
Azka senyum penuh kemenangan setelah melihat semua anggota datang membawa anggota Wiltar yang berhasil mereka temukan di jalan.
Lali-laki itu melirik anggota Wiltar yang kini berjejer mengelilinginya dalam kendali Avegas. Terakhir, Azka senyum miring pada Jery yang kini wajahnya penuh lebam juga darah kering.
Tujuan Azka mengumpulkan Anggota Wiltar untuk mempermalukan mereka semua, memperlihatkan, bahwa Avegas bukanlah tandingan yang pas untuk di lawan.
"Mana jaketnya?" tanya Azka dengan suara dinginnya.
Regan mendekat, kemudian memberikan konton lumayan besar yang berisi jaket kebanggan Wiltar. Azka mengelurkan semuanya tanpa ada yamg tersisi, menyiramnya dengan bensin lumayan banyak.
Jaket, bagi geng motor seperti mereka adalah harga dirinya, dan Azka akan membakar itu tepat di hadapan pemimpinnya langsung.
"Anj*ing lo Ka!" teriak Jery dengan sisa tenaga yang ada. Laki-laki itu sangat ingin menghajar Azka, tapi tubuhnya tak mampu lagi bergerak. Apa lagi di samping kiri juga tangannya, berdiri Samuel dan Keenan.
Azka tak mendengarkan, sibuk menyiram bensin pada jaket kebanggan Wiltar. Laki-laki itu mengambil korek di sakut calananya.
Mundur beberapa langkah, dan berdiri tepat di samping Jery mengantikan posisi Keenan.
"Gue beri lo penghargaan, lempar korek ini sendiri ke sana!" Azka menyerahkan korek pada Jery, seraya menunjuk tumpukan jaket berwarna hitam di tengah-tengah mereka.
"Apa yang kalian lakukan sialan? Balas mereka!" bentak Jery menatap para anggotanya yang diam saja tanpa melakukan apapun.
Mana mungkin anggota Wiltar berani melawan di saat-saat seperti ini. Markas mereka di serang, ketua telah di lumpuhkan di depan mata mereka sendiri, bekingan yang selama ini mendukung mereka menghilang tanpa jejak setelah membuat kekacauan.
Jika bertanya bagimana perasaan mereka, mak seluruh anggota Wiltar akan mengatakan.
Saya sangat marah dan merasa terhina!
Blam
Api langsung berkobar di tengah-tengah mereka ketika Azka melempar korek gas yang telah di nyalakan pada tumpukan jaket.
Para Anggota Avegas tertawa penuh kemenangan, melihat Wiltar yang dulunya menjadi raja jalanan, kini ciut layaknya anak ayam.
Dito dan beberapa Anggota lain, sengaja mengadakan siaran langsung atau sekedar mengabadikan momen berharga itu.
"Wih, bagus nih buat bakar-bakar ayam!" seru Rayhan.
"Yoi, kuy kita pesta malam ini," timpal Rikcy, semakin memanaskan suasana.
"Regan, hajar orang yang pernah buat lo koma!" perintah Azka.
Regan mengangguk, mendekati beberapa segerombolan anggota Wiltar yang tengah di ikat.
Karena tidak ada sejarahnya, Avegas memukul tanpa perlawanan, Regan menarik salah satu Anggowa Wiltar yang dia kenal paling bersemangat memukulinya di jalan, bahkan saat dia sudah terkapar.
Regan, melepaskan tali yang mengikat tangan laki-laki itu dan memukulnya.
Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, anggota Wiltar melawan Regan, hingga terjadi perkelahian antar keduanya.
Keduanya sama-sama terluka, tetap saja Regan menjadi pemenangnya.
"Ada lagi?" tanya Azka.
Malam ini laki-laki itu benar-benar membalas dengan sempurna, membiarkan anggotanya membantai orang-orang yang telah menyakiti mereka terlebih dahulu.
Setelah di rasa puas, Azka beralih lagi pada Jery, dia menunduk untuk menatap wajah mengenaskan itu.
"Dimana sepupu sok jagoan lo itu, hm?" tanya Azka.
Ciuh
__ADS_1
"Shitt!"
Azka mengusap wajahnya yang terasa basah karena air liur Jeri, tengannya mengepal hebat, siap melenyapkan Jery saat itu juga. Dia merasa di permalukan di depan semua Anggotanya.
Bugh!
Azka langsung memukul Jery sekuat tenaga, hingga bangku yang di duduki laki-laki itu oleng dan terjatuh kelanti.
Brak
Bugh
Krak
Kini bukan lagi Azka turun tangan, melainkan Samuel, karena emosi melihat ketuanya di rendahkan seperti itu.
Jery jatuh tak sadarkan diri, entah tulang bagian mananya patah karena keganasan Samuel. Laki-laki pemilik sabuk hitam itu, tak pernah main-main jika memukul seseorang, itulah mengapa dia selalu turun tangan di akhir, jika merasa lawannya sudah pantas di musnahkan.
"Masih hidup?" tanya Samuel pada Keenan yang memeriksa nadi Jeri.
"Masih."
"Baguslah, kita masih butuh dia."
"Cuci muka dulu pak Ketu!" Rayhan menyerahkan sebotol air meneral pada Azka.
Sebelum mereka benar-benar pergi, Anggota Avegas membuat Wiltar tak sadarkan diri.
***
Jam 10.35, barulah Azka sampai di rumah dengan membawa kresek indoapril di tangannya. Dia langsung menuju kamar, dan mendapatinya sangat gelap.
Sebelum ke kamar mandi, Azka meletakkan ponsel, kunci motor juga pesanan sang istri di atas meja.
Beberapa menit kemudian, Azka keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk, dia terkejut melihat kamar terang benderang, juga Salsa duduk di pinggir ranjang.
"Kirain udah tidur," ucap Azka berjalan mendekat dan langsung mengecup kening sang istri seraya mengusap rambutnya.
"Katanya jam sepuluh, tapi sekarang udah setengah 11," gumam Salsa memeluk pinggang sang suami.
Wanita itu sangat mengantuk, tapi tidak bisa tidur jika Azka belum pulang.
"Ya kan masih jam sepuluh sayang," balas Azka.
"Ngeles aja terus," gumam Salsa.
Azka tersenyum sangat manis. "Ngantuk banget pasti nungguin aku, sini tidur! Aku peluk."
Salsa mengeleng, rasa katuknya hilang tiba-tiba melihat dada juga wajah suaminya. Dia menyentuh dada bidang Azka yang memerah.
"Habis berantem kan kamu Ka, dada kamu merah gini, wajah kamu lebam-lebam."
"Iya, tapi nggak sakit kok, ayo tidur!" ajak Azka.
Laki-laki itu lebih dulu berbaring di ranjang, hanya menggunakan handuk. Dia menunggu Salsa menyusul, tetapi bukannya menyusul, wanita itu malah berjalan menuju lemari mengambil kotak p3k, kemudian naik ke ranjang.
Salsa duduk di samping Azka dengan wajah cemberut, dia paling tidak suka jika suaminya pulang-pulang luka seperti ini.
"Nggak usah di obatin kalau nggak ikhlas gitu," sindir Azka menahan perih di wajahnya ketika Salsa membersihkannya dengan Alkohol, lalu mengoleskan obat merah.
"Udah untung aku obatin, nggak biarin kamu kesakitan," ucap Salsa dengan nama ngedumel.
__ADS_1
"Gemes deh, Mamanya Kara kalau lagi marah kayak gini. Andai aja nggak ada tamu, udah aku terkam."
"Ssstttttt ... sakit sayang," rintih Azka ketika Salsa menekan lukanya sangat keras.
"Udah Sal, besok aja ngobatinnya, peluk aja dulu!" manja Azka.
Sebenarnya Azka tahu, bahwa Salsa sedang dalam mode marah, apa lagi wanita itu datang bulan.
"Ck, dibilang udah." Azka merebut kapas di tangan Salsa, membereskan isi kotak p3k, lalu menyingkirkannya, menarik wanitanya agar segera berbaring.
Dia sangat lelah, dan saat ini mengingikan pelukan hangat sang istri.
Cup
Cup
Cup
"Udah dong marahnya Sal, omelin aja deh aku. Ikhlas kok di omelin, daripada kamu cemberut gini."
"Aku nggak marah Ka, aku cuma khawatir, aku nggak suka kalau kamu terluka. Liat kamu terluka, hati aku ikut luka."
"Kamu udah janji sama Kara, nggak bakal buat aku nangis, tapi hampir aja kamu langgar, kalau saja nggak pulang dalam waktu setengah jam."
"Maafin aku Sal, janji setelah semua urusan aku selesai, aku bakal ngelepasin Avegas, dan hanya fokus sama kamu."
"Janji?" tanya Salsa penuh harap.
Wanita itu berharap, Azka bisa menepati janjinya untuk yang satu ini.
"Janji Mama, sayang."
"Dih, Geli."
...****************...
Ritual setelah membaca, kuy tebar kembang yang banyak biar wangi. Jangan lupa juga tekan tombol vote, like, fav dan ramaikan kolom komentar. Jika kalian sayang sama otor jangan lupa nonton iklan setelah baca ya, iklannya bisa di lihat di bar pemberian hadiahπ₯°πππππππΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Follow untuk melihat visual
IG: Tantye005
Tiktok: Istri sahnya Eunwoo
JUDUL: TERJERAT GAIRAH SANG PELAKOR
NAPEN: R. ANGELA
Rayana Hasianna, tidak pernah menyangka rumah tangga yang sudah dibina selama 2 dua tahun, harus kandas di tangan pelakor yang tidak lain adalah sahabatnya sendiri.
Rayana tidak pernah menyangka kalau sore itu dia akan melihat ranjang yang selama ini menjadi milik pribadinya bersama suami, harus digantikan oleh, Lani, sahabatnya sendiri.
Bertekad ingin membalas dendam atau menyelamatkan rumah tangganya, Ray memilih pura-pura tidak mengetahui perbuatan mesum kedua orang yang sangat dia sayangi itu.
Bagaimana kisah Ray? akankah hati yang sudah hancur berkeping-keping bisa ditata kembali?
Akankah Ray berhasil mendapatkan cinta suaminya lagi, atau memang takdir berkata lain?
"Aku mungkin bisa memaafkanmu, tapi tidak untuk melupakan, rasa sakit ini." - Rayana Hasianna.
__ADS_1