Kembalinya Suamiku

Kembalinya Suamiku
Part 39 -Kembalinya Suamiku


__ADS_3

"Eh."


Salsa terkejut ketika Azka tiba-tiba datang dan tidur di pangkuannya. Refleks dia mengelus rambut suaminya.


"Udah pulang ternyata, Kara mana?"


"Udah tidur Sal, lelah banget. Kara aktifnya kebangetan, selama ini dia gitu, apa sama aku aja? Semoga sama aku aja, nggak kebayang repotnya kamu." Azka merubah posisinya, memeluk pinggang sang istri.


Dia baru saja memenuhi keinginan putranya untuk keluar jalan-jalan sekalian beli cemilan, karena pulang hampir larut, Azka sekalian menemani Angkara tidur.


"Udah biasa Ka, tapi kalau ngeyelnya cuma sama kamu," sahut Salsa. "Oh iya, sebelum tidur, Kara udah sikat gigi sama cuci kaki dan tangan kan?" tanyanya memastikan.


"Udah Yang, aku kan papa siaga."


"Iya deh papa siaga," gumam Salsa.


Wanita itu terkejut ketika tubuhnya tertarik hingga tidur telentang. Lebih tekejutnya lagi saat Azka kini menindihnya.


"Ma-masih jam sembilan," lirih Salsa.


Pletak


Salsa mengelus keningnya yang baru saja terkena sentilan. "Jadi penasaran sama isi otak kamu Sal." Azka menaikkan salah satu alisnya.


Azka membaringkan tubuhnya di samping Salsa, menarik kepala sang istri agar tidur di lengannya.


"Mami baru aja ngirim contoh undangan, menurut kamu cantik ya mana?"


Seraya menunggu Salsa memilih model undangan di ponselnya, Azka memainkan rambut sang istri, bahkan sesekali menghirup aroma wanginya.


"Milihnya jangan asal, resepsi cuma sekali seumur hidup, jadi harus berkesan dan mewah. Aku nggak mau resepsi kita ada kekurangan sedikitpun, baik itu undangan."


"Iya Sayang, tau. Ini lagi milih," balas Salsa.


"Ka, cantik yang putih nggak? Kesannya sederhana tapi mewah gitu, sekalian sesuai warna dekor resepsi putih kan?"


Azka sedikit berfikir, ikut memilih. Jika di lihat-lihat memang yang warna putih paling cantik.


"Iya, mau yang ini? Jangan plin-plan! Setelah di kirim ke Mami, bakal di cetak. Waktu makin dekat."


"Fiks aku pilih itu, kalau kamu setuju kirim aja ke Mami!"


Azka mengangguk, segera mengirim model undangan pilihannya yang sama seperti warna dekorasi mereka nanti.


"Nama-nama udah kamu kirim ke aku?"


"Udah Ka, lumayan banyak, nggak papa kan?"


Azka mengeleng. "Mau ngundang satu planetpun, uang aku masih cukup."


"Dih sombong, padahal ngadain pesta uang dari Papi sama Mami. Kamu mana ada, cuma nyumbang ide doang," cibir Salsa.

__ADS_1


Sebenarnya Azka ingin membiayai resepsinya sendiri. Namun orang tuanya tidak membiarkan.


"Sal."


"Iya sayangku, kenapa?" sahut Salsa, wanita itu langsung meletakkan ponsel Azka, kemudian memeluk sang suami sangat erat, menumpu dagunya di lengan Azka hingga dia bisa menatap wajah laki-laki itu dari bawah.


Satu kata untuk suaminya. Tampan.


"Kamu mau nemenin aku dari nol kan?" tanya Azka tiba-tiba."


"Nggak mau," balas Salsa cepat di sertai gelengan kepala.


"Kalau aku mulai dari nol, gunanya orang tua kamu selama ini apa Ka? Aku siapanya kamu yang bakal nemenin kamu dari nol? Sekarang kamu udah punya segalanya. Aku ibarat seseorang yang menemukan kamu di tengah jalan, jadi nggak mungkin bisa nemein kamu dari nol lagi." Salsa tersenyum.


"Tapi percayalah, aku bakal nemenin kamu sampai akhir, suamiku."


"Ekhem." Azka berdehem, sedikit salah tingkah karena perkataan Salsa. Ibu dari anaknya itu selalu mampu meluluh lantakkan hatinya hingga kedasar paling dalam.


"Mau main atau nyicil utang?" tanya Azka mengalihkan topik.


"Main? Nyicil?" beo Salsa, belum mengerti arah pembicaraan Azka.


Atensi keduanya teralihkan pada pintu yang berdecit. Salsa refleks mendorong tubuh Azka yang kini berada di atasnya entah sejak kapan.


"Ka-kara? Belum tidur nak?" gugup Salsa.


"Belum Mama. Kara mau tidur sama Mama," jawabnya.


"Gini amat punya ekor," gumam Azka, turun dari ranjang untuk menutup pintu kamar. Menyusul berbaring di samping Salsa.


"Papa juga pengen meluk Mama," balas Azka.


"Tapi Kara mau tidur sama Papa!"


"Tapi Papa ...."


"Azka, udah! Ngalah sama anak sendiri nggak ada salahnya!"


Azka menghembuskan nafas kasar, sepertinya sikap pemaksa dan arogannya tidak akan berlaku di hadapan Angkara.


"Azka, ayo peluk Kara!"


Mata Salsa terbebelak begitupun dengan Azka. Mereka berdua tidak menyangka Angkara akan memanggil Azka dengan sebutan nama.


"Kara, nggak boleh manggil nama Sayang, dosa!" peringatan Salsa.


"Tapi Mama tadi manggil Papa juga gitu, masa Kara nggak boleh. Papa juga sering manggil Mama Salsa," protesnya.


Azka menepuk keningnya, sepertinya dia harus ekstra hati-hati di hadapan Kara.


"Mama sama Kara bobok gih! Udah tengah malam."

__ADS_1


"Iya Papa," sahut Salsa.


Demi apapun, keduanya merasa geli sendiri jika harus mengganti nama panggilan Mama Papa.


***


Pagi harinya, setelah sarapan bersama seperti biasa, Salsa mengantar putra dan suaminya hingga di depan rumah. Kali ini dia tidak berangkat bersama karena jadwal yang sangat berbeda.


"Hati-hati Papa, ngantar anaknya," ucap Salsa mencium punggu tangan Azka, lalu mengecup pipi putranya.


Walau merasa sedikit geli memanggil Azka Papa, tapi dia harus melakukannya, setidaknya di depan Angkara.


"Aku jemput jam berapa?" tanya Azka.


"Nggak udah di jemput segala Ka, aku naik mobil. Kasian kamunya bolak-balik mulu, mana jauh lagi."


"Berangkatnya hati-hati tapi. Oh iya, mungkin aku agak telat pulang, mau kerumah Mami siang nanti ngambil undangan, sekalian bagiin ke teman-teman."


Salsa mengangguk mengerti. Dia melambaikan tangannya sebagai pengantar kepergian sang suami. Azka kali ini naik motor bersama Angkara.


Tak tahu harus melakukan apa lagi, Salsa memutuskan untuk mengerjakan tugasnya sebelum berangkat kuliah nanti.


***


"Belajar yang rajin jagoannya Papa, biar besar nanti kayak Papa ya." Azka mengacak-acak rambut Angkara. Merasa bangga setiap menatap wajah tampan di hadapannya.


Bangga karena bibitnya sangat ungul hingga menghasilkan putra yang begitu tampan, mewarisi kecerdasannya, Azka yakin itu. Namun, sikapnya, entalah, dia belum bisa menerawang jauh.


Dulu sebelum berubah dingin dan cuek, dia juga seperti Angkara, ceria dan suka bergaul dengan banyak orang, tapi semuanya berubah sejak kejadian di masa sekolah, dimana dia harus merasakan perlakuan di luar batas wajar dari Papinya sendiri.


Akan Azka pastikan, Angkara tidak akan merasakan hal yang pernah dia rasakan dahulu. Azka akan memberi kebebasan pada putranya untuk melakukan apapun, selama semuanya hal-hal positif. Tidak akan mengekan Angkara harus selalu menjadi juara seperti dirinya dulu.


Cukup, dia saja yang merasakannya, tidak untuk putranya.


"Kara kalau besar nanti bakal jadi kesayangan semua orang Papa," sahut Angkara menyadarkan Azka dari lamunannya.


"Harus dong, sana masuk nak! Nanti di jemput sama Mama ya!"


Angkara mengangguk, memperbaiki tali ranselnya sebelum memasuki halaman sekolahnya.


"Aku nggak salah milih kamu Sal," gumam Azka.


...****************...


Ritual setelah membaca, kuy tebar kembang yang banyak biar wangi. Jangan lupa juga tekan tombol vote, like, fav dan ramaikan kolom komentar. Jika kalian sayang sama otor jangan lupa nonton iklan setelah baca ya, iklannya bisa di lihat di bar pemberian hadiahπŸ₯°πŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉ


Follow untuk melihat visual


IG: Tantye005


Tiktok: Istri sahnya Eunwoo

__ADS_1


Papanya Siapa sih?



__ADS_2