Kembalinya Ingatan Sang CEO

Kembalinya Ingatan Sang CEO
BAB 81


__ADS_3

" Eh ! kamu sedari kapan disini ?" tanya Aurora dengan kikuk. Malu sekali rasanya.


" Sejak kak Rara menerima telpon. Telpon siapa sih kok kak Rara sampai kegirangan begitu ?" tanya Reyna penasaran.


Reyna yang merasa lapar , langsung menuju dapur. Siapa tahu ada yang bisa dimakan. Ternyata dia melihat tingkah Aurora yang ke girangan setelah menerima telpon. Dia sampai lupa dengan tujuan awalnya.


" Mau tau aja ... atau mau tau banget ?" goda Rara dengan menaik turunkan alisnya.


" Nggak jadi deh ... kak Rara ma nggak asyik !"


" Ya sudah kalau begitu."


Aurora langsung berjalan kedepan menunggu kedatangan Adrian. Sedangkan Reyna yang ditinggal jadi melongo .


" Kakak mau kemana? ada makanan tidak ?"


Reyna pun meninggalkan dapur . Dia melangkah ke arah Aurora yang sudah duduk dengan nyaman di atas sofa. Kemudian Reyna mendudukkan dirinya di samping Aurora.


" Kok nggak ada makanan sih kak ! perut aku kan lapar." Reyna berkata dengan bibir mengerucut.


" Tunggu aja sebentar. Bang Adrian mau kesini."


" Terus apa hubungannya?" tanya Reyna yang mendadak Lola akibat perutnya yang lapar.


" Ya ada lah ... kak Rara lagi malas masak. Jadi kita tunggu saja bang Rian datang ," jawab Aurora santai.


" Ya Alloh ya Robbi ....! jadi kak Rara kegirangan karena bang Rian mau kesini ?"


" Seratus buat kamu👍."


" Kak Rara nggak ada niatan yuk cari pembantu gitu ?"


" Belum butuh ... lagian kakak kan nggak sering di mari."


" Lah .... orang-orang di depan gimana?"


" Mereka bisa masak sesuka hati mereka, tidak ada yang larang . Reyhan belum bangun ?"


" Entah... dari tadi Reyna belum nampak. Mungkin masih tiduran."


" Kamu nyaman nggak tinggal disini ?" tanya Aurora .


" Nyaman lah kak ...bisa renang sepuasnya, Udaranya pun segar. Sayangnya satu...."


" Apaan?"


" Kagak ada makanan."

__ADS_1


" Kalau nggak ada makanan ya masak. Bahannya juga sudah tersedia."


" Reyna kan nggak bisa masak kak. Seharusnya tuh kak Rara yang masak."


" Iya sih .... tapi kakak lagi mager !"


" Memangnya tadi main sampai jam berapa?"


" Sampai jam dua."


" Lama amat !"


" Kan_"


" Kalian lagi ngapain... ada makanan kagak? perut aku lapar nih ." Reyhan dengan cuek memotong ucapan Aurora dan duduk di sampingnya.


" Kamu nanya?" sindir Aurora sambil tersenyum.


" ✌️😀😀 Lapar kak .... ada makanan nggak ?"


" Mau makan apa ? Nasi , roti atau buah ?" tanya Aurora, padahal semuanya belum tersedia.


" Nasi lah kak ... perut aku udah lapar banget nih. Kalau roti mana cukup ?"


" Tunggu sebentar.... masih kakak pesankan ."


" Mereka yang tinggal disini masak sendiri. Bahan makanan juga ada. Tinggal masaka doang ."


" Maksud Reyhan tuh ... apa nggak ada pembantu yang memasak ?"


" Belum ada . Apa kamu mau melamar jadi tukang masak ?"


" Nggak gitu juga kali konsepnya ," protes Reyhan.


" Widi... pakai konsep segala ."


" Ya iya lah !"


Tut Tut Tut


Bunyi telpon yang ada di meja pojok membuat perbincangan mereka berhenti. Aurora mengambil telpon tersebut dan mengangkatnya.


" Ada apa ?"


" ...."


" Suruh masuk saja. Terus mobilnya suruh ditaruh di garasi depan."

__ADS_1


" ... "


" Oke !"


Setelah sambungan itu terputus, Aurora beranjak ke dapur . Hal itu membuat Reyhan dan juga Reyna penasaran. Mereka pun mengikutinya.


" kalian bantu kakak bawa piring dong !"


" Buat apa ?"


" Katanya tadi lapar .Sudah deh nggak usah banyak tanya. "


" Iya iya ," jawab Reyhan mengambil piring yang sudah dipersiapkan oleh Aurora beserta sendok dan garpu.


" Kamu bawa air putih ini aja Reyna !" tunjuk Aurora.


" Oke !" tanpa banyak tanya Reyna menyetujui nya . Dia sudah tahu bahwa Adrian mungkin sudah datang dan bawa makanan.


Aurora sendiri membawa mangkok dan piring yang berukuran lebih besar dari yang sudah dibawah Reyhan.


Aurora lalu menyuruh keduanya untuk meletakkannya di meja yang ada di ruang tamu. Tak berselang lama , Adrian datang dengan menenteng dua kresek .


" Assalamualaikum..."


" Wa alaikum salam..."


" Akhirnya... kak Rian datang juga. Reyna sudah lapar dari tadi . Tapi kata kak Rara suruh tunggu kak Rian datang," celetuk Reyna tanpa rasa malu sama sekali. Mendengar ucapan Reyna , Reyhan jadi tau alasan kakaknya tidak mau masak. Dia pun mencibir dalam hati .


" Iya nih .... kakak tadi mampir beli ini," jawab Adrian sambil meletakkan kresek yang ia pegang diatas meja. Dia juga tersenyum melihat piring yang sudah siap diatas meja.


" Abang beli apa saja ?"


" Ada lalapan , ayam goreng krispi, tumis kangkung, martabak telur sama terang bulan."


" Banyak amat bang !"


" Ya nggak lah .... semuanya cuman empat porsi."


" Lah .... yang lain nggak dibagi bang ?"


" Tadi Abang sudah kasih martabak sama terang bulan buat para penjaga di depan ."


" Alhamdulillah... jadi yang ini buat kita semua kan ?"


Adrian menjawab dengan anggukan sambil tersenyum. Kemudian membuka semua bungkusan dan meletakkannya ke piring yang sudah dipersiapkan. Ketiga orang lainnya juga turut mengambil bagian masing-masing. Lalu mereka menikmatinya sambil berbincang .


Terimakasih sudah menjadi pembaca setia cerita ini . Jangan lupa dukungannya kakak !!!🙏🙏🙏🙏😘

__ADS_1


__ADS_2