
Berhasil meloloskan diri dari pelukan Azka yang kembali terlelap. Salsa segera mengerjakan semua pekerjaan yang tertunda.
Mulai mencuci baju dengan mesin cuci, membersihkan rumah juga memasak, dia melakukannya sendiri, walau tak ada yang menyuruh.
Weekend, memang waktu yang pas untuk bersih-bersih, apa lagi Angkara tidak ada dirumah, jadi Salsa tidak perlu repot-repot mengurus anaknya.
Setelah semua pekerjaanya selesai, Salsa kembali ke kamar dan tak mendapati sang suami, tempat tidur juga sudah rapi.
"Azka." Panggil Salsa.
"Di ruang ganti, kenapa?" sahut Azka.
Laki-laki itu sedang ganti baju karena habis mandi. Azka akan berangkat ke Kafe sebentar lagi.
Dia keluar setelah lengkap dengan kemeja hitam, plus celana hitam. Kini model rambutnya sedikit dia ubat, memperlihatkan jidatnya.
"Mau berangkat?"
"Iya, mau ikut?"
"Nggak, aku ada janji sama teman di luar. Boleh ya?" izin Salsa.
Azka langsung menoleh. "Teman siapa?"
"Ada Azka, temannya cewek kok."
"Aku antar kalau gitu."
"Nggak usah sayang, tujuan kita berlawanan arah," tolak Salsa.
Wanita itu tak ingin Azka mengetahui siapa yang bakal di temuinya.
"Salsa ...."
Salsa langsung menarik tangan Azka keluar dari kamar. "Kata Mami, Kara pulangnya minggu depan Ka, kok aku sedih ya?"
"Nggak usah sedih, kan bisa Vc. Lagian aku mau nurutin keinginan Kara, buat dedek lagi. Biar aku bisa manjain kamu pas hamil."
"Aaauuuwwe." Ringis Azka. Dia mengusap perutnya yang terasa nyeri. Apa ada yang salah dengan kalimatnya? Sepertinya tidak.
"Makanya jangan ngasal ih. Ayo sarapan dulu!"
***
Sepeninggalan Azka ke Kafe, Salsa juga buru-buru bersiap-siap untuk bertemu dengan seseorang di tempat mereka janjian semalam.
Salsa memang sosok yang ramah dan baik hati, tapi tidak berlaku bagi orang-orang yang lebih dulu menganggu dirinya.
Salsa turun dari mobil setelah sampai di restoran tempat keduanya janjian. Penampilan Salsa seperti anak remaja SMA pada umumnya. Hanya memakai celana dengan bagian lutut sedikit sobek, di padukan baju kaos berwarna hitam lengen pendek. Di tangannya ada sebuah cardingan.
Wanita itu senyum tipis ketika melihat orang yang ingin dia temui sudah datang.
__ADS_1
"Lama ya?" tanyanya basa-basi, langsung mendudukkan diri di depan Lara.
Ya, seseorang yang di temui Salsa adalah Lara. Dia hanya ingin membalas apa yang di lakukan gadis itu pada rumah tanggannya.
"Ada apa kau ingin menemuiku?" tanya balik Lara sedikit ketus.
Wanita itu mengira, Salsa sudah pergi menjauh setelah kejadian waktu itu. Tapi jika di lihat dari penampilan Salsa, tidak ada raut kesedihan di wajahnya, bahkan terkesan bahagia.
"Senang bisa ketemu kamu lagi Ra. Udah lama sejak kita lulus ... eh lupa, kita pernah ketemu ternyata di kampus ya? Pas itu kamu langsung meluk suami aku?"
"Nggak perlu basa-basi, aku sibuk," ketus Lara.
"Padahal aku mau kita ngobrol-ngobrol dulu. Aku ngajak ketemu mau berterimakasih sama kamu." Senyuman Salsa mengembang dan itu semua tak luput dari perhatian Lara.
Sial, apa yang aku lewatkan. Kenapa Salsa malah bahagia seperti ini?
Batin Lara bertanya-tanya.
"Terimakasih untuk apa? Aku nggak pernah tuh bantu kamu."
"Terimakasih udah ngembaliin ingatan Suami aku Ra. Kalau bukan kamu, pasti sampai sekarang Azka masih belum ingat sama aku. Kamu berjasa banget dalam rumah tangga aku."
Bohong jika Salsa tulus berterimakasih, dia hanya ingin memberitahu Lara, bahwa Azka sudah mengingat semuanya dan rumah tangga mereka baik-baik saja. Salsa hanya menggunakan ucapan terimakasih sebagai topik lebih halus.
"Azka ingat semua?" kaget Lara.
"Iya, dan ini berkat kamu. Sekali lagi makasih ya. Oh iya Ra, sebagai tanda terimakasih aku. Aku ada hadiah buat kamu." Salsa menyeringai.
"Coba di angkat Ra, siapa tau penting!" pinta Salsa.
Dengan raut wajah kesal, Lara segera mejawab panggilan dari manajernya. Lara kini merintis karirnya menjadi seorang model.
Karena tubuh juga kecantikannya, membuat dia mudah menjadi seorang model. Entah model lingerie, gaun, atau dress lainnya. Lara akan mengambil semua asal ada yang menawarkan.
Beberapa hari yang lalu, Lara baru saja di terima di salah satu agensi periklanan.
"Kenapa?"
"Lara, Anggara Group baru saja memutuskan kotrak kerjasama, dia rela membayar pinalti yang besar. Tapi sayang, kita sudah menolak beberapa agensi dan sekarang mereka sudah mendapatkan yang baru," jelas Manajer Lara di sebarang telpon.
"Jadi gimana?"
"Untuk sekarang, kita nggak punya rumah produksi lagi, dan akan berjalan tunggal tanpa naungan."
Tut
Lara langsung memutuskan sambungan telpon karena sangat kesal mendengar berita itu. Sangat sulit bisa masuk di agensi yang di naungi langsung Anggara Group, dan sekarang setelah berhasil masuk dan menolak beberapa agensi kecil, dia di buang lagi.
"Kenapa Ra? Kok wajah kamu merah gitu?" tanya Salsa sok polos.
"Bukan urusan kamu," ketus Lara.
__ADS_1
"Itu hadiah dari aku Ra, semoga suka. Karena kamu udah buat Azka ingat semuanya, aku ngasih kamu waktu istirahat lumahan banyak. Kalau gitu aku pamit ya, suami aku nunggu soalnya."
Salsa langsung beranjak, meninggalkan Lara yang sedang kesal karena ulahnya. Saat tahu Lara di naungi perusahaan sahabatnya sendiri, Salsa langsung mengambil tindakan. Sangat di untungkan, Alana bisa membujuk Alvi tentang ini.
Salsa melajukan mobilnya menuju Kafe untuk bertemu dengan sang suami. Baru saja membuka pintu ruangan laki-laki itu, dia sudah mendapatkan tatapan tajam.
Sudah di pastikan, Azka tidak suka dengan penampilannya sekarang.
"Nggak ada celana lain?" tanya Azka dingin.
Salsa senyum kikuk, berjalan semakin dekat lalu menyerahkan buket bunga pada Azka. Bukannya di ambil, Azka malah melirik celana Salsa.
Srek
"Azka!" pekik Salsa.
Dia tidak menyangka, Azka akan merobek celananya hingga pangkal paha.
"Kenapa? Nggak suka?"
"Aku pulangnya gimana?" panik Salsa. Kini dia seperti tidak memakai celana karena tertutup bajunya yang sedikit longar.
Srek!
Azka melakukan hal yang sama pada bagain celana yang lainnya, hingga Salsa seperti memakai sor saja.
"Azka! Aku beli ini mahal banget," protes Salsa dengan wajah cemberut. Dia tidak menyangka Azka akan semarah ini.
Kemarin-kemarin, mau dia berpakaian apapun, Azka tidak pernah menegurnya.
"Udah aku bilang Sal, kamu itu milik aku."
"Aku tau, tapi nggak sampai ngerobek juga. Kan bisa di suruh ganti aja."
"Bacot! Kalau di suruh ganti, ntar aku nggak liat, kamu pakai lagi. Diam, dan dengerin semua perintah aku!"
Azka menarik Salsa agar duduk di pangkuannya, dia sedikit melonggarkan dasinya agar tidak sesak.
Cup
"Hukuman buat kamu. Yang lainnya di lanjut ntar malam, sekalian nyicil keinginan Kara."
...****************...
Ritual setelah membaca, kuy tebar kembang yang banyak biar wangi. Jangan lupa juga tekan tombol vote, like, fav dan ramaikan kolom komentar. Jika kalian sayang sama otor jangan lupa nonton iklan setelah baca ya, iklannya bisa di lihat di bar pemberian hadiahπ₯°πππππππΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Follow untuk melihat visual
IG: Tantye005
Tiktok: Istri sahnya Eunwoo
__ADS_1