
Melihat Salsa berdiri di balkok kamar padahal udara di malam hari sangat dingin, Azka langsung menghampiri dan memeluk wanita itu dari belakang.
Dia mengecup pipi Salsa, kemudian menumpu dagunya di pundak wanita itu.
"Telponan sama siapa, Sayang?" bisik Azka menyingkirkan rambut yang menghalangi bibirnya menyentuh leher Salsa.
"Sama Mama, katanya mau ketemu, kita ke bandung besok mau?" tanya balik Salsa.
Wanita itu membalik tubuhnya, hingga berhadapan dengan Azka. Gelengan kepala dari suaminya membuat Salsa cemberut.
"Katanya mau nurutin semua keinginan aku, cuma mau ketemu mama kok nggak boleh?"
Kecupan hangat mendarat di bibir mengerucut Salsa. "Jauh, takut kamu kelelahan. Mama nggak ada kerjaan? Nggak sibuk?"
"Nggak, lagi santai."
"Kalau gitu, biar aku yang jemput mama dan memastikannya sampai rumah dengan selamat. Daripada kamu yang berkunjung, lelah duduk berjam-jam. Kasian janin di dalam perut kamu."
"Posesif, makin cinta." Manja Salsa mengalungkan tangan di lehar Azka.
Saat itulah, Azka mengendong Salsa anak koala masuk ke kamar. Udara semakin dingin, jangan sampai istrinya masuk angin dan malah beresiko pada kesehatan wanita hamil itu.
__ADS_1
Azka menurunkan Salsa di pinggir ranjang kemudian berjalan ke sisi ranjang lainnya. Berjongkok sedikit, demi mengambil sesuatu di dalam laci.
Mungkin ini saat yang tepat untuk menceritakan sesuatu yang tidak pernah di ketahui Salsa sejak dulu, bahkan saat keduanya pacaran.
Azka duduk di samping Salsa, mengambil tangan sang istri, kemudian meletakkan sebuah kartu di telapak tangan wanita itu.
"Uang kamu."
Salsa mengernyit bingung, uang? Sejak kapan Azka mengambil uangnya? Bahkan jika di hitung-hitung, sejak menikah sedikitpun uang pribadinya tidak keluar sama sekali.
Uang bulanan Angkara dan dirinya selalu mengalir deras dari mertuanya setiap bulannya. Bisa di bayangkan bukan, sesayang apa Tari pada menantunya?
Mungkin karena dulu Salsa begitu menderita karena putranya. Salsa satu-satunya perempuan yang berhasil mengendalikan Azka dari kekeras kepalaan juga ego yang sangat tinggi.
Kembali pada Salsa yang kini menatap Azka dengan bingung. "Uang apa, Azka?"
"Aku mau jujur sesuatu sama kamu, Sal. Tapi janji jangan marah atau berasumsi yang tidak-tidak, plis!" pinta Azka dengan raut wajah seriusnya.
Sebenarnya Azka takut, tapi dia sudah tidak tahan untuk membongkar semuanya. Toh, semua masalahnya sudah selesai.
"Ya apa dulu, selama kamu nggak selingkuhin aku, mana mungkin aku bisa marah. Rasa marah aku selalu kalah dengan rasa cinta yang terus kamu pupuk setiap harinya."
__ADS_1
Salsa tersenyum, memeluk Azka, menyembunyikan kepalanya di dada bidang suaminya.
"Kamu ingat pertama kali aku menawarkan tumpangan saat kita sekolah dulu?"
Walau sedikit ragu, Salsa menganggukkan kepalanya. Dia teringat saat Azka menghentikan motornya di halte dan mengajaknya pulang bersama, menolak karena mengira Azka akan mengerjainya seperti yang lalu-lalu saat dia di jadikan babu selama seminggu. Tetapi apa boleh buat, dia tetap pulang dengan Azka karena paksaan dan takut.
"Itu sebenarnya bukan keinginan aku, aku terpaksa melakukan itu semua, maaf."
Senyum Salsa mumadar, mendongak untuk menatap wajah tampan suaminya.
"Jadi rumor tentang kamu deketin aku karena taruhan itu benar?" tanya Salsa tidak percaya.
Azka mengeleng. "Aku nggak pernah deketin kamu karena taruhan Sal. Tapi sebagai pengawal yang mama sewa untuk menjaga kamu dari musuh ayah. Dan siapa sangka aku malah jatuh cinta."
...****************...
Ritual setelah membaca, kuy tebar kembang yang banyak biar wangi. Jangan lupa juga tekan tombol vote, like, fav dan ramaikan kolom komentar. Jika kalian sayang sama otor jangan lupa nonton iklan setelah baca ya, iklannya bisa di lihat di bar pemberian hadiahπ₯°πππππππΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Follow untuk melihat visual
IG: Tantye005
__ADS_1
Tiktok: Istri sahnya Eunwoo