Kembalinya Ingatan Sang CEO

Kembalinya Ingatan Sang CEO
BAB 71


__ADS_3

Adrian sekarang sedang bersama keluarga dan juga tamunya duduk di ruang makan. Setelah selesai menunaikan sholat Maghrib mereka makan malam bersama. Faisal dan Saskia tidak bisa ikut serta karena mereka belum pulang .


" Silakan makanannya dinikmati . Maaf jika rasanya tidak sesuai selera," kata nyonya Dania kepada ketiga tamunya. Nyonya Dania mengambilkan nasi dan juga lauk untuk tuan Arya


" Apa jeng Dania masak sendiri?" tanya wanita paruh baya yang tak lain mamanya Dara.


" Tidak Jeng ... saya hanya membantu sedikit. Semua ini masakan Bi Sri sama temennya."


" Oh ... kirain jeng Dania yang masak sendiri."


" Kenapa ya jeng ?"


" Ya nggak papa sih. Tapi heran aja jeng Dania masih masak. Bukankah sudah ada pembantu di rumah ini."


" Ya mau bagaimana lagi jeng, sebagai seorang istri dan seorang ibu saya lebih suka menyiapkan makanan untuk suami dan anak-anak dengan tangan saya sendiri. Lebih sreg gitu. Saya juga berharap mempunyai menantu yang bisa mengurus anak-anak saya dengan baik," jawab nyonya Dania dengan elegan. Tidak terlalu suka dengan ucapan dari istri sahabat suaminya tersebut.


" Maaf jeng jika ucapan saya menyakiti hati jeng Dania," kata mamanya Dara yang menyadari jika ucapannya menyinggung nyonya Dania.


" Tidak masalah... ayo silakan di nikmati!"


Makan malam itu berlangsung dengan hening. Suasananya mendadak canggung.


Setelah itu mereka kembali keruang tamu. Adrian yang berniat kembali ke kamarnya urung karena dipanggil oleh tamunya.


" Nak Rian!"


" Ada apa ya om ?"


" Nak Rian mau kemana ?"

__ADS_1


" Oh ... saya ingin ke ruang kerja om, masih ada pekerjaan yang harus saya kerjakan, " jawab Adrian yang sebenarnya itu hanya alasannya agar tidak berkumpul bersama mereka. Apalagi tatapan Dara yang sedari tadi membuatnya risih. Pengen sekali ingin ia colok matanya.


Diandra juga tidak suka dengan tatapan dara pada kakaknya. Hanya saja dia selalu diajari untuk selalu menghormati tamu, selama tamu itu tak melebihi batasnya.


Diandra ijin kembali ke kamarnya , beralasan ingin mengerjakan tugas . Padahal dia sama sekali belum ada pelajaran. Semua bahan yang ia butuhkan untuk kegiatan besok juga sudah ia persiapkan semuanya.


" Disini dulu nak... Kami juga tidak bisa terlalu lama," kata pria paruh baya tersebut. Membuat Adrian tidak bisa berkutik.


Adrian tidak membantah. Dia dengan sopan mendudukkan dirinya di sofa singel disamping orang tuanya.


" Karena sekarang nak Adrian juga sudah disini . Saya ingin bertanya apakah nak Adrian sudah memiliki kekasih?" tanya pria paruh baya itu dengan harap-harap cemas .


" Saya belum memiliki kekasih_"


Ketiga tamu itu langsung menghela nafas lega. Wajah mereka pun berseri-seri. Padahal ucapan Adrian belum selesai.


" Apakah nak Adrian sudah mengenal gadis itu dengan baik. Bisa saja gadis itu mendekati nak Adrian hanya karena harta nak Adrian saja. Nak Adrian harus berhati-hati dengannya."


" Betulkah?"


" Tentu saja .... lebih baik nak Adrian menikah dengan Dara yang sudah jelas bebet bobotnya. Putri om juga tidak memalukan saat diajak ke perjamuan. Selain itu putri om juga lulusan dari kampus yang bergengsi . Saya jamin nak adrian akan senang ."


Mamanya dara mempromosikan anaknya agar dipilih oleh Adrian. Beliau berusaha agar bisa berbesan dengan keluarga Arya Kusuma. Sayangnya ucapan dari mama Dara tadi membuat Adrian dan juga orang tuanya ill feel.


" Seandainya saja gadis yang saya sukai mau menghabiskan harta saya pasti akan saya berikan Om. Sayangnya gadis itu sudah memiliki harta yang lebih banyak dari saya ," kata Adrian.


" Pasti nak Adrian bercanda !"


" Buat apa saya bercanda om... bukankah om sudah mengenal dengan kakek marchel?"

__ADS_1


deg ...deg ...deg ..


Papa Dara mengingat dokter legendaris yang kemampuannya tidak bisa diremehkan. Beliau juga mempunyai beberapa rumah sakit. Putrinya menikah dengan seorang pengusaha yang sangat terkenal. Sayangnya anak dan menantunya harus mengalami kecelakaan yang membuat mereka meninggal dunia. Setelah itu dia tidak pernah lagi mendengar kabar tentang beliau.


" Maksud nak Adrian... Dokter Marcel yang melegenda itu ?"


" Tentu saja siapa lagi?"


" Tetapi beliau sudah lama tidak muncul . Beliau juga menghilang bersama satu-satunya cucu perempuan yang ia miliki. Jangan-jangan _"


" Betul paman .... Aurora adalah cucu satu-satunya dari kakek marchel. Dialah gadis yang ingin saya jadikan sebagai istri saya."


" Saya kira anda masih berhubungan dengan Salsa. Padahal salsa sudah menjadi Romi."


" Tidak Om... hubungan saya dengan salsa sudah putus sejak lama. Yang saya inginkan sekarang adalah Aurora."


" Tetapi bukankah tuan Marcel dan cucunya menghilang?"


" Menurutmu bagaimana bisa Adrian selamat saat mengalami kecelakaan seperti itu Bram ?"


" Jadi _?"


" Seperti yang kamu pikirkan Bram. Maaf jika ucapan Adrian membuat mu kecewa," jawab tuan Arya dengan tak enak hati.


" Tidak masalah, aku mengerti. Kalau begitu... kami pamit undur diri dahulu."


" Baiklah... hati-hati dijalan!"


" Terimakasih... selamat jumpa lagi!"

__ADS_1


__ADS_2