
Salsa dan Azka pulang ke ibu kota subuh-subuh sekali agar sampai dengan cepat. Hanya beristirahat sebentar, Azka langsung pergi lagi untuk menemui teman-temannya di markas.
"Tidur aja dulu, nanti aku jemput," ucap Azka mengecup kening Salsa sebelum pergi.
Dia sangat tahu pasti wanitanya sangat lelah karena perjalanan jauh. Dia menunda keberangkatan menjadi sore harinya, padahal orang tua juga beberapa temannya sudah ada di Villa mempersiapkan keamanan, takut geng Wiltar mengacaukan semuanya.
"Hati-hati Ka, aku takut sendirian," gumam Salsa.
Wanita itu benar-benar lelah, sampai tidak mengantar kepergian Azka.
***
Azka senyum tipis ketika melangkahkan kaki masuk ke markas dan mendapati Regan di sana. Dia langsung mengulurkan tangan untuk bertos ria ala laki-laki padanya.
"Gimana keadaan lo? Udah jauh lebih baik?" tanya Azka basa-basi.
"Baik bang, makasih udah nanggung semuanya, nggak tau lagi mak sama bapak saya ngambil uang di mana kalau saja bang Azka nggak nolong," jujur Regan.
"Lo bagian dari Avegas, artinya lo juga tanggung jawab gue. Yang lain udah datang?"
"Udah, Bang El, Keen sama Dito. Bang Ray sama bang Ricky berangkat duluan sama yang lain."
Azka mengangguk, melangkahkan kaki panjangnya keruangan lain dimana inti Avegas tengah bercanda, terbukti dengan tawa yang mengelegar dari mulut Keenan juga Dito.
"Nih akhirnya yang punya acara datang juga."
"Yang mau resepsi siapa yang sibuk siapa," sindir Dito. "Tau nggak kalian? Ray udah kek punya acara, semangat banget, katanya takut resepsi ada penyusup sampai nyusun trategi sama El."
"Halah, paling juga ada maunya tuh nak, minta di bokingin cewek," cibir Keenan.
"Kalau kata gue nih ya, Ray banyak berubah setelah Giani balik, jalan sama cewek udah jarang banget."
"Ya bagus dong, artinya udah sadar," sahut Azka.
"Ya juga ya? Berharap Giani balik lagi sama Ray," gumam Dito.
Azka tak menyahuti lagi, dia mode curiga pada Rayhan untuk saat ini, bukan cuma Rayhan, tetapi Keenan pun sama.
Dia memang sering berkunjung ke markas, tetapi hatinya tak sepenuhnya berada di sini, selama musuh belum di temukan, maka dia tidak akan berhenti mencurigai siapapun.
Mempercayai orang lain sepenuhnya 100% dalam situasi seperti ini tidak mungkin Azka lakukan. Bayangan sendiri saja bisa meninggalkan saat berada di kegelapan, apa lagi orang lain?
Setelah berdiskusi cukup lama, Azka pamit pulang, tak lupa menyuruh anggota yang ingin ikut segera bersiap-bersiap.
***
__ADS_1
Jarak Villa dan ibu kota tidak terlalu jauh, jadi Azka dan Salsa sampai saat malam harinya. Villa sudah sangat ramai oleh teman-teman juga keluarga besarnya.
"Papa, Mama!" pekik Angkara berlari kearah Azka juga Salsa.
"Hay Bro, gimana liburannya sama Oma dan Nenek?" sapa Azka langsung mengendong Angkara dengan sebelah tangan, sementara tangan satunya mengenggam tangan Salsa.
"Senang banget Papa, Oma sama Nenek biarin Kara main apa saja, apapun yang Kara mau pasti di turutin." Angkara mengetuk-etuk dagunya seperti berpikir. "Kalau Kara minta pesawat terbang yang besar sama Opa, bakal di beliin juga Papa?" tanyanya.
"Heh, jangan ngadi-ngadi nak!" tegur Salsa.
Kantuk wanita itu langsung buyar mendengar pertanyaan konyol putra kecilnya. Sementara Azka menanggapi dengan senyuman.
"Boleh banget nak, coba deh minta," perintah Azka.
"Papa! Apaan sih, ngajarin anaknya yang nggak-nggak." Salsa mengambil alih Angkara dari gendongan Azka walau lumayan berat.
"Ayo nak, sama Mama. Kara tau? Mama kangen baaangeeet sama anak mama yang tampan ini."
"Beneran?" tanya Angkara.
"Beneran sayang."
Sebelum pergi dari taman yang banyak di lalu pekerja, Salsa sempat melirik sang suami.
"Gabung sama yang lain Pa, masa iya teman-teman kamu datang, kamunya ngintilin mulu!"
Karena tak tahu harus melakukan apa, Salsa memutuskan untuk bergabung dengan orang tuanya yang sedang sibuk berbincang di ruangan yang sangat luas, kalau di lihat-lihat sepertinya tempat santai.
"Menantu cantik Mami akhirnya datang juga, kirain nggak bakal datang," sindir Tari seraya mengelus punggung menantunya. Itu hanya sebuah candaan.
"Anu Mi, Salsa sama Azka ...."
"Nggak usah di jelasin, Mami tau suami kamu itu kayak gimana, apapun di bawa santai. Ngomong-ngomong suami kamu mana? Jangan bilang masih ...."
"Udah datang Mi, lagi di taman sama teman-temannya, buruk sangka mulu sama anak sendiri." Salsa menahan senyumnya, Azka seperti anak tiri jika Tari dan dirinya bersama.
Apapun alasannya, Tari selalu membela Salsa walau tidak tahu pokok permasalah.
Azka memang putra Mami, Nak. Mau sejahat apapun Mami sama dia, tetap aja anak, beda sama kamu. Nggak mungkin menantu kesayangan Mami ini di salahin.
Itulah yang selalu Tari katakan jika Salsa bertanya, kenapa selalu di bela jika bertengkar dengan Azka.
"Jangan gosipin menantu tampan saya Tari!" tegur Reni.
"Salsa bingung mau ngomong apa lagi sama kalian." Dia mengeleng, tak sanggup melihat kelakuan Mama dan Mertuanya.
__ADS_1
"Kara ngantuk Mama," gumam Angkara. "Tapi tidurnya pengen sama Mama."
"Udah, bawa ke kamar aja. Kara nggak tidur siang karena asik main sama Arga."
Salsa mengangguk patuh, izin lebih dulu ke kamar untuk menidurkan putra kecilnya.
Karena tidak membawa buku favorit Angkara, Salsa membaca dongen dari ponselnya saja. Dia mengecup kening putranya sangat lama, menyalurkan rasa rindunya selama ini.
Dia ingin tinggal bersama Angkara, tapi juga tak ingin membantah perintah sang suami. Salsa yakin, Azka punya alasan mengapa menitipkan Angkara pada mertuanya.
"Kara kalau besar nanti jangan ikutin jejak Papa ya, jangan buat Mama khawatir kayak sekarang," bisiknya.
Sejak teror yang menghampirinya beberapa hari yang lalu, Salsa selalu khawatir akan banyak hal, bukan khawatir dirinya akan kenapa-napa, tetapi khawatir pada putra dan suaminya. Dia tidak ingin kehilangan orang-orang yang dia cintai untuk kedua kalinya.
Rasanya sangat sakit.
Selalu saja, seseorang yang dia sayangi dan cintai menghilang tanpa pamit padanya. Papanya dan Rio, pergi tanpa pamit lebih dulu padanya.
"Anak Mama kalau besar nanti bakal jadi anak pintar kayak Papa, bakal buat orang tua bangga, iya kan sayang?"
"Uuuggghhhh, Mama peluk Kara!" gumam Angkara di bawah alam bawa sadarnya.
Cup
cup
cup
"Gemes banget anaknya Azka."
"Sayang!"
Salsa langsung menoleh ketika suara Azka terdengar di belakangnya, dia berbalik dan tersenyum.
"Kenapa? Mau makan Ka? Malam ini aku belum liat kamu makan apapun."
Azka mengeleng, dia ke kamar hanya ingin memastikan anak dan istrinya baik-baik saja, walau keamanan Villa masih terjamin, dia tetap saja harus waspada. Teman bisa saja menjadi lawan di waktu-waktu mendesak.
...****************...
Ritual setelah membaca, kuy tebar kembang yang banyak biar wangi. Jangan lupa juga tekan tombol vote, like, fav dan ramaikan kolom komentar. Jika kalian sayang sama otor jangan lupa nonton iklan setelah baca ya, iklannya bisa di lihat di bar pemberian hadiahπ₯°πππππππΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Follow untuk melihat visual
IG: Tantye005
__ADS_1
Tiktok: Istri sahnya Eunwoo