
Salsa tersenyum, langsung duduk walau sedikit salah tingkah saat bertatapan dengan Azka tadi. Wanita itu menyerahkan dua buku berwarna merah maroon dan hijau tua.
"Bukti kalau kita udah nikah, dan ini cincin pernikahan kita Azka. Papi yang memberikannya." Salsa langsung menyerahkan cincin yang berada di dalam kotak untuk Azka.
"Ini Asli?"
"Menurut kamu?"
Azka bergeming, terus memandang buku nikah itu secara bergantian, disana ada fotonya bersama Salsa. Ia mengedarkan pendangannya kembali menatap foto pernikahan mereka di atas nakas.
"Oh iya ada lagi Ka." Salsa beranjak mengambil benda pipi di atas meja, membuka galeri untuk memperlihatkan foto-foto mereka saat akad nikah.
"Lihat, kita sangat bahagia hari itu Ka. Kamu benar-benar nepatin janji nikahan aku setelah sembuh." Salsa senyum-senyum sendiri mengusap wajah Azka yang tengah tersenyum di antara inti Avegas lainnya.
"Aaaakkkkhhh." Azka mengerang seraya memegangi kepalanya.
Bayangan seseorang sedang mengucapkan ijab kabul tiba-tiba terlintas di kepalanya.
Saya terima nikahnya ....
Sah ....
Aku mencintaimu ....
Aku suamimu ....
"Azka, kamu baik-baik aja?" Panik Salsa menguncang tubuh Azka. "Sayang."
__ADS_1
Azka membuka matanya, ketika bayangan itu hilang, ia menatap wajah cantik Salsa yang kini terlihat sangat panik.
"Kamu benar istri saya?" Lagi, kalimat itu keluar dari mulut Azka.
Ia hanya ingin memastikan semuanya, jangan sampai setelah ingatannya kembali semua yang ia jalani palsu. Dengan kata lain, mungkin orang-orang memanfaatkan ketidakberdayaannya.
"Aku istrimu, kenapa selalu bertanya?"
Azka mengeleng masih menatap wajah cantik Salsa. "Saya baru saja melihat bayangan seseorang saat menutup mata. Bayangan saat saya mengucapkan ijab kabul, sayangnya saya tidak melihat mempelai perempuan. Kalau kau memang benar istriku dan semua yang kau tunjukkan asli, maka saya akan memberimu kesempatan agar kau membuatku jatuh cinta untuk kedua kalinya."
"Tenang saja, Saya juga akan berusaha. Saya tidak ingin terus hidup dalam kebingungan seperti ini."
Tes
Air mata Salsa langsung menetes membasahi pipinya, wanita itu mengangguk seraya mengelus pipi Azka.
Azka mengangguk.
"Aku mencitaimu Azka, sungguh. Kamu laki-laki terhebat setelah ayah. Kamu nggak tau bagaimana hidupku tanpamu, semuanya hancur."
"Maaf, jika hilangnya ingatan juga kepergian saya membuatmu terluka."
"Bukan salah kamu Ka, ini udah takdir. Mungkin Allah sedang merencanakan sesuatu hingga menguji kita seperti ini."
"Aku sayang sama kamu Ka."
"Aku belum bisa membalasnya," ucap Azka jujur.
__ADS_1
Entah kenapa, rasa nyaman tiba-tiba menghampirinya, semakin Salsa memeluknya maka semakin nyaman yang ia rasakan.
"Salsa, apa laki-laki yang berdiri di samping saya juga salah satu inti Avegas?"
"Huh?" Salsa mendongak.
"Di dalam foto itu, laki-laki yang memakai jas putih."
Salsa langsung mengambil ponselnya dan memperhatikan foto yang di maksud Azka. "Ini?"
"Iya, apa dia salah satu inti Avegas juga?"
"Iya, tapi dia nggak datang tadi karena ada penerbangan. Kamu kenal?"
Azka mengangguk, membuat Salsa memelototkna matanya. "Serius?"
"Dia Samuel bukan? Dia sahabat saya sejak kecil. Karena melihat dia, saya yakin bahwa kalian tidak mungkin berbohong tentang semuanya."
"Azka bagaimana bisa?"
"Saya juga tidak tahu, tapi di antara kalian saya hanya mengingat dia."
"Berhentilah menangis! Kau membasahi baju saya!"
Salsa cengegesan, langsung melerai pelukannya. Tetap saja Azka bersikap acuh padanya.
...****************...
__ADS_1
Ritual setelah membaca, kuy tebar kembang yang banyak biar wangi. Jangan lupa juga tekan tombol vote, like, fav dan ramaikan kolom komentar. Jika kalian sayang sama otor jangan lupa nonton iklan setelah baca ya, iklannya bisa di lihat di bar pemberian hadiahπ₯°πππππππΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ