Kembalinya Suamiku

Kembalinya Suamiku
Part 30 - Kembalinya Suamiku


__ADS_3

"Ayo, Sayang. Kita pulang kerumah lagi," bujuk Azka pada Angkara.


Setelah membaca situasi yang ada, sepertinya dia tidak perlu membujuk Salsa. Cukup dengan mengambil hati Angkara, maka Salsa juga akan ikut.


Wanita itu sangat menyayanggi putranya lebih dari apapun. Bahkan di saat hatinya sakit seklipun Salsa lebih memilih mengalah demi Angkara.


Azka mengendong Angkara keluar dari rumah, menyuruh asisten rumah tangga untuk membawa koper Salsa dan Angkara ke mobil.


Salsa yang mengikuti dari belakang tersentak ketika Azka mengenggam tengannya.


"Nggak usah," gumam Salsa lebih dulu masuk ke mobil tanpa menunggu Azka membukakan pintu.


Entah sampai kapan dia akan terus begini. Lama atau sebentar, tergantung hatinya dan perjuangan Azka untuk mencairkan hatinya yang sedang membeku.


"Kara senang Mama sama Papa temenan," girang Angkara dalam pangkuan Salsa.


"Papa juga senang nak. Maafin papa selama ini ya," ucap Azka mengelus kepala Angkara lembut.


"Mama juga senang?" tanya Angkara dan hanya di jawab anggukan oleh Salsa.


Tidak ada keheningan selama perjalanan pulang. Angkara terus berceloteh dan bercerita banyak hal pada Azka. Kedua laki-laki berbeda generasi itu sangat asik, sementara Salsa hanya memejamkan mata tak ingin ikut menimpali sedikitpun.


Mereka bertiga sampai di rumah setelah mengalami drama kemacetan seperti biasa. Di teras rumah, sudah ada orang tua Azka berdiri.


"Mami, Papi?" heran Salsa. Dia langsung meraih tangan kedua orang tua Azka dan menciumnya.


"Udah lama? Kenapa nggak ngabarin? Salsa sama Azka tadi keluar jalan-jalan," bohong Salsa tak ingin mertuanya tau yang sebenarnya.


Namun, semua usahanya sia-sia karena Tari dan Ans sudah mengetahuinya. Terlebih saat penjaga rumah mengeluarkan dua koper di dalam bagasi.


"Ayo masum Mi,Pi!" ajak Salsa ramah.


Bukannya masuk, Tari malah memeluk tubuh ramping menantunya. Mengelus rambut bagian belakang Salsa sangat lama dan lembut.


"Maafin Azka ya, Sayang! Kalau kamu memang udah nggak sanggup sama Azka, Mami nggak bakal larang kamu. Tapi Mami mohon, jangan berubah," bisik Tari, setelahnya dia melerai pelukannya dan mencium kedua pipi Salsa.


Salsa tersenyum. "Mami nggak usah sedih, Salsa nggak bakal kemana-mana. Ayo masuk, biar Salsa buatin sesuatu!" ajak Salsa sekali lagi.


"Nggak usah Nak, Papi sama Mami kamu ada dinas keluar kota jadi nggak bisa lama-lama," ungkap Ans setelah menatap tajam putra tunggalnya.


Pria paruh bayah itu melangkah mendekati Azka. "Opa mau ke luar kota sama Oma, Kara mau ikut?"

__ADS_1


"Mau!"


"Izin sama Mama papa dulu!" perintah Ans.


Seketika Angkara menatap kedua orang tuanya penuh harap, dia sangat ingin jalan-jalan bersama Opa dan Omanya. Semua yang dia inginkan akan dia dapatkan jika pergi bersama mereka. Ans dan Tari sangat memanjakan Angkara.


"Papa sih oke-oke aja, tapi izin sama Mama dulu!"


"Boleh Mama?" tanya Angkara.


"Mami, Angkara lagi sekolah nggak bisa ...."


"Sekolah nanti Mami yang urus, sekarang kamu pikirin diri sendiri dulu Nak! Kata Reni, akhir-akhir ini kamu sering sakit. Kayaknya kamu lelah fisik juga batin." Kalimat terakhir, Tari melirik Azka seperti menyinggung putranya sendiri.


Dengan terpaksa, Salsa menganggukan kepalanya, membiarkan Angkara ikut bersama kedua mertuanya.


***


Salsa langsung masuk ke kamar Angkara dan menguncinya. Dia kembali mencurahkan rasa sakit hatinya dengan menangis dan menangis. Rasanya sakit saat Azka bersikap biasa-biasa saja setelah apa yang terjadi.


Azka bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.


"Apa kamu nggak tau rasa sakit aku Ka? Kamu datang meminta maaf dan menggangap semuanya selesai." guman Salsa, walau Azka tidak ada di sekitarnya.


Perempuan mudah memaafkan dan meminta maaf, tapi jangan berharap luka itu akan hilang begitu saja.


Suara pintu di ketuk terdengar, dan Salsa yakin itu Azka.


"Sayang, buka pintunya! Kita bicara baik-baik!" pinta Azka di balik pintu.


Salsa tak menyahut, wanita itu malah mematikan lampu kamar dan bersembunyi di balik selimut.


Sampai hari mulai gelap, Salsa belum juga keluar dari kamar, membuat Azka sangat khawatir. Laki-laki itu kembali mengetuk pintu entah untuk keberapa kalinya.


"Kamu nggak perlu ajak aku bicara, yang penting kamu keluar dan makan sesuatu. Sayang, jangan karena aku kamu sakit," bujuk Azka.


Dia memutuskan untuk duduk bersandar di daun pintu, menunggu Salsa membukanya, tanpa tahu bahwa Salsa melalukan hal yang sama sepertinya.


"Aku tau, ucapan maaf aja nggak mungkin bisa ngobatin luka di hati kamu Sal. Tapi aku bakal terus minta maaf atas apa yang aku lakukan selama ini," ujar Azka sedikit membentur-benturkan kepalanya pada daun pintu.


"Maaf udah nuduh kamu selingkuh, maaf udah ngeraguin anak kita. Maaf juga karena aku mudah terhasut sama Lara. Saat itu aku cuma mau ingatan aku cepat kembali, agar bisa ingat kamu."

__ADS_1


"Lara?"


Azka terkejut, ketika mendengar sahutan dari dalam kamar. Dia baru sadar, Salsa ada di balik pintu.


"Kamu dengerin aku?" tanyanya tak percaya, namun tak ada lagi sahutan apapun.


"Aku ketemu Lara kemarin di Kafe, dia ngomong yang nggak-nggak tentang kamu. Aku udah coba berfikir jernih Sal, tapi nggak bisa, kalimat Lara terus berputar dalam pikiran aku, hingga saat kita makan malam aku kelepas, maaf," jelas Azka panjang lebar.


"Benar kata Samuel, aku bodoh karena nggak bisa kenal istri sendiri bahkan sampai mencurigainya. Seharusnya saat itu Rio nggak usah donorin jantungnya sama aku Sal. Aku lebih baik mati daripada harus buat kamu terluka."


Isakan di balik pintu mulai terdengar, Salsa kembali menangis di dalam sana.


"Jangan nangis Sayang, aku nggak suka kamu nangis. Air mata kamu terlalu berharga cuma buat nangisin aku."


"Aku benci sama kamu Azka!" pekik Salsa di balik pintu.


Tapi, percayalah, semua itu hanya di mulut, hati Salsa tidak mungkin bisa membenci Azka, sedalam apapun laki-laki itu menanam luka di sana.


"Aku nggak bakal nyangkal itu, nggak ada istri yang nggak sakit hati saat suaminya menunduh selingkuh. Katakan sama aku Sal, aku harus apa?" tanya Azka.


Satu kalimat saja yang keluar dari mulut Salsa, maka Azka akan melakukannya, bahkan jika Salsa meminta nyawanya sekalipun.


"Pergi dari hidup aku dan Angkara! Menghilanglah, seolah-olah kamu memang nggak pernah hidup!"


"Kamu mau nyawa aku?"


Salsa terdiam.


"Kalau hanya itu yang bisa menebus semua kesalahan aku selama ini, baiklah. Jaga anak kita baik-baik ya!"


Azka bangkit dari duduknya. Sudah dia katakan, apa yang di inginkan Salsa akan dia lakukan asal wanitanya bahagia.


...****************...


Ritual setelah membaca, kuy tebar kembang yang banyak biar wangi. Jangan lupa juga tekan tombol vote, like, fav dan ramaikan kolom komentar. Jika kalian sayang sama otor jangan lupa nonton iklan setelah baca ya, iklannya bisa di lihat di bar pemberian hadiahπŸ₯°πŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉ


Follow untuk melihat visual


IG: Tantye005


Tiktok: Istri sahnya Eunwoo

__ADS_1



__ADS_2