Kembalinya Suamiku

Kembalinya Suamiku
Part 59 - Kembalinya Suamiku


__ADS_3

Baru beberapa menit sampai di rumah setelah perjalanan jauh, Azka sudah pamit pada sang istri untuk menemui teman-temannya.


Entah laki-laki itu tidak lelah atau memang ingin menyelesaikan semua urusannya secepat mungkin, hingga sangat terburu-buru.


"Nggak makan dulu, Ka?" tanya Salsa.


"Masih kenyang, nanti aja. Jangan keluar rumah kalau lagi sendiri. Misalnya mau sesuatu pesan online aja, atau langsung telpon ya!" Salsa mengangguk sebagai jawaban.


"Hati-hati, jangan ngebut-ngebut, dengerin saran teman-teman kamu jangan ngegabah."


"Iya Mamanya Kara, aku pergi dulu. Janji nggak pulang larut, kalau telat aku langsung telpon."


"Iya, dah." Salsa melambaikan tangannya ketika Azka mulai menyalakan mesin motor.


Setelah kepergian Azka, wanita cantik itu segera menutup pintu dan menguncinya, takut Angkara bosan di dalam rumah dan malah berkeliaran. Sekarang Salsa lebih waspada setelah mendengar cerita keseluruhan dari sang suami.


"Mama, Papa kok pergi lagi?" tanya Angkara.


Bocah kecil itu sedang membawa bola di tangannya.


"Padahal Kara mau main bola sama Papa."


"Papa ada urusan sebentar Nak, main yang lain dulu ya," bujuk Salsa dan di balas anggukan oleh sikecil.


***


Tak butuh waktu lama untuk Azka sampai di markas. Laki-laki itu langsung mendudukkan diri di sofa bergabung dengan yang lainnya. Lelah, tentu saja dia lelah, tapi Avegas masih tanggung jawabnya, terlebih ada nyawa yang sedang terancam sekarang.


"Plinplan banget lo pak Ketu, katanya minggu depan, eh tiba-tiba ada kabar udah di kota aja," celetuk Ricky.


Azka tak menjawab, dia masih mengatur napasnya, bahkan air meneral di atas meja tanda dia minum sakin hausnya. Berkendara di atas kecepatan rata-rata lumayan menguras tenaga Azka.


"Gue curiga Riko ada di Bandung setelah Salsa liat orang yang mirip Giani, dan takutnya dia tau kalau Giani perempuan yang di sukai Rayhan," ucap Azka setelah terdiam beberapa menit.


Memang dulu mereka tenang-tenang saja karena Riko belum tahu siapa Giani sebenarnya, tapi sepertinya latar belakang Giani yang termasuk dekat dengan salah satu Inti Avegas mulai terdengar ketelinga Riko.


"Berarti benar dugaan gue, Riko ada di Bandung," ucap Ricky.


Itulah yang akan di sampaikan oleh Ricky kemarin, tetapi tertunda karena Azka tidak hadir.


"Terus lokasi yang di kota itu gimana?" heran Dito. "Gue sempat lacak keberadaan Riko lewat no yang di kirim Azka, dan lokasinya ada di kota ini."


"Fiks, Riko ngecoh kita biar nggak ketahuan," sahut Rayhan dengan tangan terkepal.


Ricky langsung mengeluarkan laptopnya, dan memperlihatkan pada semua inti Avegas apa yang dia dapatkan belakangan ini.

__ADS_1


"Benar kata Samuel, setelah kita lepasin Jery malam itu, dia ngunjungin Riko. Ini ...." Ricky menunjuk layar di mana terdapat titik merah sebagai tanda lokasi yang di kunjungi Jery akhir-akhir ini.


"Ada tiga, yang benar yang mana?" tanya Keenan.


"Berpencar," ucap Samuel. "Gue takut Giani sekarang dalam bahaya. Ada tiga lokasi, kita bagi tiga tim."


"Setuju," sahut yang lainnya.


Samuel mengambil kertas dan pulpen, kemudian mencatat sesuatu yang dirinya sendiri mengerti.


"Titik satu, Jery kunjungi sebanyak 4x minggu ini." Samuel melingkari satu titik yang dia gambar. "Titik dua, 2x dan titik tiga, 7x."


"Gue yakin Riko ada si sini." Azka menunjuk titik ke 2."


"Lo yakin?" tanya Rayhan.


"Gue sependapat sama Azka, tempat yang benar-benar di sembunyikan tidak akan di kunjungi dalam waktu berturut-turut. Mungkin salah satunya tempat tinggal Jery, secara selama ini dia nggak tau kalau alasan kita bebasin dia, hanya sebagai umpan."


Semuanya mengangguk mengerti. "Gue bakal ke titik 2," putus Rayhan.


"Gue bareng Rayhan," timpal Azka.


Setelah berduskusi cukup lama, akhirnya keputusan Final. Azka dan Rayhan akan ke titik dua, Keenan dan Ricky akan ke titik 3, dan Samuel juga Dito ke titik satu.


Avegas bisa melumpuhkan musuh dengan mudah jika menyerang dengan kegelapan.


Sebelum berangkat, Azka pulang lebih dulu kerumah untuk bertemu sang istri, tidak mungkin dia pergi tanpa berpamitan.


***


"Papa!" teriak Angkara, berlari untuk menyambut kedatangan Azka.


Seperti tak mengenal lelah, laki-laki itu langsung merentangkan tangannya dengan senyuman. Mengendong putra kecilnya.


"Mama, mana bro?" tanya Azka.


"Mama di dapur Papa. Papa dari mana?" tanya Angkara mengalungkan lengannya di leher Azka.


Sementara Azka terus berjalan menuju dapur untuk menemui sang istri, senyumnya mengembang melihat Salsa sibuk memasak bersama asisten rumah tangannya.


Langkah lebar Azka semakin dekat, kepalanya sedikit maju untuk mengecup pipi Salsa tanpa ada rasa malu di hadapan pembantu juga anaknya.


"Serius banget," gumam Azka mengulum senyum.


Salsa yang tiba-tiba mendapat ciuman di pipi tentu saja terkejut, dia berbalik dengan wajah di tekuk. "Malu ih di liatin bi Siti," gumam Salsa.

__ADS_1


Mata wanita itu semakin membulat ketika Angkara juga mencium pipinya.


"Papa yang kiri, Kara yang kanan, yey!" Sorak Angkara girang membuat Salsa tertawa.


Kedua laki-laki berbeda generasi itu duduk di meja makan, mereka menunggu makan malam siap seraya memperhatikan Salsa di dapur.


"Makanan sudah datang!" Seru Salsa meletakkan beberapa lauk juga sayur di meja, tentu saja dengan bantuan bi Siti.


"Kara mau ayam itu." Tunjuk Angkara pada ayam geprek di depan Azka.


"No ... no ... no." Salsa mengoyang-goyangkan tangannya tanda larangan. "Anak mama nggak boleh makan yang pedas-pedas, itu buat Papa. Yang ini baru buat Kara." Dia memberikan ayam kecap pada bocah kecil itu.


"Bi, ayo makan!" Ajak Salsa, tetapi Bi Siti menolak dengan senyuman.


"Saya masih kenyang Neng. Saya kedepan sebentar," pamit Bi Siti tak ingin mengganggu momen romantis tuan rumah.


***


Setelah makan malam dan bermain sebentar dengan Angkara. Azka mulai meminta izin pada sang istri untuk kembali ke Bandung.


"Harus banget malam ini Ka? Kamu nggak lelah?" tanya Salsa.


"Lebih cepat lebih baik Sal, kasian Giani kalau terus-terus di siksa sama suaminya, terlebih sekarang Riko kayaknya tau kalau Rayhan suka sama Giani."


Hembusan napas panjang terdengar keluar dari hidung Salsa, sekarang dia khawatir karena suaminya akan pergi di malam hari, terlebih untuk sebuah misi menyelamatnya yang tentu saja berbahaya.


Tapi di sisi lain dia tidak ingin egois dan kasian pada Giani.


"Hati-hati kalau gitu Ka, ingat, jangan bertindak sendiri." Salsa mengelus rahang tegas Azka.


"Jika kamu dalam keadaan emosi dan akan menyerah karena sesuatu. Ingat ini. Ada aku dan Angkara yang menunggu kepulangan kamu dengan selamat," gumam Salsa.


Azka tersenyum. "Nggak akan ada yang terjadi Sal, aku janji akan kembali untuk kalian berdua, cuma Wiltar."


"Cuma? Tapi mereka berhasil buat kamu koma bertahun-tahun dulu, jangan biarkan itu terjadi lagi."


...****************...


Ritual setelah membaca, kuy tebar kembang yang banyak biar wangi. Jangan lupa juga tekan tombol vote, like, fav dan ramaikan kolom komentar. Jika kalian sayang sama otor jangan lupa nonton iklan setelah baca ya, iklannya bisa di lihat di bar pemberian hadiahπŸ₯°πŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉ


Follow untuk melihat visual


IG: Tantye005


Tiktok: Istri sahnya Eunwoo

__ADS_1


__ADS_2