Kembalinya Ingatan Sang CEO

Kembalinya Ingatan Sang CEO
BAB 47


__ADS_3

Adrian tidur di tas ranjang rumah sakit dengan malas. Dia merasa tidak betah tinggal di sini. Adrian bersama dengan sang mama yang setia menemaninya.


" Sebenarnya siapa gadis kecil tadi ma?"


" Orang yang sudah menyelamatkanmu. "


" Jangan-jangan dia ikut terlibat dalam kecelakaan yang aku alami."


" Hush nggak boleh berprasangka buruk, tidak baik sayang."


" Terus apa dong motifnya?"


" Sesama manusia kan harus tolong menolong."


" Itu alasan klise ma."


Tok tok tok


" Assalamualaikum, " ucap tuan Arya sambil memasuki ruangan.


" Wa alaikum salam warahmatulloh."


" Sudah gimana kabarnya nak?"


" Alhamdulillah... baik pa. Tapi tidak tahu dengan pak Ujang. Sedari tadi mama tidak mau menjawab tentang kondisinya."


" Ha?"


Tuan Arya tentu saja kaget. Kok pak Ujang di bawa-bawa. Apa yang sebenarnya terjadi dengan putranya?


Tuan Arya menatap Nyonya Dania seolah meminta penjelasan. Sebelum menjawab beliau menghela nafas panjang .


" Adrian mengingat semua kejadian sebelum terjadinya kecelakaan _"


" Alhamdulillah... akhirnya kamu ingat juga."


Tuan Arya menatap Adrian dengan tersenyum. Dia bahkan belum mendengar ucapan selanjutnya.


" Tapi dia tidak mengingat kejadian setelah kecelakaan.," lanjut nyonya Dania.


Tentu saja membuat dua pria itu kaget tapi dengan hal yang berbeda. Jika tuan Arya kaget dengan kondisinya, maka Adrian kaget dengan ucapan mamanya bahwa ia melupakan kejadian setelah kecelakaan.


Suasana menjadi hening dengan pikiran masing-masing. Tidak ada yang berbicara. Sampai Adrian menanyakan maksud dari ucapan Mamanya.


" Apa maksud ucapan mama?" tanya Adrian kepada mamanya.


" Sebenarnya ini sudah tujuh bulan dari kamu mengalami kecelakaan," jawab Nyonya Dania.


" Apa?! mama jangan bercanda... nggak lucu tahu?"


" Siapa juga yang bercanda."


" Kok Adrian nggak ingat sesuatu?"


" Nggak perlu dipaksakan. Biarkan kamu mengingat perlahan."


" Terus pak Ujang?"


" Beliau sudah meninggal."


" Inna lillahi wa Inna ilaihi Raji'un . Terus bagaimana Adrian bisa selamat?"


" Kalau itu tidak tahu pasti. Yang jelas kamu ditemukan oleh Aurora didalam hutan ."


" Dalam hutan? mama jangan ngaco de!" elak Adrian tidak percaya.

__ADS_1


" Apa untungnya mama ngaco?'


" Nggak ada juga sih. Terus bagaimana dengan perusahaan?"


" Romi menggantikan posisimu. Karena tidak mungkin membiarkan perusahaan tidak ada yang memimpin."


Adrian jadi mengingat ucapan pak Ujang tentang Romi. Sepertinya setelah keluar dari rumah sakit dia harus menyelidikinya.


" Jika kini sudah tujuh bulan sejak peristiwa kecelakaan itu, kenapa saya bisa ada disini?"


" Karena ada yang berusaha membunuhmu. Kebetulan Aurora datang tepat waktu. Itulah alasan dia pergi ke kantor polisi untuk membuat laporan. Orang-orang yang menyerang mu sudah ada di kantor polisi," jawab Nyonya Dania menjelaskan. Sebelum beliau bertanya tentang Dania kepada tuan Arya.


" Apakah papa sudah dari kantor polisi?"


" Sudah ... ternyata Aurora sudah pulang. Saya juga sudah bertemu dengan orang-orang yang mencelakai Adrian. Kalian harus tahu kondisi mereka tidak lebih baik dari Adrian."


" Kalau itu aku sudah tahu," kata Nyonya Dania.


" Jadi mama juga sudah pergi ke kantor polisi?"


" Ya tidak lah. Kemarin polisi yang dihubungi oleh Aurora kesini."


" Oh... kamu harus berterimakasih dengan baik Nak. Dua kali dia menyelamatkan nyawa mu."


" Kok dia bisa menyelamatkan aku saat kecelakaan dan sekarang dia menyelamatkan ku lagi. Apa itu masuk akal ?"


" Kamu harus tahu ... kamu ditemukan Adrian di hutan sebab tempat tinggalnya waktu itu memang dipinggir hutan bersama dengan kakeknya. Dan kamu kembali kesini baru sebulan yang lalu setelah kakek Aurora meninggal."


" Jadi dia menyekap ku begitu?"


" Astaghfirullah... kamu sendiri yang bilang jika di sana jauh dari kota , tidak ada alat komunikasi maupun transportasi bagaimana dia bisa mengantar mu sedangkan identitas mu pun tidak ia ketahui."


" Jadi Aku yang bilang begitu?"


" Tentu saja Nak. Apalagi kamu amnesia."


" Tidak . Sejak orang tuanya meninggal dia diajak kakek dari pihak ibunya untuk tinggal di pinggiran hutan yang jauh dari perkotaan. Sudah dua belas tahun. Setelah kakeknya meninggal barulah dia kembali ke kota ini bersama mu."


Nyonya Dania menjelaskan dengan sabar. Dia tidak ingin putranya berburuk sangka kepada orang yang telah menyelamatkannya. Apalagi mengingat hubungan mereka yang dekat . Nyonya Dania tidak ingin Adrian menyesal setelah ingatannya tentang Aurora kembali .


" Jadi begitu... Sekarang dia tinggal dengan siapa?"


" Kamu bilang dia tinggal dengan dokter Raka dan istrinya ."


" Kok Adrian?"


" Ya iya lah siapa lagi. Bukankah kamu juga sering ke rumahnya."


" Apakah dokter Raka itu yang tadi pagi ?"


" Betul!"


Tuan Arya memandang istri dan anaknya yang berbincang tanpa berniat untuk ikut campur. Beliau memakan buah yang tadi Aurora bawah.


Tok tok tok


" Assalamualaikum."


" Wa alaikum salam warahmatulloh."


" Alhamdulillah akhirnya kak Rian sadar juga. Bagaimana kabarnya kak?" tanya Diandra begitu sampai di depan Adrian.


" Seperti yang kau lihat !' jawab Adrian dengan datar.


Diandra heran dengan sifat kakaknya. Bukankah sifat datarnya sudah mulai berkurang. Kok sepertinya balik lagi. Diandra menatap Adrian dengan intens.

__ADS_1


" Kak Adrian sudah ingat semuanya? kok sikapnya balik lagi sih ?"


" Apa maksudmu?" tanya Adrian.


" Maksudnya tuh... kak Adrian beneran sudah nggak amnesia lagi?"


" Hem"


" Hem Hem Hem ,"


Adrian menatap Diandra tajam . Diandra yang ditatap kakaknya seperti merinding. Jadi dia menghampiri papanya yang sedang memainkan ponsel.


" Pa... kak Adrian tuh!"


" Sudahlah nggak usah berdebat, kamu dari mana ?"


" Ya dari kampus lah pa . Papa nggak kerja?"


" Tadi papa pergi ke kantor polisi untuk melihat para tersangka yang mencelakai kakakmu ."


" Apa yang membuat orang-orang itu menyerang kak Adrian?"


" Sepertinya orang yang ingin menyepakati kakak mu tidak akan berhenti sebelum tertangkap."


" Tapi mereka _"


" Mereka hanya orang suruhan. Sedangkan otaknya belum tertangkap."


" Terus kak Rara nggak kesini?"


" Sudah pulang."


" Kok kak Adrian nggak menahannya?" tanya Diandra penasaran.


" ... "


" Kak Adrian sudah ingat sama Kak Rara," jawab nyonya Dania mewakili Adrian. Tentu saja jawaban itu membuatnya shock. Tapi dia jadi tahu penyebabnya kembalinya sikap dingin kakaknya.


" ... "


Setelah itu suasana kembali sunyi. Adrian tertidur. Diandra juga tertidur menyandar Papanya. Sedangkan nyonya Dania menatap sang putra yang sedang tertidur. Air matanya tumpah. Tuan Arya yang melihat langsung menidurkan Diandra di sofa dan dia menghampiri Nyonya Dania.


" Jangan menangis sayang," kata tuan Arya sambil mengelus punggung istrinya.


" Kenapa seperti ini pa?"


" Yang sabar sayang."


" Papa tahu... pagi tadi mama melihat tatapan terluka di wajah Aurora. Adrian yang selalu ingin dekat dengan Aurora seolah sudah tidak ada. Kasian anak itu pa."


" Ini sudah menjadi takdir Adrian ma. Semoga saja ingatannya kembali semua."


" Terus bagaimana dengan perusahaan Adrian?"


" Karena pemiliknya sudah kembali dengan ingatan yang sudah pulih. Maka kita serahkan saja segala keputusan kepadanya."


" Terimakasih pa."


" Terimakasihnya nanti saja. Gimana kalau sekarang kita cari makan siang dulu. Sekalian membelikan untuk anak-anak."


" Ayo!!"


Sepasang suami istri itu meninggalkan ruangan Adrian dengan saling menggenggam. Meskipun usia pernikahan mereka sudah menginjak 30 tahun ,tapi keromantisan mereka patut diacungi jempol.


Terimakasih Sudah membaca cerita ini.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak anda pilih like, vote, favorit , dan komentarnya 🙏😘😘😘


__ADS_2