Kembalinya Ingatan Sang CEO

Kembalinya Ingatan Sang CEO
BAB 44


__ADS_3

Adrian langsung ditangani oleh Raka. Tidak ada luka serius di badannya tetapi kepalanya luka parah . Aurora tidak ikut membantu , dia menyerahkan seluruhnya kepada sang paman. Kini Aurora duduk di depan ICU tempat Adrian di rawat .


tap tap tap


Suara sepatu menggema di lorong rumah sakit. Nyonya Dania langsung kesini begitu mendengar Adrian masuk rumah sakit.


" Apa yang sebenarnya terjadi sayang?" tanya Nyonya Dania begitu sampai di depan Aurora. Matanya terlihat memerah, mungkin menahan tangis


" Ada seseorang yang ingin membunuh bang Adrian Tante . Untung Rara datang tepat waktu. Sekarang mungkin mereka sudah ada di kantor polisi."


" Inna lillahi wa Inna ilaihi Raji'un... Adrian baik-baik saja kan ?"


" Semoga saja Tan."


" ... "


" Tante duduk saja dahulu, apa Tante kesini sendiri?"


" Sama sopir, paman sama Faisal sudah dalam perjalanan."


" Syukurlah kalau begitu."


Tak lama kemudian Dokter Raka keluar. Mereka langsung mendekatinya.


" Bagaimana Dok?" tanya Nyonya Dania. Dia sangat menghawatirkan kondisi sang putra.


" Semoga tidak ada yang serius. Semua luka luar sudah saya obati tinggal menunggu hasil dari sitis scan ."


" Terimakasih Dokter Raka."


" Sama-sama Nyonya untung saja Rara cepat bertindak."


" Terimakasih sayang... lagi-lagi kamu menyelamatkan nyawa Raka."


" Nggak usah terimakasih Mulu Tante .. nanti Rara jadi besar kepala."


" Ada-ada saja kamu."

__ADS_1


Tiba-tiba ada dua orang polisi yang menghampiri mereka.


" Apakah ada yang bernama Dewi Aurora?" tanya salah seorang yang masih muda. Badannya tinggi , putih dan tegap. Gagah banget pokoknya. Aurora sampai terpana melihatnya.


" Saya sendiri pak, apa ada yang bisa saya bantu?" jawab Aurora sambil memandang wajah ganteng itu. Rezeki ma nggak boleh di tolak. 🤭🤭🤭


Hanya saja polisi itu nampak kurang percaya dengan ucapan Aurora.


" Anda yakin... bukan kakak atau ibu anda mungkin."


" Bapak nggak percaya? kalau nggak percaya bapak bisa telpon nomer yang tadi," kata Aurora dengan jengkel. Bisa-bisanya dia dianggap anak kecil.


" Benar pak... yang bapak panggil anak kecil ini sudah membawa korban kesini," Dokter Raka yang melihat sang keponakan mulai jengkel langsung bicara .


" Jadi beneran anda yang sudah melaporkan tentang penganiayaan tadi?"


" Terserah bapak deh mau percaya apa tidak .... maaf saya harus membawa Abang saya ke rumah sakit sebab kondisinya sangat kritis . Jadi langsung meninggalkan tempat kejadian begitu saja ."


"Terus yang membuat para tersangka itu babak belur siapa? " tanya sang polisi yang membuat Aurora malu sendiri .


" Saya pak... kalau tidak begitu mungkin saya yang babak belur. Untungnya saya mempunyai keahlian bela diri, " jawab Aurora yang membuat dua polisi itu memicingkan matanya dan meneliti Aurora.


" Apa?! tadi bapak bilang apa ... anak kecil?"


" Kan anda memang masih kecil."


" Ya Alloh pak... kecil-kecil gini sudah boleh buat anak kecil loh pak!"


" Ha?!"


Polisi tampan itu linglung mendengar ucapan dari Rara. Sedangkan temannya hanya bisa menahan tawa. Dokter Raka langsung tepuk jidat .


" Astaghfirullah Rara ...ngomongnya tuh di silfer bisa tidak," omel Dokter Raka.


" Nggak ada silfernya paman."


" Maaf ya pak kalau keponakan saya ngomongnya ngelantur, maklum belum makan dari tadi. Untuk luka luar pasien selesai di tangani pak. Tapi kami masih harus menunggu hasil sitis scan."

__ADS_1


" Tidak masalah Dokter ... Terimakasih atas informasinya. Motor saudari ada di kantor polisi. Dan untuk para tersangka sedang di obati."


" Tolong usut tuntas pak polisi. Saya ingin putra saya mendapatkan keadilan."


" Insya Alloh Bu ... kalau begitu kami permisi dulu . Mari dek!"


" Kemana pak?"


" Ha?!!!"


" Tadi bilang mari dek... pak polisi mau bawa adek kemana?" goda Aurora.


" ... "


" Aurora!"


" Ish paman nih nggak suka keponakannya seneng apa."


" Kami permisi dulu , mari!"


" Silahkan pak polisi."


Kedua polisi itu meninggalkan rumah sakit dengan segera. Kini tinggallah tiga orang yang masih menatap kedua polisi itu.


" Nak Rara suka sama polisi itu ya?"


" Aduh Tante .... siapa yang nggak akan terpesona sama polisi ganteng itu ."


" Terus anak Tante gimana?"


" Ha ?... maksudnya apa ya Tan?"


" Nggak jadi deh."


" Kok nggak jadi?"


" Lupakan omongan Tante tadi. Bolehkah saya menemui putra saya Dok?"

__ADS_1


" Sebentar lagi akan di letakkan di ruang perawatan. Nyonya bisa melihatnya sebentar lagi "


" Terimakasih."


__ADS_2