Kembalinya Ingatan Sang CEO

Kembalinya Ingatan Sang CEO
BAB 60


__ADS_3

Disini lah mereka sekarang. Adrian duduk di sofa ruang tunggu sambil membaca koran yang tersedia di meja. Karena masih rindu dengan Aurora dia memutuskan untuk ikut saat Tante Ratna mengajaknya.


Adrian dengan sabar menunggu. Hal yang belum pernah ia lakukan kepada wanita lain. Meskipun itu kekasihnya di masa lalu. Biasanya dia hanya mengantar dan meninggalkan mereka di salon . Sedangkan ia sendiri kembali ke kantor.


" Adrian!" sapa seseorang memecah konsentrasinya membaca koran. Ia mendongak untuk melihat siapa wanita itu . Meskipun didengar dari suaranya pun dia sudah tahu.


" Kamu disini ? pasti dengan Tante ya?"


" Tidak," jawab Adrian singkat.


Adrian sudah tidak ingin berbasa-basi lagi kepada Romi maupun Salsa. Dia sudah mengetahui motif mereka berdua mendekatinya. Dia juga sudah tahu semua yang telah disembunyikan oleh Salsa maupun Romi.


" Boleh duduk di sini kan?"


" Hem."


Salsa dengan wajah berbinar duduk di sebelah Adrian. Dia sangat bisa bertemu lelaki pujaannya di tempat ini. Apalagi jika bisa membuat lelaki itu membayar semua tagihan yang akan wanita itu lakukan. Sama seperti saat dia menjadi kekasihnya. Apalagi tidak ada penolakan saat dia mendekatinya.


Tapi kenyataannya tidak sesuai ekspektasi. Begitu Salsa duduk , Adrian langsung berdiri. Dia sangat tidak suka dengan wanita disampingnya. Dan sialnya pernah menjadi wanita yang ia sayangi.


" Kenapa kamu _"


" Urusan ku sudah selesai," jawab Adrian tanpa mendengar ucapan Salsa selanjutnya.


Adrian langsung menghampiri Aurora yang sudah hampir selesai perawatan nya.


Aurora sudah nampak lebih fresh. Badannya sudah tidak sakit lagi. Begitu melihat Adrian masuk dengan muka yang tertekuk, dia langsung mengerutkan dahinya. Apakah lelaki itu bosan menunggu nya?


" Abang kenapa... bosan ya ?" tanya Aurora saat Adrian sudah berdiri di sampingnya.


" Ada nenek lampir datang. Membuat mood ku rusak, " jawab Adrian dengan lesu.


" Ha ?????"


Ucapan Adrian malah membuat Aurora semakin bingung. Dia membuat ekspresi wajah yang membuatnya semakin imut. Dan berhasil membuat Adrian mengembalikan ekspresinya .

__ADS_1


" Ekspresinya nggak gitu juga kali dek."


" Abang bua Rara bingung loh," kata gadis itu dengan cemberut.


" Maaf sayang. Kamu kalau begitu jadi tambah imut tau."


" Ih.... adek masih penasaran nih. Siapa yang Abang sebut nenek lampir?"


" Ada deh."


Adrian tidak menyadari jika wanita yang ia sebut nenek lampir itu mengikutinya. Dia mendengar semua ucapan Adrian yang membuatnya masam. Apa dirinya sejelek itu hingga dipanggil nenek lampir?


Salsa menghampiri Adrian yang masih berbincang dengan Aurora. Ada kecemburuan dihatinya saat melihat lelaki pujaannya dekat dengan wanita selain dirinya. Apalagi sudah banyak yang ia korbankan untuk mendapatkan lelaki itu.


" Apa aku sejelek itu hingga kamu menyamai ku dengan nenek lampir?"


Uhuk uhuk uhuk uhuk


Aurora langsung terbatuk mendengar suara Salsa. Sedangkan Adrian mengalihkan pandangannya ke Salsa yang tiba-tiba mendekatinya. Pegawai salon hanya bisa menahan tawa mereka saat tahu siapa yang pemuda tampan ini sebut sebagai nenek lampir.


" Apa ada yang salah? aku kesini karena ingin perawatan. Kebetulan bertemu dengan mu . Apakah aku salah karena menyapamu?" tanya Salsa dengan raut wajah memelas. Dia berharap Adrian bisa luluh dengan penampilannya yang memelas


" Itu terserah mu. Aku hanya ingin masuk kesini. Tidak ada hubungannya dengan mu," jawab Adrian dingin .


" Hai ... kita bertemu lagi. Aku orang yang pernah menjadi kekasih Adrian sebelum dia hilang," kata Salsa dengan percaya diri, tanpa mendengarkan ucapan dingin Adrian . Salsa malah menyapa Aurora yang sedari menatapnya.


Aurora telah selesai. Dia sudah bersiap untuk mengajak Adrian keluar dari ruangan itu. Dia juga sudah berdiri. Menunggu sang Tante yang juga sudah selesai.


" O..," jawab Aurora.


" ?????"


" Sudahlah... tidak ada yang perlu kamu ucapkan lagi. Tanpa kamu beritahu Rara juga sudah mengetahui status mu. Kita juga sudah tidak ada hubungan apapun lagi . Jadi jangan pernah ganggu kehidupan ku lagi . Lebih baik kau benahi hubungan mu dengan Romi," kata Adrian.


" Aku sudah memutuskan hubungan ku dengan Romi. Hanya kamu lelaki yang aku cintai. Aku _"

__ADS_1


" Semua tidak ada hubungannya denganku. Terserah apa yang ingin kamu lakukan . Ayo sayang kita keluar," kata Adrian sambil menggandeng tangan Aurora meninggalkan Salsa yang wajahnya sudah merah padam.


Aurora dengan patuh mengikuti ucapan Adrian. Dia melirik salsa sekilas sebelum keluar dari ruangan itu. Tante Ratna yang berada di seberang mengikutinya dari belakang. Wanita paruh baya itu hanya bisa geleng-geleng kepala.


Setelah membayar mereka langsung berjalan kearah mobil milik Adrian yang terparkir. Sesekali Aurora melirik Adrian yang masih belum mau melepas genggamannya. Baru saat ingin memasuki mobil , genggaman tangan Adrian terlepas.


Aurora duduk di depan bersama Adrian. Sedangkan Tante Ratna di belakang.


" Sekarang kita kemana ?" tanya Adrian setelah menyalakan mobilnya.


" Antar Tante ke fah sakit saja . Setelah itu kamu bebas membawa rara kemanapun," jawab Tante Ratna.


Aurora hanya diam. Dia memang masih belum menemukan rencana apapun yang ingin ia lakukan. Jadi terserah apa kata Adrian. Mengingat ada yang ingin Adrian sampaikan.


" Oke!" jawab Adrian yang langsung melajukan mobilnya ke rumah sakit milik kakek Aurora.


" Bukankah tadi itu kekasihmu ya ?"


" Mantan Tante!"


" Iya ... iya mantan. Cantik loh mantan mu tadi. Meski cantikan Tante sih."


" PD amat Tan," kata Aurora menimpali.


" Harus dong... bukankah Tante memang cantik. Tanya saja sama paman Raka . Pasti ucapannya sama seperti Tante."


" Sudah pasti itu. Paman kan bucin sama Tante."


" Jadi menurut mu Tante jelek?"


" Nggak dong... Tante emang cantik."


" Pasti dong ha ha ha ha "


Suasana mobil sungguh ramai. Meskipun percakapan itu hanya di dominasi Aurora dan juga Tante Ratna. Adrian hanya sesekali menimpali. Sesekali lelaki itu melirik Aurora dengan tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2