
Salsa membulatkan mata tak percaya melihat putranya ikut berdiri dengan suaminya, wanita itu melangkah mendekat, dan menarik Angkara agar segera duduk.
"Kara Sayang, kalau makan itu harus duduk," ucap Salsa. "Habisin susunya juga, setelah itu mandi, kita kerumah Oma berdua saja." Dia sengaja menekankan kata terakhir yang di tujukan untuk Azka.
Azka yang mendengarnya, menatap tak percaya, semarah itu? "Mama, Papa juga lapar, kok nggak di tawarin sarapan? Nanti suaminya sakit gimana?" rengeknya.
Hampir saja Salsa tertawa melihat wajah memelas Azka, tapi urung karena sadar dia sedang marah pada laki-laki itu.
Salsa mengernyit heran melihat putranya kembali turun dari kursi dan menghampiri Azka, bocah kecil itu menarik tangan Papanya.
"Ayo Papa! Kita makan sama-sama, nggak usah olahraga! Papa udah keren," puji Angkara.
Azka senyum penuh kemenangan, dia melirik istrinya yang tidak berkutik sama sekali.
Laki-laki itu memegangi perutnya. "Iya Nak, papa lapar banget," ringis Azka pura-pura.
Untung saja dia mempunyai putra yang pengertian, jadi tidak perlu berdiri lama-lama. Senyumnya semakin mengembang ketika Salsa menyiapkan susu juga roti selai kacang untuknya.
"Makan yang banyak biar puas!"
Setelah mengucapkan itu, Salsa meninggalkan meja makan. Di dapur dan sekitarnya sudah bersih, tetapi tidak ruang keluarga dimana jejak kaki mungil putranya mengusaia.
Salsa tersentak ketika sapu di tangannya di tarik oleh seseorang.
"Biar aku yang beresin Sal, kamu udah berkeringat gitu, mana belum sarapan. Makan dulu, Sayang!"
__ADS_1
Azka menyerahkan roti pada istrinya.
"Aku belum lapar, lagian belum lega sebelum rumah benar-benar bersih," jawab Salsa.
Tak ingin mendapat alasan apapun, Azka menarik Salsa agar duduk.
"Ck, makan! Aku nggak mau kamu sakit, keringat kamu lumayan banyak. Duduk dan liatin aku, kalau kurang bersih ngomong aja!"
Azka mulai melanjutnya pekerjaan Salsa, dari menyapu hingga mengepel, bukan itu saja, dia menganti semua sprei sofa dengan yang baru atas perintah sang istri.
"Di cuci?" tanya Azka di jawab anggukan oleh Salsa.
Laki-laki itu membawa semua sprei ke ruangan mesin cuci, menurunkannya dan melakukan sesuai arahan sang istri, menunggu beberapa lama seraya olahraga otot. Tak lupa Azka juga menjemurnya di tempat khusus jemuran.
Salsa mengeleng tanpa ada senyuman di wajahnya. Walau begitu, Azka tetap mengamit pinggang sang istri agar segera memasuki rumah. Matanya membulat sempurna, hembusan nafas terdengar.
Setelah dia mati-matian membereskan ruang keluarga, kini mainan kembali berserakan di atas karpet.
"Ngerti sekarang gimana lelahnya aku kalau kalian berantakin rumah?" tanya Salsa penuh dendam.
Azka mengangguk. "Aku nggak mau tau, bi Siti harus kembali ke sini!"
"Nggak perlu, aku bisa mengurus kalian sendiri, lagi pula aku tidak ada pekerjaan. Kamu sudah mengajukan libur satu semester."
"Baiklah Sayang, sudah ya ngambeknya, maaf, aku nggak bakal ngulangin lagi. Sekarang duduk, aku pesan makanan untuk kalian dulu!"
__ADS_1
Azka segera menjauhi anak dan istrinya, ke kamar untuk mengambil ponselnya, di sana ada beberapa panggilan tak terjawab dari Keenan.
Walau begitu Azka tetap pada tujuannya lebih dulu, karena takut istri dan anaknya kelaparan, berulah dia menelpon balik.
"Kenapa lo?"
"Undangan apa langsung aja nih?"
"Undangan apaan? Lo mau nikah?"
"Hm, gua ngasih tau ...."
"Enak aja, lo harus datang kerumah gue, bawa undangan sekalian ajudan, gue kan ketua lo!"
"Anjir, najis banget. Yang lain cuma di telpon doang, undangan online, lo emang benar ya."
"Ya udah sih, gue nggak bakal datang."
"Iya gue kerumah lo nanti bawa undangan beserta ajudannya!"
...****************...
...Papanya Kara cuma galak depan teman doang, cemen banget💩....
...Hayo loh buat kalian, jangan sampai nggak komen dan like, author ...🧐 Ya terserah author mau ngapain🤭...
__ADS_1