Kembalinya Ingatan Sang CEO

Kembalinya Ingatan Sang CEO
BAB 50


__ADS_3

Sudah empat hari Adrian berada di rumah sakit. Keadaannya juga semakin membaik . Hari ini dia sudah diperbolehkan pulang oleh dokter.


Nyonya Dania membereskan barang-barang yang akan dibawa pulang. Diandra juga turut membantunya.


" Apa kita akan pulang bersama supir ma ?" tanya Diandra disela-sela kegiatannya.


" Tentu saja ... apa kamu mau menyetir sendiri?"


" Kalau boleh sih nggak masalah. Andra sudah mahir loh!" kata Diandra dengan bangga.


" Tapi masalahnya papa nggak ngizinin ."


" Papa ma gitu... kan Diandra juga ingin sekali-kali bawa mobil sendiri."


" Kan papa sayang sama kamu . Jadi tidak ingin kamu sampai kenapa-kenapa."


Nyonya Dania dan juga Diandra berbincang-bincang tanpa menghiraukan Adrian yang sudah bosan menunggu. Bukankah tinggal pulang... kenapa nggak langsung pulang aja!


" Mama masih lama ?" tanya Adrian yang mulai jengah mendengar obrolan unfaedah mama dan juga adiknya.


" Eh. .. sudah selesai kok. Yuk langsung pulang saja!"


nyonya Dania melihat wajah putranya mulai tertekuk jadi tidak enak hati.


" Apa semua administrasinya sudah diurus ?"


" Sudah semua, hanya tinggal pulang," jawab Nyonya Dania.


" Kenapa tidak dari tadi, tahu gitu rian langsung pulang dari tadi, " gerutu Adrian sambil berdiri.


" Slow brother.... don't angry, oke!" kata Diandra dengan tingkah konyolnya.


Adrian melangkah keluar dari ruangan yang ia tempati tanpa menghiraukan ucapan Diandra. Diandra pun mengikutinya dari belakang dengan muka cemberut.


Sopir sudah menunggu mereka di pintu masuk. Jadi mereka tidak perlu menunggu terlalu lama.


Adrian duduk di kursi depan di samping supir. Sedangkan Diandra duduk disamping mamanya di bangku belakang.


Disepanjang perjalanan Adrian hanya diam mendengarkan Diandra yang asyik bercerita. Dia sampai berpikir dari mana saja adiknya itu mempunyai banyak ide bercerita.


" Kok aku nggak pernah lihat kak Rara jenguk kak Rian ?" tanya Diandra yang memang belum pernah bertemu dengan Aurora sejak pesta yang diadakan di rumahnya waktu itu .


" Siapa bilang... kan tiga kali dia mengunjungi kakakmu . Hanya saja yang terakhir dia pulang lebih cepat," jawab Nyonya Dania sambil melirik putranya.


" Kenapa?"


" Tanya saja sama kakakmu!" kata nyonya Dania dengan suara agak keras.


Adrian melirik Mamanya tanpa berniat menjelaskan apapun. Baginya Aurora hanya orang lain. Tidak seperti Salsa yang merupakan kekasihnya. Itu yang ada dalam benak Adrian


Aurora memang kembali mengunjungi Adrian pada hari ketiga. Hanya saja saat itu ada Salsa diruanganya. Adrian tidak begitu memperdulikan Aurora sehingga Aurora pamit undur diri. Nyonya Dania bertemu Aurora di tempat parkir.

__ADS_1


" Kenapa kak?" tanya Diandra .


" Sudahlah sayang... mungkin kakakmu capek," kata nyonya Dania yang melihat putranya hanya diam saja .


Suasananya pun kembali sunyi hingga mereka tiba di rumah . Adrian pun langsung masuk kedalam rumah tanpa berkata satu katapun. Diandra dan Nyonya Dania tidak habis pikir dengan tingkah putranya. Mereka juga heran bagaimana bisa Adrian. itu bisa mempunyai dua sifa yang berbeda.


Aurora sudah mulai mempersiapkan segala sesuatu yang ia butuhkan untuk keperluan kuliahnya . Sesekali Aurora juga membantu sang paman di rumah sakit. Tetapi yang tidak pernah ia sangka Aurora juga dituntut untuk sesekali menyambangi perusahaan milik sang ayah.


Aurora benar-benar sangat sibuk sampai tidak merasakan sakit hati lagi . Ya .... merasa sakit saat melihat Abang kesayangannya tidak menghiraukan kedatangannya. Adrian lebih suka bermesraan dengan salsa yang ia ketahui sebagai kekasih Romi. Tetapi Aurora tidak ingin ingin ikut campur dan membuat hatinya lebih sakit lagi.


Sekarang Aurora lebih fokus kepada kegiatan-kegiatan yang sudah menunggunya. Seperti hari ini untuk kedua kalinya orang kepercayaan ayahnya mendatanginya ke rumah.


" Bagaimana nona.... anda bersedia kan sesekali mengunjungi perusahaan?" tanya pria paruh baya yang seumuran dengan almarhum Papanya.


" Tidak harus setiap hari kan paman."


"' Terserah anda nona. Yang penting anda bisa sesekali mendatangi perusahaan untuk melihat kondisinya. Bagaimana pun perusahaan itu dirintis oleh almarhum papa Nona, " Jawab pria itu .


" Terimakasih atas usaha paman. Jika tidak ada paman entahlah apa yang akan terjadi dengan perusahaan itu."


" Kami lah yang harus berterimakasih Nona... jika bukan karena belas kasih almarhum mungkin saya masih belum menjadi orang."


" Waduh.... jangan-jangan paman alien yang sedang menyamar?" canda Aurora.


" Bukan alien non... tetapi Ari . Panggil saja paman Ari."


" Baiklah paman Ari... seperti yang paman kehendaki, sesekali saya akan pergi ke perusahaan. Tetapi saya meminta satu ruangan khusus untuk saya tempati."


" Sekali lagi terimakasih paman," ucap Aurora dengan tulus .


Ari sangat senang akhirnya putri dari almarhum pimpinannya sudah berkenan pergi ke perusahaan. Tugasnya sudah selesai. Dia pun undur diri.


" Karena semua sudah saya sampaikan sekarang saya mohon undur diri non!'


" Apa tidak sebaiknya makan dulu paman?"


" Tidak perlu Non... hari sudah semakin sore . Istri saya di rumah pasti sudah menunggu kedatangan saya. "


" Kalau begitu saya tidak akan mengganggu..Sekali lagi terimakasih."


" Sama-sama... Assalamualaikum."


" Wa alaikum salam warahmatulloh."


Setelah tamunya pulang Aurora menghampiri Reyhan dan juga Reyna di taman belakang. Keduanya sudah pulang. Mereka bersantai sambil memakan cemilan yang di buat oleh Bu Ida.


" Bagaimana kak? "


" Apanya?"


" Ya ... orang tadi pasti menyuruh kakak ke perusahaan kan?" tanya Reyhan.

__ADS_1


" Kirain apaan . Kakak memang harus sesekali kesana. Bagaimana pun saya satu-satunya ahli waris yang dimiliki oleh almarhum papa. Tetapi mungkin saya harus berbicara dulu kepada opa maupun Oma. Mungkin saja beliau bisa membantu."


" Enak ya jadi kakak ... tinggal memilih mau kerja dimana."


" Jika kakak boleh memilih, kakak lebih suka jika orang tua kakak masih ada. Begitupun dengan almarhum kakek. Sebanyak apapun harta kita tidak menjamin kebahagiaan. Meskipun tidak dipungkiri manusia hidup pasti butuh harta," ucap Aurora.


" Kakak benar... semoga papa dan mama diberi kesehatan dan diperpanjang umurnya. Saya juga ingin membahagiakan mereka."


" Amin... bagaimana kalau nanti kamu sekalian magang di kantor. Kamu mau kuliah jurusan bisnis kan?"


" Kok kakak tau ?"


" Ya jelas lah... kan kamu pernah bilang kalau cita-cita mu mau jadi pengusaha sukses."


" Kirain kakak sudah lupa."


" Tenang saya penyimpanan kakak masih cukup kok . Terus Reyna mau lanjutin sekolah dimana?"


" Masih bingung kak. Andai saja ada mama sama papa," jawab Reyna dengan murung.


" Bagaimana kalau pulang sekolah besok kita mengunjungi orang tua kalian?"


" Benarkah?" tanya Reyna dengan mata berbinar 🤩🤩🤩.


" Tentu saja. Besok kalian langsung pulang. Nanti kita akan menggunakan pesawat pribadi milik almarhum kakek."


" Kakek nya kakak punya pesawat pribadi?"


" Kalau masih ada sih."


" Keren banget. Nggak sabar nunggu besok."


" Bagaimana kalau kita berbelanja. Kalian bisa membelikan sesuatu buat orang tua dan juga adik kalian."


" Ide yang bagus!"


" Kalau begitu tunggu apa lagi. Ayo kita berangkat!"


" Nggak ganti baju dulu kak ?"


" Kakak sih nggak perlu. Tapi jika kalian masih mau ganti baju ya silahkan. Kakak tunggu di mobil."


" Oke kak sebentar ya!"


Reyna berlari meninggalkan Reyhan dan juga Aurora yang hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah lakunya.


" Terimakasih kak."


" Soal?"


" Kakak menganggap kami sebagai adik kakak sendiri."

__ADS_1


" Karena kalian memang adik kakak!" ucap Aurora dengan tegas.


__ADS_2