
Sesekali Salsa melirik ponselnya, dia mengajak Azka bertemu untuk makan siang, tapi laki-laki itu mengatakan akan menghubunginya setelah kelas selesai.
Bibir Salsa semakin manyung ketika mendapat pesan dari sang suami.
Azka: Aku lanjut kelas baru Sal, makan siang duluan aja!
Salsa: Ya udah, aku tunggu di kantin๐
Azka: ๐น
Senyum Salsa mengembang sempurna. Pipinya terasa panas padahal Azka hanya mengirim emot bunga.
"Ih kok gemes," gumamnya.
"Sal, kantin yuk!" ajak Riko.
Salsa langsung menoleh. "Duluan aja Ko, aku mau ke kelas dulu," tolak Salsa halus. Tidak mungkin dia ke kantin bersama Riko, bagaimana jika Azka mengetahuinya? Baik-baik kalau cuma marah dan tidak memukul Riko.
Salsa berjalan di pinggir lapangan menuju kelasnya, duduk di bangku pojok seperti biasa. Dia akan kekantin jika di rasa sudah sepi.
Fokus dengan catatan di hadapannya, Salsa tidak menyadari kedatangan seseorang. Dia mendongak ketika seseorang menarik buku di hadapannya, hingga terjadi coretan.
Marah? Tantu saja Salsa sangat marah, dia susah payah mencatat dan merangkum materi sebagai tugas, tapi seseorang mengacaukannnya begitu saja.
"Kenapa, marah?" tanya gadis cantik dengan rambut lumayan panjang, dia tidak sendiri, dia bersama dua teman lainnya.
"Sangat!" jawab Salsa. "Saya tidak punya urusan sama kalian, kenalpun tidak," kesal Salsa. Dia merebut kembali buku di tangan gadis itu.
Baru saja Salsa kembali duduk, kursi di tarik oleh teman si gadis. "Eits, jangan duduk dulu!" cegah salah satunya.
"Mau kalian apa sebenarnya, hah?"
Bukannya menjawab, gadis itu menarik dagu Salsa. Gadis itu memang lebih tinggi darinya.
"Nggak cantik-cantik amat, kenapa Azka bisa suka sama kamu?"
Salsa menghempaskan tangan gadis itu kasar. "Saya tidak tahu, dan itu bukan urusan kalian!"
"Positif thingking aja Wi, mungkin Azka kasian sama dia," sindir gadis lainnya.
Ketiga gadis itu berasal dari fakultas manajemen, sengaja membuang waktu ke fakultas kedokteran hanya untuk melabrak dan melihat dengan jelas wajah perempuan yang selalu bersama Azka.
"Mau dia kasian atau tidak sama saya, itu bukan urusan kalian!" ucap Salsa berusaha tetap tenang.
Ketiga perempuan itu salah mengira jika dia mudah di tindas, mungkin wajahnya memang terlihat ramah, tapi tidak jika di tindas.
"Sebenarnya kamu siapa? Ayah kamu siapa dan kamu tinggal di mana hah? Berani-beraninya kamu natap saya seperti itu!" geram Dewi, dia adalah kakak tingkat Azka, bahkan saat masa orientasi siswa, dia menjadi pembimbing Azka.
Salsa menyeringai. "Nama saya Salsa, ayah saya suda meninggal, ibu saya dokter. Apa kamu kurang puas dengan jawaban saya?"
__ADS_1
"Cuma anak dokter kok belagu."
"Saya menantu dari Tuan Ans Wijaya, Pengusaha yang bergerak di bidang batu bara danPengacara Nonya Tari yang firmanya di kenal banyak orang. Satu lagi, saya ibu dari anak Azka Afrizal Wijaya! Apa masih kurang?" Salsa senyum mengejek ketika Dewi dan teman-temannya terdiam.
Salsa merapikan tas juga bukunya, lalu menepuk pundak Dewi pelan. "Kalau mau jadi pelakor jangan labrak istri sahnya, tapi goda suaminya. Itupun kalau berhasil," bisik Salsa.
Setelah mengatakan itu, Salsa langsung pergi. Sekarang dia malu pada dirinya, mengingat apa yang dia katakan pada Dewi dan teman-temannya tadi. Ah dia sangat gila karena begitu bangga memperkenalkan diri sebagai menantu Ans dan Tari.
"Bodoh, malunya sampai wisuda," gumam Salsa memukul-mukul kepalanya dengan buku.
Suara notifikasi terdengar di saku celana jeansnya, dia memeriksa dan ternyata pesan dari sang suami.
Azka: Masih di kantin? aku kesana sekarang
Salsa: Udah kelasnya?
Azka: Udh
Salsa: Dih malas banget ngetiknya, aku di dekat kelas kamu, biar aku yang samperin
Azka: Lima menit, kalau nggak datang aku susul
Azka meletakkan ponselnya di meja setelah membalas pesan dari sang istri, sebenarnya dia sudah melihat Salsa di pinggir lapangan sedang berjalan kearah kelasnya.
Seraya menunggu Salsa, Azka mengeluarkan bungkus rokok berwarna putih dan sedikit bercak merah, mengambil satu batang dan mengapit di antara jari tengah juga jari tulunjuknya.
Baru saja akan menyalakan korek, suara Salsa sudah terdengar.
Wanita itu berjalan mendekat, merebut sebatang rokok di tangan Azka, kemudian meremasnya hingga menjadi dua bagian.
"Sal!"
"Ini kampus kalau kamu lupa, di sana juga ada tulisan No Smoking." Tunjuk Salsa pada dinding kelas.
"Lagian aku udah pernah larang kamu biar nggak ngerokok, masih aja ngerokok. Harusnya kamu sayang jantung Azka," omel Salsa, melempar patahan rokok itu ke tempat sampah, lalu duduk di samping sang suami.
"Mana yang lainnnya?" Salsa menengadahkan tangan, meminta benda yang lainnya.
"Nanti aku buang sendiri."
"Ck, mana cepat Azka." Hari ini emosi Salsa benar-benar di uji, tidak Azka tidak Dewi membuatnya kesal.
Dengan terpaksa, Azka menyerahkan bungkus rokok juga koreknya pada Salsa. Kali ini dia benar-benar kecolongan, biasanya Salsa tidak tahu bahwa dia merokok, karena setelah merokok Azka akan menyikat gigi terlebih dahulu sebelum bertemu sang istri.
"Satu rokok aku habisinnya 5 menit, satu bungkus jumlahnya 16 batang. 5 kali 16 sama dengan 1 jam 20 menit," ucap Azka dengan mimik wajah datarnya.
"Huh?" bingung Salsa.
"Mau di cicil apa cash?"
__ADS_1
"Maksud kamu apa Azka?" tanya Salsa balik.
"Kalau milih nyicil pastilah ada bunganya, jadi aku genapin 1 jam 30 menit."
"Aku nggak ngerti."
Azka tersenyum, mengelus rambut Salsa sangat lembut. "Kamu nggak ngizinin aku ngerokok, jadi aku minta gantinya ciuman."
Mata Salsa terbelalak, yang benar saja, suaminya memang gila.
"Gimana sayang?"
Salsa mengeleng.
"Yaudah."
"Iya!" tegas Salsa saat Azka mengambil bungkus rokok di tangannya. "Nyicil tapi."
"Gitu dong."
"Giti ...."
"Ssstttt." Azka langsung menutup mulut Salsa dengan jarinya. "Nggak boleh cibirin suami, dosa!"
Azka menarik tangan Salsa. "Ayo makan!"
Salsa mengeleng. "Aku mau cerita dulu. Tadi ada yang labrak aku, kayaknya dia kakak tingkat kamu Ka," curhat Salsa.
"Labrak? Karena apa?" heran Azka, dia kembali duduk, lebih memilih mendengarkan curhatan hati seorang istri.
Azka dengan setia dengarkan curhatan Salsa, terus menatap sang istri, bahkan meneliti cara bicara wanita itu.
"Cerewet banget," batin Azka. Dia menumpu kepalanya di meja, seraya menatap istrinya sangat dalam.
"Aku ngomong, kalau dia mau jadi pelakor, ya godain kamu, jangan labrak aku. Tapi kok aku takut kamu tergoda ya Ka?" Salsa melirik Azka, dan baru sadar laki-laki itu sedang menatapnya.
"Kenapa sayang?"
Salsa mengalihkan tatapannya, salting sendiri di tatap sedalam itu oleh Azka. "Nggak papa."
"Pelet sakalipun nggak bakal bisa ngalihin hati aku dari kamu Sal. Hanya maut yang bisa memisahkan kita berdua, aku janji itu. Bahkan jika kamu yang memilih pergi, aku nggak bakal biarin, kamu lebih baik nggak ada dari pada harus hidup sama yang lain, selain aku."
"Dih, Obsesi."
...****************...
Ritual setelah membaca, kuy tebar kembang yang banyak biar wangi. Jangan lupa juga tekan tombol vote, like, fav dan ramaikan kolom komentar. Jika kalian sayang sama otor jangan lupa nonton iklan setelah baca ya, iklannya bisa di lihat di bar pemberian hadiah๐ฅฐ๐๐๐๐๐๐๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
Follow untuk melihat visual
__ADS_1
IG: Tantye005
Tiktok: Istri sahnya Eunwoo