
Aurora keluar dari pesta di ikuti Reyhan dan juga Reyna. Tidak ada pembicaraan sama sekali di antara mereka sampai mereka tiba di parkiran.
" Mulut nenek lampir itu pengen banget gua sumpel, sumpah!" kata Reyna dengan kesal.
" Siapa nenek lampir dek?" tanya Aurora pura-pura tidak tahu.
"Orang tua tadi lah... siapa lagi coba?" jawab Reyna dengan cemberut.
" Kirain tadi kamu beneran ketemu Mak lampir."
" Kalau mak lampir kemudaan Kak . Cocoknya ya nenek lampir."
" Wow ... ternyata adik kak Reyhan sudah dewasa sekarang. Sudah pandai mengumpat!" goda Reyhan sambil tertawa.
" Jangan ngeledek atuh kak... Reyna benar-benar kesal tau. Untung orang tua, kalau tidak_?"
" Kalau tidak kenapa?"
" Pengen aku tampol !"
" Ha ha ha ha"
" Biarin aja lah dek orang itu mau bilang apa. Yang penting kak Rara sama kakek nolongin bang Rian ikhlas. Mau orang mikir bagaimana ya terserah... itu urusannya."
" Setuju aku kak... terus sekarang kita gimana nih langsung pulang atau gimana ?"
" Telpon Tante Ratna aja ... bilangin kita udah di mobil."
" Oke!"
Reyhan mencoba menghubungi nomor Tante Ratna. Untung saja langsung diangkat.
" Halo... Tante kita sudah ada di parkiran."
" ... "
" Baik kita tunggu."
" Bagaimana?"
" Kata Tante Ratna tunggu sebentar. Beliau mau pamit dulu."
" Oke ... kita tunggu sebentar," kara Aurora.
Mereka bertiga berdiri di depan mobil mereka. Mereka asyik mengobrol untuk mengusir kebosanan.
" Memangnya yang kakak ucapkan tadi beneran?"
" Apanya?"
" Katanya kak Rara mau nginep di rumahnya Oma Ratna."
" Siapa Oma Ratna?" tanya Aurora agak bingung.
Aurora memang asal bicara saja tadi, yang penting bisa keluar dari situasi yang mulai tidak kondusif. Dia punya rasa malu juga. Apalagi banyak orang yang ada di sana.
" Bukankah tadi kak Rara bilang mau kerumah Oma Ratna, masak kak Rara lupa?"
" Salah ngomong kalau gitu."
" Kok salah ngomong. Memangnya seharusnya gimana?"
" Seharusnya itu Oma Ratih bukan Oma Ratna. Bisa-bisa Tante Ratna marah namanya aku sebut-sebut."
__ADS_1
" O.... jadi nama Oma kakak, Oma Ratih?"
" Betul seratus 👍!"
Setelah itu mereka pun diam. Rara menatap ke atas melihat bintang yang bermuculan. Sedangkan dua anak yang lain main hp.
" Kalian sudah lama nunggu?" tanya paman Raka yang sudah tiba dihadapan mereka.
" Lumayan sih... kalau dibuat ngopi, kopinya keburu abis."
" Kok kalian sudah pulang? bukankah acaranya masih belum berakhir. Paman saja belum bicara langsung sama Adrian. Entah ada di mana dia . "
" Males paman pengen rebahan," jawab Aurora singkat.
" Jadi kerumah Oma Ratih tidak?"
" Ya jadilah... kalau nggak jadi nanti Oma bisa ngomel tujuh hari tujuh malam nanti."
" Mau langsung ke sana?"
" Nggak deh ... pulang dulu. Mau ganti baju yang lebih nyaman."
" Memang kenapa kalau pakai gaun itu?"
" Ribet....paman kayak nggak kenal aku saja."
" Oke deh kalau gitu, sekarang kita langsung pulang."
" Let's go!"
Semua masuk kedalam mobil. Paman Raka sengaja menyopir sendiri. Agar lebih leluasa. Sebenarnya bisa saja Reyhan bawa mobil sendiri, tetapi malas katanya.
Aurora sepanjang jalan melihat keluar jendela. Suasana hatinya sangat buruk.
" Kenapa Paman?"
" Kamu ada masalah kan?"
" Ti_"
" Tadi ada nenek lampir yang nyerang kak Rara. Paman tahu tidak... kalau orang itu seumuran Reyna pasti sudah aku tampol mulutnya."
" Ha... nenek Lampir?"
" Siapa nenek Lampir?"
" Omanya kak Rian. Mulutnya pedes banget, mungkin habis makan cabe satu kwintal. Apalagi kalau ngomong nggak mau ngerem."
" Mana ada mulut punya rem ... yang ada ma kendaraan atuh adek kecil."
" Aku udah besar loh kak udah kelas 2 SMP."
" Itu ma namanya masih kecil."
" Memangnya Oma Desi ngomong apa saja tadi?"
" Sebelum Rara jawab, Rara mau nanya sama paman. Apa paman beneran nggak kenal sama Abang waktu itu?"
" Ya kagak lah. Paman sudah lama kan di sana. Paman juga jarang keluar dari desa. Paman malah lebih sering di klinik. "
" Kalau kakek?"
" Mana saya tahu. Kamu tahu sendiri kakek mu hanya bicara seperlunya sama paman."
__ADS_1
" Betul juga sih. Paman tahu tidak ... Rara dituduh nyekap bang Rian, keterlaluan tidak?"
" Ngapain kamu nyekap Adrian kayak nggak ada kerjaan aja. Apa orang tua nggak mikir gimana keadaan cucunya bila tidak segera diselamatkan. Untung masih ada kakek mu kalau tidak... entah apa dia masih bisa selamat atau tidak," kata paman Raka dengan geram.
Paman Raka sampai menyesal menghadiri acara itu jika berakhir dengan penghinaan.
" Sudahlah paman abaikan saja. Tapi saya lihat ada gadis yang ingin dijodohkan dengan bang Rian "
" Kamu nggak masalah?"
" Masalah kenapa?"
" Bukankah hubungan kalian dekat ... apa tidak sedikitpun perasaan untuknya."
" Entahlah paman... Aku tidak berani berfikir terlalu jauh. Apalagi masih banyak yang ingin aku raih ."
" Ingat umurmu sudah dua puluh empat tahun. Sudah saatnya berfikir untuk menikah."
" Menikah ma nanti saja. Jika sudah ada pangeran yang baik hati datang melamar ku."
" Bagaimana kalau aku saja yang ngelamar kak Rara?"
" Ingat umur dek! lagian kamu juga masih sekolah. Mau kau kasih makan apa nanti aku nya?"
" Ya makan nasi lah kak. Apa mau makan beling... nanti dikira kuda lumping ha ha ha ha".
Suasana mobil langsung ceria. Tak terasa mereka sudah sampai di depan rumah. Paman Raka membawa mobil ke garasi.
" Kamu mau pergi sendiri apa mau di antar paman?" tanya paman Raka begitu mereka turun dari mobil.
Sebelum menjawab Aurora melihat Reyhan dan juga Reyna. Dia berfikir untuk mengajak mereka. Canggung juga rasanya jika dia pergi sendiri.
" Kalian mau ikut kakak tidak?"
" Memangnya boleh?"
" Ya boleh lah, siapa juga yang melarang ."
" Nanti Oma kak Rara nggak marah kalau kami ikut?"
" Mana kakak tahu... jika beliau marah ya tinggal pergi aja kok repot amat. Amat aja belum repot."
" Okelah ... besok juga libur ."
" Reyna juga ikut ."
" Kalian bersiap dulu dengan baju yang sekiranya nyaman. Bawa juga baju ganti. Besok kakak bawa kalian ke suatu tempat."
" Kemana ?"
" Rahasia dong... udah nggak usah ngomong terus. Cepat ganti ."
" Sip!"
Mereka pun mengikuti paman Raka dan juga Tante Ratna yang duluan masuk kedalam.
Adrian masuk kedalam kamar dengan perasaan yang berkecamuk . Kata-kata Omanya tadi sangat menggangu pikirannya. Dia memang terkesan membela Aurora tetapi ada perasaan ragu yang tiba-tiba muncul.
Adrian memang tidak mengingat apapun. Bahkan dia tidak tahu kondisinya saat kritis. Dia hanya ingat saat bangun dia melihat Aurora yang ada disampingnya.
Sekarang dia mulai mencerna semuanya. Tapi tidak menemukan apapun . Entahlah dia bingung.Dia mulai memejamkan matanya. Dia berharap besok lebih baik.
Terimakasih sudah membaca cerita saya🙏🙏🙏
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak anda.