
" Kok kita makan disini kak ?" tanya Diandra begitu Adrian memarkirkan mobilnya di depan sebuah rumah makan yang cukup ramai . Sangat aneh menurutnya. Karena setahunya kakak keduanya itu belum pernah makan di rumah makan yang sederhana.
" Kenapa ??? nggak suka ?" tanya Adrian dengan datar.
" Ya heran aja gitu. Kan nggak biasanya kak Rian makan di tempat seperti ini. Dulu kak Rian bilang nggak selera saat Andra minta," jawab Diandra santai .
" Ya selera orang kan bisa berubah. Contohnya aja sekarang. Sekarang selera kakak ya makan disini. Udah nggak usah protes. Buruan turun! yang lain juga udah sampai," kata Adrian sambil keluar dari mobilnya. Diandra mau tidak mau harus mengikutinya.
Adrian satu mobil dengan Diandra. Aurora bersama dengan Reyhan sedangkan Reno sendirian.
" Kita makan di sini bang ?" tanya Aurora saat mereka sudah berkumpul.
" Gimana suka nggak ?"
" Di lihat dari banyaknya pengunjung sih sepertinya enak. Semoga aja rasanya nggak mengecewakan. Yuk ... lah!"
Rumah makan itu cukup sederhana namun terlihat nyaman. Apalagi letak rumah makan itu diapit oleh persawahan. Bahkan ada gubuk-kecil yang terbuat dari bambu yang beratap daun kelapa yang dianyam dengan sedemikian rupa. Bagi pengunjung yang tidak suka makan di luar tersedia juga di dalam rumah makan tersebut.
Para pengunjung harus memilih dan mengambil makanan mereka sendiri , karena makanannya memang disediakan secara prasmanan. Setelah itu mereka diharuskan untuk membayar terlebih dahulu sesuai dengan makanan yang dipesan. Barulah bisa menikmati makanan yang mereka pesan.
__ADS_1
Aurora mengambil sate lilit, tumis kangkung, ayam panggang, dan tak lupa dengan sambal. Setelah selesai mengambil makanan, mereka langsung ke kasir untuk membayarnya sebelum menyantapnya .
" Gimana kalau duduk disana saja mungkin lebih nikmat." tunjuk Aurora pada sebuah gubuk yang berada paling ujung.
" Boleh juga kak. Pastinya lebih sejuk," setelah melihat ketempat yang ditunjuk oleh Aurora, Diandra menyetujuinya. Apalagi di samping gubuk tertanam berbagai macam bunga.
Tanpa banyak kata Aurora dan Diandra langsung menuju tempat itu. Yang lain hanya bisa mengikutinya.
" Sejuk banget !"
" Hem .... lihat ! Padinya sudah mau menguning. " Aurora memperhatikan sawah yang ada di sekitarnya.
" Bukan cuman kak Rara aku juga sama. Oh iya kak hampir lupa kok kita nggak ngajak bang Faisal juga sih ?" ternyata Diandra dari tadi melupakan kakak ketiganya yang juga kuliah di tempat yang sama dengannya.
" Basi dek ! kok baru sekarang ngomongnya. Dari tadi kenapa diam aja ?" sindir Adrian. Padahal dia tahu dengan jelas kalau Faisal sudah pulang terlebih dahulu. Ada pertemuan dengan klien penting katanya. Makanya adiknya itu tidak bisa ikut dengan mereka.
" Ya mau bagaimana lagi . kayaknya nih ya ... mister pikun sudah mulai menguasai kepala ku. Gimana dong?"
" Makanya jangan suka makan brutu ," goda Aurora.
__ADS_1
" Apa itu ? " Reyhan belum pernah mendengar kata itu menjadi penasaran.
" Nggak usah di bahas. Makan aja dulu keburu nasinya dingin ," jawab Aurora kemudian dia mulai berdoa. " Bismillahirrahmanirrahim... Allahumma Baa Rik lana fii ma Rozaq tana wa qina adzabannarr ."
" Rasanya mantab betul ," kata Reno begitu makanan masuk kedalam mulutnya. Dia mengambil makanan yang sama dengan Aurora.
" Benar ... tidak mengecewakan sama sekali. Benar-benar top markotop . " Reyhan setuju dengan ucapan Reno. Dia mengambil ayam goreng kecap, sayur kangkung dan perkedel.
Mereka sangat menikmati makan siang ini . semua makanan yang ada di piring mereka habis hanya meninggalkan tulang .
" Alhamdulillah kenyang benar nih perut. Abang benar-benar pinter banget milih tempat."
" Alhamdulillah kalau begitu. Sekarang mau langsung pulang apa gimana?"
" Langsung pulang aja deh bang. Biar nanti nggak terlalu malam juga Rara pulangnya. "
" Oke lah kalau begitu. Nanti kalau sudah sampai telpon Abang. Sekarang Abang juga mau pulang bareng Diandra."
" Oke !"
__ADS_1