
Salsa terbangun, ketika mendengar suara seseorang manangis, dia kaget mendapati itu adalah putranya.
Salsa langsung duduk dan memeluk Angkara erat. "Anak Mama kenapa nangis?" tanya Salsa.
"Kara sedih, Mama sakit," ucap Angkara dalam pelukan Mamanya.
"Mama nggak papa, Sayang. Tadi cuma kelelahan, liat, Mama sekarang udah sehat, badannya juga udah nggak panas."
Angkara mendongak, menatap wajah Mamanya, memang sudah tidak sepucat tadi. "Kata Nenek juga gitu, tapi Kara tetap khawatir sama Mama."
"Nenek?" Mata Salsa membulat. "Nenek kesini tadi, terus sekarang mana?"
"Udah pulang setelah periksa Mama, tadi ada yang telpon nenek terus buru-buru pergi."
"Oh gitu." Salsa mengangguk mengerti, menghapus air mata di pipi putranya. "Papa belum pulang nak?"
"Belum Mama, tadi Nenek nelpon Papa, juga nggak di angkat."
"Mungkin Papa masih sibuk, ayo kita buat makan malam untuk papa." Salsa segera beranjak dari ranjang.
Tubuhnya sudah fit, tak selemas tadi setelah minum obat. Dia menarik tangan putranya keluar dari kamar menuju dapur, mendudukkan Angkara di meja pantri.
"Putra, Mama mau makan apa?"
"Biar saya aja neng yang masak, neng istirahat aja," ujar asisten rumah tangga Reni.
Namun, Salsa mengeleng. "Aku aja Bi, udah hampir malam, sebaiknya bibi pulang! Kasian Mama nggak ada nemenin di rumah. Aku udah nggak papa kok."
"Beneran neng?"
"Benar Bi."
Salsa merongoh saku celananya, mencari sesuatu. Dia menyerahkan dua lembar uang merah pada Bibi itu. "Ongkos pulang kerumah!"
"Jangan neng! Saya sudah di gaji sama bu Reni ...."
"Ck, itung-itung bonus udah bantuin aku."
Dengan terpaksa, wanita paruh baya itu mengambil uang pemberian Salsa, setelah itu pamit pergi. Dia sangat beruntung bisa mendapat majikan seperti mereka. Baik dan tidak membedakan derajat.
"Kara mau makan apa?" ulang Salsa.
"Kara mau makan donat kentang, Mama."
"Donat?" Angkara mengangguk.
"Karena anak Mama yang minta, Mama buatin. Tapi setelah buat menu makan malam ya."
Angkara menganggukan kepalanya, meninggalkan Mamanya di dapur. Dia memutuskan untuk bermain mobil-mobilan di halaman depan.
__ADS_1
Menarik mobil-mobil lumayan besar yang bisa di naiki. Menyalakannya dan keliling di sekitar halaman.
"Kara keren, udah kayak pembalap," heboh anak itu seorang diri di halaman depan rumahnya.
Bagaimana bisa punya teman, jika di kompleks mereka tinggal warganya sibuk semua, tak ada waktu berkunjung satu sama lain. Hidup sendiri-sendiri, mungkin jika salah satu tetangga mereka meninggal dunia atau kerampokan, tidak akan ada yang tahu.
Mata Angkara membulat di serai senyuman, melibat mobil Azka melintasi pagar, dia semakin menginjak edal untuk menancap gas mendekati mobil Papanya.
"Akhirnya Papa pulang!" seru Angkara langsung menyambut Azka. Memeluk kaki laki-laki yang baru saja turun dari mobil.
"Papa! Kara ada kabar bahagia. Kara udah bisa nyebut R. Kara pintar kan? Kara mau hadiahnya sekarang!"
Tanpa mengatakan apapun, Azka melepas paksa tangan Angkara di kakinya. Dia melangkah tanpa memperdulikan bocah cilik itu.
Dengan rambut acak-acakan juga kemeja tidak beraturan, Azka memasuki rumah. Melirik Salsa sekilas kemudian langsung menuju kamar.
Salsa yang menyadari keberadaan Azka, segera menyusul ke kamar seperti biasa.
"Akhirnya pulang juga, lelah banget pasti. Kuliahnya sampai sore." Salsa membantu Azka membuka kanci kemeja Azka.
Belum semuanya terlepas, Azka menepis tangannya di sertai tatapan tajam.
"Nggak perlu sok baik," gumam Azka kemudian masuk ke kamar mandi.
Salsa membeku, memandangi tangannya yang baru saja di tepis. Azkanya berubah dingin lagi? Padahal baru beberapa hari yang lalu laki-laki itu mengatakan perasaanya.
Hatinya terasa sakit di abaikan begitu saja. Sok baik? Maksud Azka apa? Apa selama ini, cinta, ketulusan dan kebaikannya, tidak berarti di mata Azka?
"Plis, aku lelah dengan semua cobaan ini. Hati aku nggak kuat, rasanya pengen nyerah, tapi hati aku mengatakan terus bertahan."
Air mata Salsa menetes, baru saja rasa pusing di kepalanya hilang, dia kembali merasakannya. Dia melirik pintu, takut Angkara masuk tiba-tiba dan melihatnya menangis, Salsa memutuskan untuk mengunci pintu kamar.
Lagi pula, Dia tidak perlu khawatir jika Angkara sudah berada di rumah, penjagaan di rumahnya sangat ketat karena Mertuanya memerintahkan beberapa orang di sekitar rumah agar cucu mereka tidak kenapa-napa.
***
Azka menguyur tubuhnya dengan air dingin, menikmati sensasi air menusuk kulit putihnya. Dia menumpu tubuhnya pada dinding kamar mandi. Menunduk memperhatikan bekas operasi di dadanya.
Hatinya menolak semua perkataan Lara tadi, hatinya ikut sakit mendengar semua tuduhan tentang wanita yang di cintainya. Namun, disisi lain, dia sedikit terusik dengan kalimat terakhir Lara.
Apa benar anak laki-laki itu anak kamu, atau anak dari selingkuhannya?
"Sialan!" teriak Azka meninju cermin kamar mandi, hingga pecah dan menimbulkan suara lumayan nyaring.
"Azka, kamu baik-baik aja?" tanya Salsa di balik pintu, tetapi Azka tidak menyahut. Semakin mengencangkan suara keran agar tidak mendengar suara Salsa.
Dia mendongak, seraya menyugar rambutnya kebelakang, membiarkan air shower menghantam wajahnya hingga menimbulkan rasa sakit.
"Ini yang aku takutnya ketika mencintai seseorang dalam ingatan yang hilang, aku merasa bingung sendiri," gumam Azka.
__ADS_1
Tak ada yang tahu, di balik guyuran air. Air mata Azka ikut menetes, merasakan sakit, tapi tidak tahu sakit apa itu.
"Azka, buka pintunya!" teriak Salsa.
Azka mendengus, mematikan keran, kemudian meraih handuk untuk membungkus tubuhnya. Membuka pintu kamar mandi dan mendapati Salsa berdiri di sana.
"Kenapa?"
"Aku yang harusnya nanya, kamu kenapa Ka? Ada masalah? Sini cerita sama aku!" Suara Salsa melembut, meraih tangan Azka.
"Aku nggak papa, hanya lelah seperti yang kamu katakan tadi," jawab Azka, mencoba menghindari Salsa.
***
Sikap Azka yang dingin, membuat Salsa sangat bingung. Wanita itu menyiapkan makan malam, sesekali melirik Azka dan Angkara yang seperti orang asing.
"Kara sama Papa mau yang mana?" Salsa memulai, tetapi keduanya diam saja. Mengambil makanan masing-masing.
"Mama, Kara mau ketemu Ayah Keen. Kara mau cerita, kalau Kara dapat nilai bagus dan udah bisa nyebut R. Papa nggak mau dengerin Kara," lirih Angkara menatap Mamanya penuh harap.
Dia ingin membagikan kabar bahagia, tapi Papanya malah acuh.
Salsa berusaha tersenyum, walau hatinya sedikit tersayat mendengar kalimat putranya.
"Iya, setelah makan ya Nak."
Tak
Suara sendok di letakkan begitu nyaring terdengar. Azka beranjak dari duduknya.
"Berhentilah membahas laki-laki lain di meja makan!" tegur Azka tidak suka. "Aku curiga Angkara menyayangi Keen, karena benar dia ayahnya."
"Azka, apa yang kamu katakan!" bentak Salsa, langsung menghampiri Angkara dan menutup telinga putranya, tak ingin Angkara mendengar kalimat menyakitnya Papanya sendiri.
"Kenapa Mama? Kenapa Papa Marah?" tanya Angkara.
"Nggak papa Sayang, Papa lelah. Ayo kita ke kamar! Kita makannya di kamar aja."
...****************...
Ritual setelah membaca, kuy tebar kembang yang banyak biar wangi. Jangan lupa juga tekan tombol vote, like, fav dan ramaikan kolom komentar. Jika kalian sayang sama otor jangan lupa nonton iklan setelah baca ya, iklannya bisa di lihat di bar pemberian hadiahπ₯°πππππππΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Follow untuk melihat visual
IG: Tantye005
Tiktok: Istri sahnya Eunwoo
__ADS_1