
Pelukan Azka semakin erat di tubuh Salsa. Dapat wanita beranak satu itu pastikan, bahwa suaminya sedang dalam emosi. Dia membalas pelukan Azka tak kalah erat.
"Aku ngomong gini bukan karena ngatur kamu Ka, tapi aku mau kamu kayak dulu lagi, selalu jujur apapun yang terjadi. Kunci sebuah hubungan adalah kepercayaan dan kejujuran, dan pondasinya saling keterbukaan."
"Apa gunanya seorang pasangan jika tidak bisa membantu saat dalam masalah?"
"Maaf Sal, aku terlalu larut dalam masalah yang aku hadapi, sampai nggak mikirin perasaan kamu," gumam Azka.
Salsa melerai pelukan hangat Azka, mundur selangkah, kemudian mendongak agar bisa menatap wajah sang suami.
Wanita itu mengelus rahang tegas Azka sangat lembut. "Kamu mau cerita sama aku? Setidaknya kalau aku tahu, aku bisa ngertiin kamu Ka," bujuk Salsa. Kali ini senyuman tercetak indah di wajahnya.
Bagai sihir, Azka mengangguk. "Aku bakal cerita semuanya, tapi nggak sekarang. Malam nanti ya Sayang."
Salsa ikut mengangguk. "Kamu jadi pergi? Kalau iya, aku bakal siapin bekal buat ...."
"Nggak, aku nggak bakal kemana-mana. Benar apa yang kamu katakan, harusnya aku nggak batalin apapun tentang kita karena Avegas, mungkin dulu aku bisa 24 siap untuk mereka karena belum berkeluarga, sekarang beda."
Azka mengambil ponselnya di meja, kemudian langsung menghubungi Keenan, mengabarkan bahwa dia tidak bisa hadir hari ini karena masih berada di bandung.
"Gue juga bilang apa, perempuan itu nggak mungkin suka kalau kita ngebatalin rencana gitu aja pak Ketua," ucap Keenan di sebarang telpon.
"Iya tau, nggak usah ceramah lo, mentang-merang udah ada pawang sekarang."
"Iyalah, sana lo bujuk istri lo itu. Tapi ya, tau nggak kalau semua cewek itu egois dan mau menang sendiri?"
"Urusan lo, nggak mau gue nyari masalah."
Tut
Azka langsung memutuskan sambungan telpon, dia tidak ingi menyahuti pembicaraan terakhir Keenan. Bisa-bisa dia di mutalasi oleh Salsa jika menyetujui ucapan sahabatnya.
"Keen, ngomong apa tadi?" tanya Salsa.
"Katanya semua perempuan sama aja, sama-sama cantik dan gemesin kalau lagi marah," bohong Azka.
Laki-laki itu langsung melepas baju kaos yang melekat di tubuhnya, menarik pinggang Salsa agar tubuh wanita itu menempel di tubuhnya.
"Pengen buka puasa sebelum mandi, tapi tamu kamu belum hilang," bisik Azka menyentuhkan bibirnya juga bibir Salsa.
"Sabar Ka, malam nanti bisa kok. Ini mau mandi," balas Salsa.
"Sampai pagi," bisik Azka, kemudian berlari ke kamar mandi sebelum mendapatkan jitakan dari sang istri.
***
Usai bersiap-siap, keduanya kelantai bawah dan mendapati Angkara tengah menatap dengan wajah cemberut.
__ADS_1
"Papa sama Mama kok lama banget? Tidur lagi ya?" tuduh Angkara dengan wajah masamnya.
"Papa lagi mandi nak, makanya lama," jawab Azka langsung mengendong Angkara dan mencium pipinya. "Ayo bro, kita panasanin mobil buat jalan-jalan sepuasnya sama Mama!" ajak Azka.
Sepeninggalan Azka ke garasi, Salsa segera menghampiri Mamanya.
"Mata kamu sembab kenapa?" tanya Reni.
"Nggak papa Ma, namanya juga udah nikah Kan? Mama mau ikut jalan-jalan kan sama kita?" tanya Salsa mengalihkan topik.
Wanita itu tidak ingin jika Mamanya bersedih hanya karena dirinya, lagi pula dia dan Azka hanya berdebat karena selisih paham.
"Kamu aja, Mama lagi ada kerjaan mendadak."
"Yah, padahal Salsa bela-belain ke Bandung pengen liburan sama Mama, kangen sama Mama," cemberut gadis berusia 23 tahun itu.
"Kan udah kangen-kangennya nak, habisin waktu kamu sama anak dan suamimu," pinta Reni dengan senyuman.
Karena tak ingin memaksa mamanya dan mungkin benar ada pekerjaan, akhirnya Salsa menyusul Azka.
Dia tersenyum melihat Angkara berada di pangkuan Azka sedang memutar-mutar setir kemudi.
"Ayo Mama kita berangkat!" ajak Angkara dengan sedikit teriakan.
"Semangat banget anak Mama." Salsa mengecup pipi Angkara setelah berada di dalam mobil. "Kita mau kemana Papa?" tanya Salsa.
"Mama mana?" lanjutnya.
"Ada urusan katanya, jadi nggak bisa ikut," sahut Salsa seraya memasang seatbelt.
Ketika Azka hendak menjalankan mobil, Salsa ingin mengambil Angkara di pangkuan laki-laki itu. Namun, Azka tidak membiarkan.
"Aku bisa Sal, nggak papa," ucap Azka.
Lama berkendara, akhirnya mereka sampai di pusat bermain, kali ini bukan pusat bermain yang ada di mal-mal ternama, melainkan wisata yang baru saja buka.
Baru saja turun dari mobil, Angkara sudah berlarian karena melihat suasa sangat ramai. Untuk pertama kalinya, bocah kecil itu bisa berkeliaran di lingkugan sederhana seperti ini, biasanya jika liburan, pasti ketempat-tempat mewah bersama Oma dan Opanya.
"Mama, Kara mau itu," tunjuk Angkara pada penjual gulali. Bocah kecil itu melompat-lompat seraya menarik tangan mamanya.
Salsa mengeleng seraya mengoyangkan jari telunjuknya. "Kara lupa kata Nenek?"
"Nggak."
"Kata Nenek, apa?" tanya Salsa.
"Kara kalau mau di puji ganteng sama Nenek, giginya nggak boleh berlubang. Kalau gigi Kara nggak mau berlubang, nggak boleh makan es krim, sama permen. Tapi Mama, itu bukan permen, kalau permen kan keras," jelas Angkara dengan wajah polosnya yang membuat Azka sangat gemas.
__ADS_1
"Anak papa, makin hari makin pintar, hm?" gemes Azka. "Kali ini kita turutin perintah Mama."
"Kenapa, Papa?"
"Karena Mama lagi mode macan, dikit-dikit marah," bisik Azka tanpa di dengar oleh Salsa.
Angkara menutup mulutnya karena merasa lucu, bocah kecil itu melirik mamanya sesekali. "Iya, Papa," balas Angkara berbisik pula.
"Ekhem, lagi ngomongin siapa?" selidik Salsa.
"Lagi ngomongin Mama, kata Papa ...."
"Bocil!" Azka langsung membap mulut putranya, dia lupa bahwa Angkara anak pintar dan tidak suka berbohong, jika tidak di tanya, dia bisa menjaga rahasia, lain cerita jika seseorang bertanya.
"Awas yang kalian, Mama pulang kalian nggak ada yang bayarin," ancam Salsa.
"Papa punya ...." Kalimat Azka berhenti ketika menyadari dompet di saku celananya menghilang.
"Ck, kita nggak bisa ngapa-ngapain tanpa Mama," decak Azka ketika istrinya sudah berlari dengan membawa dompetnya.
Laki-laki itu langsung mengendong Angkara, berlari dengan kaki panjangnya untuk menyusul sang istri.
Langkah Salsa tiba-tiba berhenti di persimpangan jalan yang ada di pusat keramaian, hingga beberapa orang menabrak punggungnya, sangat di untungkan Azka cepat datang dan mengamit pinggang sang istri.
"Kenapa berhenti?"
"Itu tadi, aku nggak sengaja liat orang mirip Giani Ka," jawab Salsa tanpa mengalihkan pandangannya.
"Giani?" ulang Azka.
"Iya, tadi aku liat dia kearah sana, tapi sekarang nggak ada. Ayo kita kejar Ka, siapa tau dia butuh bantuan, wajahnya lebam-lebam," lirih Salsa.
Azka terdiam, dia melirik sekitar mencoba memastikan, bahwa tempat ini tidak di kepung oleh siapapun. Pelukannya semakin erat pada pinggang Salsa.
"Nggak mungkinlah Giani ada di tempat ini, kamu salah liat kali." Azka mencoba mengalihkan perhatian Salsa.
"Aku kurang suka tempat ini Sal, kita ke Mall aja, lebih aman."
...****************...
Ritual setelah membaca, kuy tebar kembang yang banyak biar wangi. Jangan lupa juga tekan tombol vote, like, fav dan ramaikan kolom komentar. Jika kalian sayang sama otor jangan lupa nonton iklan setelah baca ya, iklannya bisa di lihat di bar pemberian hadiahπ₯°πππππππΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Follow untuk melihat visual
IG: Tantye005
Tiktok: Istri sahnya Eunwoo
__ADS_1