
Seperti yang dikatakan Adrian... Aurora ternyata langsung bangun. Dia menatap wolf yang memang berada tepat dihadapannya. Dia sangat senang bisa membawa para sahabatnya ke kota.
" Akhirnya kamu bangun juga!" kata Dewa dengan senyum tersenyum lembut di bawah mobil box.
Disampingnya sudah ada beberapa orang yang juga sedang melihatnya. Aurora jadi kikuk saat dirinya di tatap oleh banyak orang. Tapi dia berusaha untuk bersikap cuek.
" Kita sudah tiba dari tadi ya ?" tanya Aurora dengan tenang.
" Tidak juga ... kita semua baru saja sampai. Apa kamu akan terus didalam box ?"
" Ya tidak lah.. enak saja. Ayo teman-teman kita turun," ajak Aurora pada ketiga hewan kesayangannya.
Aurora melangkah keluar dari mobil box itu diikuti ketiga hewan kesayangannya. Saat ketiga hewan itu turun banyak yang takut jika hewan buas itu menyerang. Apalagi tidak ada rantai yang mengikat mereka. Satpam pun gemetar, dia ingat harimau milik Angga yang pernah menyerangnya.
" Baru kali ini saya bisa melihat secara langsung harimau putih," bisik satpam itu kepada teman yang ada disampingnya.
" Sama... gagah lagi . Jika bisa dikawinkan dengan harimau punya tuan Angga pasti hasilnya menakjubkan," jawab penjaga taman dengan mata berbinar.
" Hush.... kalau ngomong jangan ngaco!"
Aurora melangkah menuju taman yang sudah seperti hutan buatan. Adrian, Dewa, Angga dan juga Rio mengikuti di belakangnya.
" Kemana mereka akan tinggal?"
" Mereka bisa tinggal di satu tempat kan?"
" Insya Alloh bisa... tapi entah jika dengan binatang lain."
" Syukurlah kalau begitu, Kandang yang biasa di tempati oleh rusa sudah kosong. Sebab ada yang memintanya. Jadi ketiga hewan ini bisa tinggal untuk sementara ditempatnya."
" Kalau begitu silahkan tunjukkan tempatnya!"
" Tentu saja,ayo!" Dewa langsung menunjukkan tempatnya dengan berjalan terlebih dahulu.
Saat mereka masuk ke dalam taman , sebuah mobil masuk dalam pelataran. Dua orang yang ada didalamnya tidak langsung turun. Tapi memperhatikan mobil box yang terparkir di halaman rumah mereka. Mereka adalah orang tua Dewa yang tak lain Rindu dan Tito.
" Kok ada mobil box didepan rumah kita?"
" Itu pasti putramu mendapatkan hasil buruan lagi."
" Kira-kira sekarang dia mendapatkan hewan apa ya?"
" Saya kira anak itu sudah berhenti kok mulai lagi."
" Mana ada berhenti yang namanya hobi ma sampai tua tetap di lakukan. Seperti hobi papa yang suka ngumpulin mobil-mobil tua."
" Kamu bisa saja sayang he he he."
Mereka berdua langsung turun dari mobil. Kemudian keduanya bertanya kepada penjaga yang sedang ada di depan mereka.
" Apa Dewa membawa hewan-hewan lagi ?"
" Benar Nyonya."
" Hewan apa kali ini ?"
" Ada harimau putih, s_"
" What!"
__ADS_1
" Sekarang mereka masih ada di dalam?"
" Benar Nyonya... tuan Dewa bersama dengan sahabat-sahabatnya."
" Jadi Angga sama Rio ada disini."
" Bukan hanya tuan Angga dan tuan Rio tetapi ada juga tuan Adrian dan seorang cewek."
" Adrian... akhirnya anak itu kesini juga .Sudah lama aku tidak berjumpa dengannya. Ayo pa kita samperin mereka."
" Assalamualaikum..." sapa Rindu yang membuat orang yang sedang berkumpul di depan kandang terkejut.
Ada Rio, Angga, dan dua anak buah di depan kandang. Mereka tidak ikut masuk . Mereka masih membicarakan tentang sesuatu.
" Wa alaikum salam warahmatulloh... om sama Tante kapan sampai ?" tanya Rio sambil menyalami keduanya.
" Baru saja... menurut satpam tadi kalian mendapatkan harimau putih. Paman ingin sekali melihatnya," kata Tito dengan mata berbinar.
" Bukan kami om tetapi milik Aurora. Harimau itu milik Aurora."
" Benarkah?" tanya Tito dengan ragu.
" Bukan hanya harimau putih, tetapi juga ada sepasang serigala abu-abu."
" What!"
" Jangan kaget Tante ... om ,kalian juga bisa menyentuhnya tidak seperti harimau milik saya. Asal Aurora mengijinkan."
" Betulkah?"
" Tentu saja ... Tante sama om bisa langsung masuk kedalam. Di sana juga Adrian dan Dewa."
Sepasang suami istri itu langsung masuk kedalam kandang. Mereka masih mencari keberadaan mereka. Maklum bukan kandang sembarangan. Meskipun dianggap kandang kan ini lebih mirip hutan .
" Lihat itu... indah banget."
" Betul sekali.",
Sepasang suami istri itu terpesona dengan pemandangan di depan mereka. Di depan mereka nampak Aurora sedang dikelilingi olah ketiga hewan kesayangannya. Jika dilihat dari jauh seperti Aurora sedang dipeluk hewan-hewan itu.
" So sweet banget sih!"
" Mama pengen?"
" Ih amit-amit... kalau mama ma lebih suka sama pelukan papa."
" Jadi pengen ngamar deh," bisik Tito dengan genit.
" Ish papa," dengan malu-malu Rindu mencubit perut suaminya.
Keduanya belum menyadari jika banyak yang melihat tingkah keduanya. Bahkan Tito mencium bibir istrinya.
" Hem...Hem .. panas nih!"
" Sorry papa kelepasan."
" Makanya papa jangan berpikiran mesum melulu. Mata suci kami ternodai loh."
" Ish ... kamu seperti belum pernah lihat orang ciuman saja."
__ADS_1
" Siapa bilang... setiap hari Dewa sama adik-adik kan sering melihat langsung mama dan papa ciuman."
" Selamat sore Tante... Om ," sapa Aurora menghentikan perdebatan Dewa dengan kedua orangtuanya.
" Sore sayang... Tante boleh mendekat kan?" tanya Rindu dengan mata berbinar melihat ketiga binatang di depannya.
" Silahkan Tante, kenalkan mereka white, wolf dan wolfy," kata Aurora dengan menunjuk hewan-hewan itu satu persatu sesuai namanya.
Rindu mendekat , perlahan dia mengelus ketiga hewan itu satu persatu. Tito yang merasa iri dengan sang istri pun mendekat. Dia pun ikut mengelus hewan-hewan itu. Cukup lama mereka di situ.
Setelah puas mereka pun pergi dari kandang itu. Rindu mengajak semuanya untuk makan malam bersama.
Aurora sudah segar. Dirinya baru saja mandi dan sholat Maghrib di kamar milik Dewi yang tak lain adik kembar Dewa. Mereka berdua sudah akrab layaknya sahabat . Maklum saja Aurora memang supel , ramah dan menyenangkan.
" Ayo makan sepuasnya... jangan sungkan. Adrian ini Tante buatkan makanan kesukaan mu. Meski sebenarnya Tante lebih suka hasil masakan mu," kata Rindu saat semuanya sudah berkumpul di ruang makan.
" Jadi Tante pernah makan hasil masakan Abang?"
" Pernah lah... hampir setiap mempunyai resep baru dia selalu datang kesini."
" Maaf tapi saya belum mengingat nya."
" Tidak masalah... seiring waktu Tante yakin kamu akan segera mengingat semuanya."
Tadi mereka sudah berbincang-bincang. Rindu dan juga Tito prihatin dengan sahabat anaknya itu. Padahal meskipun terkenal dingin dan irit bicara, Adrian terkenal royal kepada sahabatnya. Dia juga sopan terhadap orang yang lebih tua.
" Terimakasih."
" Ini namanya apa ya tan ... kok hitam gini. Tapi bentuknya seperti nasi."
" Memangnya kamu belum pernah melihatnya ?"
" Beneran .... belum pernah lihat."
" Ini namanya nasi goreng cumi ... rasanya enak banget loh. Kamu mesti coba," Kata Dewi. Ini memang makanan favoritnya.
" Pantesan... Kakek memiliki alergi sama cumi. Jadi di rumah jarang memasak. Apalagi... kakek itu sebenarnya suka banget sama cumi. "
" Kalau kamu apakah mempunyai alergi juga ?"
" Tidak tahu juga sih. Waktu melihat kakek yang kritis saat diam-diam membeli cumi asam manis saya jadi ngeri sendiri. Jadi sejak itu tidak mau lagi melihatnya."
" Sepertinya trauma... terus bagaimana saat ini. Apakah kamu merasa jijik?"
" Nggak kok Tan ... biasa saja. Sekarang aku malah pengen mencoba makanan ini."
" Nggak usah dek... lebih baik makan yang lain saja. "
" Sedikit saja bang, adek pingin ngerasain juga. Lihat Dewi makan kok jadi pengen."
" Terserah deh.... kalau alergi gimana?"
" Tidak usah takut... bukankah di taman ada pohon kelapa, tinggal minum itu saja beres."
" Tidak usah khawatir, Tante juga menyimpan obat untuk alergi. Tapi nyobain sedikit dulu."
" Terimakasih tan...em ini enak banget loh!"
Aurora
__ADS_1