lebih naik kita masuk ke dalam."


Rio tidak ingin Dewa membongkar rahasianya. Dewa malah tertawa dengan pengalihan yang dilakukan sahabatnya itu.


" Oke.... selamat datang di dunia hewan."


" Nggak usah lebay deh."


" Sorry... yuk kita masuk."


Aurora benar-benar takjub dengan pemandangan yang ada dihadapannya kini. Ternyata Dewa Membuatnya seakan masuk kedalam hutan. Bukan lagi taman yang biasa ada di sekitar rumah


Berbagai tumbuhan yang biasa ada di dalam hutan juga di tanam disini. Bagi pecinta hewan pasti akan sangat betah tinggal disini.


" Keren banget... konsep yang ingin gua bangun seolah ada disini."


" Lo juga mau buat ginian?"


" Yap... gua mau ambil sahabat-sahabat gua. Gua takut mereka diburu."


" Maksudnya tiga hewan waktu itu?"


" Iya lah mana lagi. Ngomong-ngomong ini luasnya berapa?"


" Hampir tiga hektar... tidak begitu luas sih. Tapi daripada tidak sama sekali. "


" Kalian masih sering berburu ?"


" Kalau kami senggang ... kan kami bukan pengacara. "


" Pengacara?"

__ADS_1


__ADS_2