
"Mama!"
Baru saja turun dari mobil, Salsa sudah mendengar teriakan anak kecil, dia belum sadar kalau itu adalah suara Angkara. Karena Salsa mengira putranya akan pulang minggu depan.
"Mama!" Panggil Angkara sekali lagi, kini bocah kecil itu memeluk kaki Mamanya.
Terkejut? Tantu saja Salsa terkejut dengan kedatangan Angkara.
"Sayang?" kaget Salsa. "Pulang sama siapa?" Salsa berjongkok untuk membalas pelukan Angkara, tak lupa dia menciumi seluruh wajah Angkara.
"Sama Oma, katanya Mama kangen sama Kara, makanya pulang."
"Iya nak, Mama kangen banget sama Kara. Lain kali, jangan pergi kalau nggak sama Mama ya," ucap Salsa mengelus rambut Angkara.
Mungkin dia sedikit berlebihan menanggapi jika berpisah dengan putranya, tapi apa boleh buat, perasaan seorang ibu tak bisa di sembunyikan. Apa lagi Angkara putra pertamanya.
"Iya Mama." Angkara menganggukkan kepalanya.
"Oma mana?" tanya Salsa.
"Di dalam," balas Angkara.
Salsa hanya menganggukkan kepala, berdiri dan mengenggam tangan Angkara masuk kerumah untuk menemui mertuanya.
Sementara Azka, tersenyum bahagia melihat dua manusia kesayangannya. Dia mengekori Salsa dan Angkara setelah memarkirkan mobil dengan aman.
Sama seperti Salsa, Azka mencium punggung tangan Maminya sebelum duduk. Dia lebih memilih duduk di dekat Angkara, mengajak putranya bercerita banyak hal, sedangkan Salsa sibuk dengan Maminya.
"Katanya minggu depan Mi," ucap Salsa.
"Rencananya gitu, tapi ada yang udah kangen sampai nangis katanya, makanya Mami pulang," canda Tari, membuat Salsa malu.
Sudah bisa di pastikan siapa pelakunya.
"Kok nggak ngabarin mau pulang Mi? Kan Salsa bisa pulang cepat, atau Salsa yang jemput di bandara."
"Azka nggak biarin, Mami. Katanya biar jadi kejutan buat kamu."
***
Sepeninggalan Mertuanya, Salsa menyusul Azka dan Angkara yang kini bermain di ruang tamu. Dia mengeleng tak percaya melihat mainan baru lumayan banyak berserakan memenuhi ruangan.
Wanita berambut sebahu itu berkacak pinggang dengan wajah garangnya. Azka dan Angkara bukannya takut malah tertawa.
"Mama gemes deh," celetuk Azka. "Iya kan, bro?"
"Iya Papa, Mama gemes kalau lagi marah."
Keduanya kembali tertawa membuat Salsa ikut tertawa karena tidak tahan. Dia mendekat, lalu mengelitik pinggang Angkara hingga tertawa terpingkal-pinggkal.
"Ampun Mama hahahahaha ...."
"Sekarang udah berani ya sama Mama. Mentang-mentang ada yang belain."
"Papa tolong Kara!"
__ADS_1
Hap
"Penjahat tertangkap Bro," ujar Azka mengkap tubuh Salsa hingga berada di pangkuannya. Tanpa membuang kesempatan, Azka mencium pipi Salsa.
"Kok penjahatnya di cium, Pa?" tanya Angkara.
"Karena penjahatnya cantik, kita hukum pakai ciuman aja."
"Benarkah?" Angkara ikut mendekat dan mencium pipi sebelah kiri Mamanya. "Itu hukuman dari, Kara yey!" sorak Angkara.
Salsa tersenyum, rasa haru tiba-tiba dirasakannya. Keluarga yang selama ini dia idam-idamkan akhirnya terwujud, Angkara tertawa lepas karena bisa bermain dengan Papanya.
"Makasih udah kembali Ka," gumam Salsa.
Azka dan Salsa melonggo melihat Angkara yang tiba-tiba membereskan semua mainan yang berserakan. Bukan karena bocah kecil itu bisa membereskan semuanya sendiri, melainkan perasaan was-was di hati masing-masing.
Keduanya saling pandang.
"Udah beres Mama," ucap Angkara seraya menepuk tangannya.
Memang dari dulu, Salsa selalu mengajarkan pada Angkara agar membereskan mainan sendiri setelah bermain. Salsa selalu membiasakan Angkara mandiri, tapi bukan berarti dia memaksa putranya untuk mandiri, tidak.
Salsa akan mengajak bocah kecil itu melakukan sesuatu, bukan menyuruh. Karena anak kecil lebih banyak meniru di banding belajar untuk sesuatu hal yang baru.
Terutama anak laki-laki, yang lebih dominan menggunakan otak kanan di banding otak kiri. Itulah mengapa, lebih banyak anak laki-laki yang lebih kreatif dalam berkarya. Sementara anak perempuan lebih dominan menggunakan otak kiri, sehingga lebih cepat memahami dan belajar. Itulah mengapa, rata-rata anak perempuan lebih pintar.
Angkara manarik tangan Mama dan Papanya. "Ayo, kita buat dedek. Papa udah janji sama Kara buat dedeknya sama-sama!" ajaknya.
"Huh?" bingung Salsa. Dia sontak menatap sang suami.
"Kamu ngomong apa sama Kara, Ka?" tanya Salsa.
"Dia ngajak buat dedek bareng, karena nggak tau mau jawab apa, aku iya in aja biar cepat selesai."
"Urus sendiri, aku mau masak buat makan malam." Salsa segera melarikan diri, tak ingin terlibat di antara Papa dan anak itu. Biarkan kedua laki-laki cerdas berbeda generasi itu membuat eksperimen masing-masing asal tidak melibatkan dirinya.
"Papa, Mama mau kemana? Mau beli bahan-bahan dulu?" tanya Angkara dengan polosnya.
"Emang kue pakai bahan-bahan," batin Azka.
Sepertinya dia akan mendapat tekanan batin jika terus bersama Angkara. Jika salah menjelaskan, bukan hanya mendapat pertanyaan lain dari Angkara, tapi sudah di pastikan, macan betinanya juga akan mengomel tidak jelas.
"Kara, mau jalan-jalan sore nggak sama Papa?"
"Nggak mau Papa." Angkara mengeleng. "Kara maunya buat dedek!"
"Yassalam," gumam Azka.
Dia langsung mengendong putranya menuju kamar, akan berbisnis berdua saja tanpa di dengar oleh Salsa.
"Buatnya di kamar?"
"Duduk, dan dengerin Papa baik-baik bocil!" Azka mendudukkan Angkara di sofa.
"Buat dedek nggak boleh lebih dari dua orang, jadi Kara nggak boleh ikut."
__ADS_1
"Buatnya mudah, Papa?"
"Mudah banget sayang, enak malah. Tapi Kara nggak boleh ikut karena yang bisa buat cuma Papa sama Mama."
"Kenapa?"
"Ya karena nggak bisa."
"Kenapa nggak bisa Papa? Kara cuma pengen liat, nggak bantuin kok."
"Nggak bisa sayang." Azka mengacak-acak rambutnya, mulai frustasi karena Angkara.
"Tapi Kara pengen tau Papa. Nanti kalau Kara pengen Dedek lagi, nggak usah nyuruh-nyuruh Papa sama Mama, Kara buat sendiri. Kara 'kan anak pintar."
"Anjir, gini banget punya anak keponya kebangetan," batin Azka menatap wajah polos penuh penasaran di hadapannya.
"Papa sama Mama yang buat, Kara nunggu jadinya aja. Nggak ada pertanyaan lagi, atau Papa marah sama Kara!" ancam Azka.
"Tapi Papa ...."
"Anak kecil nggak boleh buat dedek, nanti kalau udah besar baru bisa."
"Kalau udah besar, Kara bisa buat Dedek sama Mama?"
"Kara, nggak gitu konsepnya Nak! Intinya Kara terima jadi oke. Sekarang kita temuin Mama di dapur!"
Angkara mengeleng. "Kara mau main mobil-mobil di depan. Papa mau balapan sama Kara?"
Azka bernafas lega, akhirnya Angkara tidak lagi mengajukan pertanyaan yang akan membuatnya frustasi.
"Kuy, bro. Kali ini Papa pasti menang."
"Nggak, pasti Kara yang menang."
"Papa dong."
"Kara!"
"Papa!
"Kara, Papa!" Angkara berkacak pinggang di atas sofa, menatap Azka seakan mengibarkan bendera perang.
"Lihat nanti lah."
"Kalau Kara menang, Papa nggak boleh tidur sama Mama!" teriak Angkara, setelah itu berlari sekencang mungkin keluar dari kamar.
...****************...
Ritual setelah membaca, kuy tebar kembang yang banyak biar wangi. Jangan lupa juga tekan tombol vote, like, fav dan ramaikan kolom komentar. Jika kalian sayang sama otor jangan lupa nonton iklan setelah baca ya, iklannya bisa di lihat di bar pemberian hadiahπ₯°πππππππΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Follow untuk melihat visual
IG: Tantye005
Tiktok: Istri sahnya Eunwoo
__ADS_1