
Azka dan Salsa pulang dengan selamat di antar Keenan yang kebetulan naik mobil.
Salsa sangat beruntung karena Keenan datang tepat waktu untuk membantu Azka, kalau tidak entah apa yang terjadi selanjutnya.
Wiltar sangat menyeramkan, karena selalu membawa senjata jika menyerang, tidak seperti Avegas yang selalu bermain bersih.
Air mata Salsa tak hanti-hentinya menestes karena melihat luka di tangan Azka. Untung saja Angkara sedang tidak ada dirumah, atau dia akan mendapat berbagai pertanyaan.
Tentang kenapa Azka terluka, kenapa dia menangis, apakah luka itu sakit?
"Berhenti nangis Sal!" tegur Azka.
"Gimana aku nggak nangis Azka, kalau kamu luka gini," jawab Salsa sesegukan.
Dia dengan telaten membersihkan darah di tangan Azka hingga bersih, kemudian mengoleskan obat merah dan membalutnya kain kasa.
"Sakit?" tanya Salsa karena sedari tadi Azka memperlihatkan wajah datar seperti biasa.
Dia tidak mendapatkan raut kesakitan di wajah suaminya.
"Pertanyaan bodoh," gumam Azka. "Nggak usah ngobatin kalau kamu nangis mulu, bukannya lebih baik malah makin kacau," ketus Azka.
Lelaki itu tak suka Salsa yang cengeng. Hanya luka kecil tetapi wanita di hadapanya sangat berlebihan.
"Kok kamu ngomongnya gitu? Aku takut. Kamu nggak tau gimana perasaan aku liat kamu terluka. Kamu nggak bakal ngerti rasanya."
Azka menghembuskan nafas panjang, mengulurkan tangannya untuk mengapus air mata Salsa. "Maaf, berhenti menangis. Air mata kamu terbuang sia-sia menangisi luka. Mau nangis sampai malam pun, nggak ada yang bakal berubah, tangan aku akan tetap terluka," ucap Azka. Kali ini suaranya sedikit melembut di banding tadi.
"Tapi nangis buat perasan aku lega."
***
Karena tak bisa berbuat apa-apa dengan sebelah tangan, apa lagi yang terluka tangan kanan. Salsa tak pernah meninggalkan Azka sendirian.
Membantu menganti baju, menyuapi makan, Salsa melakukkannya dengan senang hati.
"Ternyata lengan kamu juga luka ...."
"Udah lah Sal, jangan bahas luka lagi."
Salsa terdiam, tak ingin memancing keribuan lagi.
"Salsa."
Salsa menoleh untuk menatap Azka.
"Kamu berhasil."
"Behasil?" ulang Salsa tidak mengerti.
__ADS_1
Bukannya memperjelas, Azka malah mengacak-acak rambut Salsa seraya tersenyum.
"Telpon Kara, aku kangen sama dia!"
Salsa mangangguk, mengambil ponselnya di atas nakas. Tak lupa dia memperbaiki posisi duduknya, bersandar pada dada bidang Azka.
Darah wanita itu berdesir ketika benda kenyal menyentuh keningnya. Ini yang pertama Azka mengecup kening Salsa setelah kembali.
"Azka kamu baru aja?"
"Sudah aku katakan, kamu berhasil," ucap Azka sekali lagi.
Salsa menutup mulutnya tak percaya, sakin senangnya dia melupakan apa tujuannya tadi mengambil ponsel. Jika tadi air mata kesedihan, kali ini adalah air mata kebahagian.
"Kamu jatuh cinta sama aku Ka?" Salsa masih tidak percaya.
"Hm."
Tanpa memikirkan malu, Salsa langsung menyambar bibir Azka, mengerakkan lidahnya untuk memancing sang suami. Semuanya bersambut, ketika Azka membalas pangutannya.
Dengan sebelah tangan, Azka memegang pinggang Salsa yang kini posisinya berada di pangkuannya.
Rasa rindu yang selama ini terpatri di hati Salsa tersalurkan semuanya lewat ciuman itu. Salsa melerai, melingkarkan tangannya di lehar sang suami.
"Aku mencitaimu Azka, sangat. Sampai rasanya aku ingin mati saat kamu ninggalin aku dulu. Makasih, udah beri aku kesempatan kali ini."
"Maaf, karena belum bisa ingat semuanya," sesal Azka.
"Aku mencintaimu istriku."
***
Suara gedoran pintu di pagi hari berhasil membangungkan sepasang suami istri yang tengah berpelukan hangat layaknya pengantin baru.
Salsa mengeliat dalam pelukan Azka. Dia langsung tersenyum ketika mengingat kejadian semalam. Azka menyatakan cinta untuknya.
"Selamat pagi suamiku," sapa Salsa langsung mengecup pipi Azka sebelum bangun.
Dapat di pastikan, orang yang tengah mengedor pintu adalah putranya.
Tebakannya benar, di balik pintu Angkara tengah berdiri dengan wajah cemberut.
"Kenapa Mama kunci pintu kamal? Biasanya nggak," protes Angkara bersedekap dada.
"Masa sih nak? Oh mungkin Papa yang kunci." Seperti biasa, Salsa mengecup pipi putranya. "Anak Mama udah wangi, di antar sama siapa kesini, Sayang?"
"Sama Nenek," jawab Angkara. "Nenek masih ada di bawah nungguin Mama."
"Mama kebawah dulu kalau gitu. Kara jangan gangguin Papa ya! Papa lagi sakit," titah Salsa sebelum meninggalkan Angkara di kamarnya.
__ADS_1
Bocah kecil itu sering kali menganggu Azka saat bekerja atau sedang tidur, untungnya Azka tidak pernah emosi jika di ganggu oleh Angkara.
Salsa langsung mencium punggung tangan Reni ketika sampai di ruang tamu.
"Udah lama Ma? Maaf Salsa baru bangun."
"Nggak kok, Sayang. Mama baru aja datang, gimana hubungan kamu sama Azka, baik-baik aja kan? Dia ada ingat sesuatu belakangan ini?"
Salsa mengeleng. "Nggak ada perkembangan apapun Ma, apa Mama nggak punya solusi?"
"Mama lagi berusaha nak, dan Mama juga merasa aneh kenapa Azka hilang ingatan sepenuhnya sampai potongan-potongan kenangan sedikit aja nggak ada."
Kedua wanita berbeda generasi itu menghembuskan nafas secara bersamaan.
"Hubungan kalian baik-baik aja kan?"
"Baik Ma, sangat baik. Azka mau nerima aku seperti dulu walau belum ingat. Katanya kalau benar ingatannya nggak bisa balik, dia bakal mencintai aku dengan caranya yang sekarang."
"Syukurlah, Mama lega dengar hubungan kalian baik-baik aja. Semoga setelah ini hanya kebahagian yang kamu dapatkan nak, sudah cukup kamu menderita selama ini."
"Do'a in aja hubungan kita berjalan lancar tampa masalah lagi Ma," pinta Salsa.
"Selalu sayang, Mama selalu do'a in yang baik-baik untuk anak Mama dan keluarganya. Oh iya, hari ini hari kematian Rio, kalau kamu ada waktu tolong kunjungi makamnya ya Nak, Mama ada operasi soalnya."
"Iya Ma, nanti Salsa ajak Azka sekalian. Salsa juga mau berterimakasih sama Rio yang banyak berkorban selama ini."
Lama berbincang-bincang, hingga Reni pamit untuk ke rumah sakit, sementara Salsa kembali ke kamar dan mendapati dua panggerannya sedang tidur dalam satu selimut.
Dia hanya bisa mengelengkan kepalanya, Angkara ada-ada saja, sudah wangi malah ikut tidur dengan Azka.
Karena tak ingin menganggu kedekatan ayah dan anak itu, Salsa memutuskan untuk membuat sarapan dan mengerjakan pekerjaan rumah lainnya.
Hari ini adalah wekend hingga mereka bisa menghabiskan waktu bersama.
"Semoga ini adalah akhir dari penderitaan aku selama ini," gumam Salsa dengan senyuman.
Dia sangat berharap, tidak ada lagi rintangan dalam rumah tangga mereka.
Terkadang cinta membutuhkan sedikit kesulitan agar bara api itu semakin berkobar.
Kata-kata di atas membukti apa yang di rasakan Azka dan Salsa selama ini. Cintanya selalu mendapat cobaan bertubi-tubi. Bukannya redup, cinta itu malah semakin berkobar di hati masing-masing.
...****************...
Ritual setelah membaca, kuy tebar kembang yang banyak biar wangi. Jangan lupa juga tekan tombol vote, like, fav dan ramaikan kolom komentar. Jika kalian sayang sama otor jangan lupa nonton iklan setelah baca ya, iklannya bisa di lihat di bar pemberian hadiahπ₯°πππππππΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Follow untuk melihat visual
IG: Tantye005
__ADS_1
Tiktok: Istri sahnya Eunwoo