Kembalinya Suamiku

Kembalinya Suamiku
Part 64- Kembalinya Suamiku


__ADS_3

Karena kondisi Azka baik-baik saja dan Angkara sendiri di ibu kota. Laki-laki itu memutuskan untuk pulang di dampingi sang istri.


Sepanjang jalan, Azka menggunakan kondisinya agar bisa bermanja-manja dengan sang istri, laki-laki itu sampai ibu kota memeluk Salsa sangat erat, dengan kepala bersembunyi di ceruk leher wanitanya.


Ketika sampai di rumah, keduanya di sambut dengan binar bahagia sang putra.


"Mama, Papa. Darimana? Kenapa jalan-jalan nggak ngajak Kara?" Angkara berlari seraya merentangkan tangannya, melompat agar Azka menangkap dirinya.


"Papa habis buat dedek untuk Kara, bentar lagi pasti datang di sini." Azka mengelus perut Salsa membuat wanita itu tersipu malu.


"Apaan sih Ka, ngasih harapan mulu sama Kara," gumam Salsa.


"Aamiin nin Sayang, siapa tau di jabah, 'kan?"


"Cara buatnya bagaimana Papa? Ajarin Kara boleh?"


"Boleh, papa ganti baju dulu, setelah itu kita buat berang-bareng sama Mama." Azka menunrunkan Angkara dari gendongannya, menuju kamar untuk menganti baju dengan yang lebih santai.


Perlakuan Azka barusan mengundang tanda tanya besar di benak Salsa. Entah apa lagi yang akan di lakukan suaminya bersama putranya, jika tidak membawa-bawa dirinya, Salsa tidak masalah.


Karena sedikit lelah, Salsa mendudukkan diri di Sofa, sementara Angkara mengekori dan duduk di karpet yang penuh akan mainan.


"Mama, tadi Oma datang kesini," ucap Angkara.


"Terus Oma ngomong apa, Nak?"

__ADS_1


"Katanya Kara nggak boleh nangis, Mama sama Papa lagi ada urusan. Eh ternyata urusannya buat dedek untuk Kara." Angkara menutup mulutnya, merasa sangat senang ketika di janjikan adik oleh Papanya.


Dia selalu iri pada Arga yang kini mempunyai dua adik kembar.


"Kara mau dedek 4 Mama, biar ngalahin Arga." Angkara menaikkan lima jarinya.


"Heh?"


"Itu bukan 4 bocil, tapi Lima." Azka datang langsung meralat. "Minta dedek 10 sama Mama, nanti kita buat tim sepak bola, gimana?" Dia membimbing tangan Angkara hingga menaikkan 10 jari-jari tangannya, membuat Salsa mengangga tak percaya, sepertinya salah satu kabel Azka putus hingga hilang kewarasan.


Apa laki-laki itu tidak tahu, bahwa anak-anak seperti Angkara sangat rentang dengan namanya Janji? Jika anak seumuran Angkara di janji, maka apa yang di janjikan harus ada secepat mungkin, hamil dan melahirkan bukanlah waktu yang singkat.


"Papa," tegur Salsa.


"Kenapa Mama Sayang? Papa sanggup kok." Alis Azka naik turun menggoda sang istri.


"Belanja?"


"Iya sayang, Aku mau merayakan kemenangan bersama kalian."


Karena lelah, dan tidak ada niatan untuk keluar rumah, Salsa segera mencatat bahan-bahan yang di butuhkan kemudian mengirim ke ponsel Azka.


"Udah. Ingat, jangan beliin Kara makanan yang nggak berguna, atau Papa yang dapat marah," peringatan Salsa beserta ancamannya.


"Siap ibu ketua." Azka memberi hormat.

__ADS_1


Melihat itu, Angkara yang sibuk bermain ikut berdiri dan memberi hormat pada Mamanya.


Alis Salsa saling bertaut ketika Azka berjongkon dan membisikkan Angkara sesuatu, sepertinya dua laki-laki di depannya sedang merencanakan hal-hal yang akan membuatnya kesal.


Usai berbisik, Angkara menegadahkan tangannya. "Uang Mama," ucapnya.


"Lah, kok uang dari Mama? Nggak usah belanja lah sekalian."


"Papa, Mama nggak mau ngasih." Angkara menatap Azka yang sedang mengulum senyum.


"Yah, Papa nggak bisa nolong bro. Memangnya mau beli apa sih?"


"Beli mainan."


"Mainan Kara kan udah banyak," sahut Salsa.


Sebenarnya Salsa hanya bercanda tadi saat mengatakan tidak ingin memberi uang, dia tidak ingin membiasakan putranya meminta uang.


"Jangan ngajarin Kara minta uang, aku nggak suka," tegur Salsa.


"Lah kok gitu?"


"Kesannya semua kebutuhan dia selama ini nggak tercukupi."


"Iya sayang, nggak. Ayo Bro, nggak usah minta uang kalau mau beli sesuatu langsung ambil aja!"

__ADS_1


...****************...


Author nggak mau ngancem lagi dah, tapi harus komen ya🧐


__ADS_2